
Zulaiha asisten rumah tangga pak Sumarto dan bu Adelia sangat terkejut mendengar suara mobil tengah malam berbunyi.
Cepat-cepat dia bangun keluar, didapati majikannya tidak ada dikamar tidurnya.
Ini majikan mau kemana? ya? Biasanya lapor dulu sama gua, guman Zulaiha menuju garasi mobil.
"Tunggu dulu! mau kemana sih!"
Zulaiha berdiri menghadang mobil yang berjalan dan hampir saja menabraknya. Sambil mengantuk dia menghampiri pintu sebelah kiri mobil.
Belum sempat dia bertanya, mobil sudah keburu pergi.
"E..., eh! jangan-jangan rampok ya?" seru Zulaiha curiga.
"Tolong..., rampok!" teriak Zulaiha.
Roman langsung keluar dari rumah orang tua Winda membawa mobil pak Sumarto dengan kencang sebelum orang-orang keluar.
Hadi membuntuti dari belakang, "Aku yakin yang membawa mobil itu antara Roman dan Nadira!" seru Hadi.
"Untuk apa! Mereka mencuri mobil itu!" tanya Lui heran.
"Mereka tidak mencuri mobil, melainkan menculik orang tua Winda dengan menggunakan mobil milik orang tua Winda!" timbal Hadi.
"Mari kita ikuti saja mereka!" lanjut Hadi.
Tidak beberapa lama terdengar suara mobil polisi dibelakang Hadi.
"Ada polisi!" kata Lui.
"Kita harus melakukan sesuatu untuk menghambat mereka!" kata Hadi.
"Jangan buat polisi curiga kalau kita menghambat mereka!" pinta Lui.
"Aku akan menghalangi polisi dengan meliuk-liukan mobil, kalau kita ditanya bilang kita sedang bertengkar!" ucap Hadi.
"Pura-pura pacaran!" sambung Lui.
"Iya!" jawab Hadi.
Roman semakin membawa kencang mobil yang dikemudikannya, dia berpikir mobil dibelakangnya sedang mengejarnya.
"Aneh! kayaknya mobil dibelakang sengaja menghalangi lajunya mobil polisi!" ucap Nadira sambil terus menoleh kebelakang.
"Apa Mereka berdua sudah sadar?!" tanya Roman.
"Belum!" sahut Nadira.
"Mobil dibelakang masih mengejar kita!" tanya Roman lagi.
"Kayaknya sudah tidak ada!" sahut Nadira kembali setelah terlihat dibelakang memang tidak ada tanda-tanda ada mobil yang mengejar.
Sementara Hadi yang menghalangi mobil polisi sudah dihentikan oleh polisi.
"Ku minta menghadap kebelakang dan angkat kedua tangan kalian!" pinta polisi Briptu Domi.
__ADS_1
Hadi dan Lui mengangkat kedua tangannnya dengan memutar tubuhnya menghadap mobil membelakangi Briptu Domi.
Tidak lama kemudian Ipda Tina sudah ada disamping Briptu Domi yang memeriksa tubuh Hadi, ikut memeriksa tubuh Lui.
Kemudian datang lagi Bripka Anton dan Bripka Roya. "Balik badan kalian dengan posisi tangan tetap di atas!" pinta Bripka Anton.
Hadi memutar kembali badannya mengikuti perintah polisi.
"Loh! Pak Hadi!" sapa Bripka Anton terkejut.
"Ini pak! pacar saya Marah-marah!" ucap Hadi mencoba memberi alasan.
"Siapa mereka pak!" tanya Ipda Tina.
"Bapak ini salah satu bos besar Satria group!" jawab Bripka Anton.
"Aku pikir penjahat!" ucap Ipda Tina.
"Memang saya ada tampang penjahat!" seru Hadi.
"Penjahat banyak juga keren pak!" timbal Tina.
"Maafkan saya bu! mobil saya jalannya meliuk-liuk karena pacar saya ini!" kata Hadi menunjuk Lui.
"Bapak tahu! Kesalahan bapak!" tanya bu Tina.
"Apa? kesalahan saya!" tanya balik Hadi.
"Kamu telah menghalangi polisi mengejar perampok!" jawab Ipda Tina.
"Mobil yang didepan saya tadi perampok!" tanya Hadi berpura-pura.
"Sekarang kalian berdua naik mobil polisi!" perintah Ipda Tina kepada Hadi dan Lui.
"Bu..., ini pasti salah paham bu, kami tidak melakukan kesalahan apa-apa!" kata Hadi memohon pada Ipda Tina.
"Nanti dikantor bapak buktikan diri bapak tidak bersalah!" ucap Ipda Tina.
