
Roman merasa tidak enak meninggalkan Nadira sendirian di rumah sakit. Tapi dia harus mengantar Morrin pulang.
"Kami pergi dulu, aku pasti balik secepatnya!" kata Roman pamit kepada Nadira.
"Kamu tidak usah buru-buru, santai saja. Biar aku yang mengurus Hadi!" ucap Nadira memperingatkan Roman.
"Tapi kamu...," belum Roman selesai bicara Nadira memotong ucapannya,
"Sudahlah, nanti ku suruh pegawaiku membantuku!" potong Nadira cepat.
Mau tidak mau Roman pun harus pergi meninggalkan Nadira Sendirian di rumah sakit.
"Rom, tadi kamu keluar melihat-lihat keadaan apartemen kok lama banget!" tanya Morrin curiga pada Roman yang berjalan disamping kirinya keluar menuju mobil.
"Iya, aku lama karena Hadi menghubungi aku kalau mobilnya di buntuti orang!" jawab Roman merahasiakan kepergiannya membantu Nadira dan Hadi bertarung melawan Ghazan dan anak buahnya.
"Kenapa? Sampai Hadi terluka!" tanya Morrin yang masih belum tahu kenapa Hadi berada di rumah sakit.
"Dia bertarung dengan orang yang membuntuti mobilnya!" jawab Roman sambil membukakan Morrin pintu mobil, lalu berjalan pindah ke sebelah.
Morrin masuk ke dalam mobil disusul Roman. mobil bergerak meninggalkan rumah sakit.
"Kenapa? Orang-orang itu membuntuti mereka!" tanya Morrin ingin tahu.
__ADS_1
"Aku masih kurang jelas, nanti kutanyakan kepada Nadira?!" jawab Roman.
Morrin merasa iba melihat keadaan Hadi. Ingin rasanya dia masih lama di rumah sakit tapi bapaknya memintanya pulang.
Sekarang mereka tiba disebuah rumah kontrakan kecil, rumahnya Morrin dan kedua orang tua beserta adik-adiknya.
Kedua orang tua Morrin menyambut mereka dengan baik walaupun seharian pergi.
"Assalamualaikum...," sapa Roman menyalami kedua orang tua Morrin dengan santun.
Kedua orang tua Morrin tahu Roman adalah orang terhormat yang memilki kedudukan dan kekayaan di Jakarta. Tapi, yang membuat bapak Morrin kagum adalah Roman memiliki sifat rendah hati, sopan dan ke Solehan imannya.
"Wa alaikumsalam, ai..., Roman. Udah berapa tahun tidak melihatmu!" sapa pak Imran penuh kagum.
Itulah yang membuatnya bertahan walau mendapat tentangan dari keluarga Roman.
Yang di pandang pak Imran adalah bukan harta yang di miliki Roman. tapi iman yang begitu sempurna di matanya.
Sudah seringkali pak Imran dengan tidak sengaja menjadi makmumnya ketika sholat berjamaah.
Setiap ayat-ayat yang di bacakan sering membuat seluruh jamaah sholat hanyut sampai tak kuasa menahan air mata. Saking indah dan bagus bacaan ayatnya.
Belum lagi kalau Roman memberi tausiah. Ketika mengulas qur'an dan hadits langsung masuk, cepat diterima dan dipahami.
__ADS_1
Saat pak Imran tahajjud di tengah malam, tiada hentinya dia memohon kepada Allah agar putrinya bisa di jodohkan dengan laki-laki yang beriman seperti ini.
"Hampir tiga tahun pak!" jawab Roman.
"Aku kangen sekali sama kamu nak!" timbal Bu Sri ibunya Morrin.
"Sama ma..., aku juga kangen kalian semua!" sahut Roman.
"Itulah sebabnya saya pulang cepat. Ketika saya datang kesini tak ada siapapun. Untung Morrin ada di rumah!" lanjut Roman menjelaskan.
"Morrin menceritakan kepulanganmu. Kalau aku tahu kamu pulang, aku pasti minta izin tidak masuk kantor!" ucap Bu Sri terlihat tampak senang.
"Oh ya bagaimana kabar bapak dan ibumu!" tanya pak Imran mencairkan suasana karena terlihat Roman tampak kaku dan malu.
"Mereka semua baik-baik saja pak!" jawab Roman sambil memikirkan Nadira yang sendirian di rumah sakit.
Mau minta pamit pergi rasanya tidak enak. Karena kedua orang tua Morrin baru saja bertemu dia.
Kedua orang tua Morrin
tampak senang dan happy melihatnya, mereka baru saja bertemu setelah sekian tahun tidak berjumpa.
BERSAMBUNG.
__ADS_1