PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE TUJUH BELAS: PERTARUNGAN BERDARAH.


__ADS_3

"Kamu belum mengenalku, sebelum menyesal. sebaiknya kamu tidak mencampuri urusanku!" bentak Ghazan memperingati Hadi.


"Tapi, aku mengenalmu!" timbal Nadira dengan mata tajam kearah Nadira.


"O, iya.... Benarkah!" ejek Ghazan menggoyangkan kepalanya seakan-akan tidak percaya.


"Kau adalah Ghazan, di tubuhmu mengalir darah India dan Pakistan serta kau memang terbiasa dibayar untuk membunuh orang!" sambung Nadira membuka identitas Ghazan.


Darah dingin bergejolak dalam tubuh Ghazan. Dari mana gadis yang diburu ini mengenal dirinya.


"Ha ha ha..., tentu saja kamu mengenalku, siapa tidak mengenalku ditempat ini. Semua orang mengenalku disini!" timbal Ghazan tertawa sombong.


"Hari ini kamu akan kutangkap dan kuserahkan hidup-hidup ke negara asalmu untuk di eksekusi hiyaaat!" Nadira langsung menerjang Ghazan.


Sebuah gerakan salto ringan dan manis datang menghadang terjangan Nadira. dua kaki milik sama-sama perempuan beradu diudara dan dua-duanya mendarat manis di atas tanah.


Sementara itu, Ghazan yang mendapat serangan dari Nadira yang di patahkan oleh Winda memikirkan pernyataan Nadira.


"Hari ini kamu akan kutangkap dan kuserahkan hidup-hidup ke negara asalmu untuk dieksekusi!" pernyataan itu sedikit menggoyahkan pikiran Ghazan. Dan penasaran siapa sebenarnya Nadira.


Ghazan memperhatikan bentuk wajah Nadira yang berbeda dengan orang kebanyakan, berpikir kalau Nadira bukanlah asli orang pribumi. ini berarti Nadira juga pendatang seperti dirinya.

__ADS_1


Kita tinggalkan sementara Nadira yang hendak ditangkap oleh Ghazan dan kawan-kawannya menuju Roman yang membawa Morrin ke apartemennya.


Barusan dia mendapat telpon dari Hadi, agar berhati-hati. Sebab saat ini mereka sedang dikejar oleh orang-orang suruhan Toni.


Toni baru saja menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi Nadira. Dan saat ini mereka sedang bertarung habis-habisan.


Roman tidak tega melihat Nadira dan Hadi yang sedang bertarung habis-habisan mempertahankan nyawanya dari pembunuh bayaran yang disewa Toni.


Ada saja halangan dan batu terjal yang dilalui pada saat-saat membahas rencana pertunangannya.


Tapi, Roman berusaha menyembunyikan kendala yang dihadapi agar Morrin tidak ikut kepikiran.


Yang dipikirkan Roman adalah alasan apa yang akan diutarakan untuk membantu Nadira dan Hadi.


Tidak ada perasaan apa-apa mengganjal di hati Morrin. sebab saat ini dia sedang bahagia. Mereka berdua baru saja telah membahas pertunangan mereka.


"Iya sayang!" balas Morrin menatap mata Roman yang sepertinya masih ada akan di sampaikan.


Tapi, Morrin tidak memikirkan itu. Dia tetap hanyut dalam dekapan dada Roman yang lebar.


"Aku kan belum mengenal suasana keadaan sekeliling apartemen ini. Sepertinya aku ingin melihat-lihat tempat ini!" ucap Roman sambil mengelus-elus rambut Morrin dengan telunjuk tangan kanannya.

__ADS_1


"Lho..., ini kan apartemen mu!" tatap Morrin mengangkat kepalanya memandang Roman.


"Betul, ini apartemen ku. Tapi yang ngurus dan membangun apartemen ini adalah Nadira!" jelas Roman balas memandang Morrin dan dua mata kembali beradu.


"Apalagi apartemen ini selesai empat bulan yang lalu. Dan aku masih berada di Amerika!" sambung Roman menjelaskan Morrin.


"Lalu..., apakah kedua orang tuamu tahu kamu membuat apartemen ini." tanya Morrin.


"Apartemen ini ku buat tidak sepengetahuan siapapun kecuali mereka berdua Hadi dan Nadira!" jawab Roman.


"Sengaja ku buat untuk tempat kita bertemu!" tambah Roman menjelaskan Morrin.


"Karena aku tidak disukai orang tuamu kan...," sindir Morrin.


Roman tidak menjawab sindiran Morrin karena takut nanti jawabannya malah membuat hati Morrin kecewa.


"Baiklah Ku Tinggal sebentar dan kamu tidak boleh kemana-mana!" pinta Roman berdiri hendak meninggalkan Morrin.


"Kemana?" tanya Morrin.


"lihat suasana apartemen ini!" jawab Roman.

__ADS_1


"Ikut...!" pinta Morrin bangkit berdiri dari tempat duduknya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2