Hadi dan Lui tidak bisa berbuat apa-apa selain harus mengikuti permintaan polisi.
Sebenarnya Lui sedikit kesal karena tidak dapat pergi membebaskan kakaknya.
Namun diapun harus melindungi keponakannya agar tidak ditangkap polisi.
Satu-satunya jalan, dia harus minta bantuan Restu dan pak Rifky agar dia dapat dibebaskan malam ini juga.
...----------------...
Roman dan Nadira telah sampai ketempat pak Saipul dan pak Mansur yang menunggu. Dengan cepat mereka berempat memindahkan pak Sumarto dan bu Adelia yang hampir saja siuman.
Setelah mobil bergerak melintasi jalan raya pak Sumarto dan bu Adelia mulai tersadar. mereka meronta-ronta didalam mobil yang melaju dengan kencang.
"Aku dimana? Ini!" teriak bu Adelia yang belum sadar dirinya diculik.
"Kita di culik bu!" kata pak Sumarto memberitahu istrinya.
__ADS_1
Bu Adelia sangat terkejut mendapati dirinya terikat dengan mulut tersumpal didalam mobil. Dia meronta-ronta dan berteriak.
"Diam kalian diam!" bentak pak Mansur melototi pak Sumarto dan bu Adelia.
"Kenapa kalian menculik kami!" teriak bu Adelia.
"Nanti kalian akan tahu sendiri!" jawab pak Saipul yang menjaganya.
Ada ketakutan dalam diri bu Adelia yang tiba-tiba tubuhnya terikat dengan mulut tersumpal. Dia berpikir orang-orang yang menculiknya ini adalah penjahat yang minta tebusan banyak.
Dalam hati dia memohon kepada yang kuasa agar dilindungi dan cepat terbebas.
Sedang Winda yang dihubungi Zulaiha sangat panik dan terkejut mendengar kabar tentang kedua orang tuanya diculik.
Winda tidak berpikir bagaimana sedih dan hancurnya keluarga bu Marisa yang diculik, dia hanya memikirkan dirinya sendiri.
Darahnya panas membara, ingin mencabik-cabik orang yang menculik kedua orang tuanya.
Ghazan yang tidur nyenyak disampingnya tersentak kaget ketika dia berbalik tidak didapati Winda didekatnya, dia mendapati Winda sedang duduk menangis dipinggir dipannya.
Mereka tiap malam tidur seranjang, padahal mereka tidak terikat pernikahan resmi. Lalu berharap ingin mendapatkan orang kaya seperti Roman.
"Sayang..., ada apa! Kenapa kamu menangis?" tegur Ghazan heran tidak habis pikir.
"Katakanlah! Aku juga harus tahu!" kata Ghazan lagi membujuk Winda agar membuka mulutnya.
"Kedua orang tua saya diculik!" ucap Winda sambil terisak-isak menangis.
"Apa? Ibu bapakmu diculik?" seru Ghazan dengan keras hingga mengagetkan semua anak buahnya yang sedang berjaga-jaga diluar.
🔥🔥🔥
Kita beralih kekantor polisi tempat Hadi dan Lui ditahan. Hadi dan Lui langsung dibebaskan malam ini juga berkat bantuan Restu dan pak Rifky yang datang langsung malam ini mengurus mereka.
Sesampai diluar Hadi dan Lui langsung diberondong pertanyaan oleh pak Rifky.
"Tengah malam begini, kalian pacaran!" ucap pak Rifky memarahi Hadi dan Lui.
"Pak! Mereka tidak pacaran!" bisik Restu pelan kepada pak Rifky.
"Buat apa mereka berdua malam-malam begini!" pak Rifky menatap Restu.
"Pak! Dengarkan saya! Kami tadi sengaja menghalangi polisi untuk menyelamatkan Roman dari kejaran mereka!" jelas Hadi.
Pak Rifky langsung memandang Hadi dengan serius tanpa berkedip. Kemudian dia menarik tangan Hadi naik kedalam mobil agar pembicaraannya tidak didengar polisi.
Sesampai didalam mobil pak Rifky langsung melontarkan pertanyaan kepada Hadi. "Benar! Tadi kamu menyelamatkan Roman!" tanya pak Rifky.
"Iya! Benar!" jawab Hadi.
"Kenapa! Polisi mengejar Roman!" tanya pak Rifky.
"Polisi mengira Roman anak Jalanan! Jadi..., ketika aku melihat Roman lari tidak mau ditangkap! Aku menghalangi mereka!" ungkap Hadi membohongi pak Rifky.
Pak Rifky tentu percaya apa yang diceritakan Hadi, karena Hadi merupakan orang kepercayaannya.
__ADS_1
💜💜💜💜💜
BERSAMBUNG.