PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE DELAPAN PULUH TIGA: MENEMPATI RUMAH MEWAH.


__ADS_3

Pada sebuah rumah besar dan mewah yang terletak pada deretan gedung-gedung tinggi. Orang tidak akan mengira kalau itu adalah sebuah rumah.


Seorang laki-laki tua, tapi masih kuat dan tegar berdiri dengan handphone ditelinganya sedang menelpon pak Kimin yang mengurus rumah pak Imran.


Pak Rifky berdiri dekat gardu satpam belakang gerbang halaman rumahnya.


"Halo pak!" timbal pak Kimin menerima panggilan pak Rifky bosnya.


"Iya pak Kimin, pak Imran sudah menempati rumah itu kan?" tanya pak Rifky pada pak Kimin yang diberi tugas untuk melayani pak Imran dengan baik sesuai permintaan puteranya.


"Iya pak! Saya sudah beri dia kunci rumah dan kunci mobilnya!" jawab pak Kimin memberi laporan pada bosnya.


"Kamu kerja baik-baik di situ ya? Dan kalau ada apa-apa cepat hubungi aku?" pinta pak Rifky dengan bahasa yang baik.


"Ya, pak ya?!" timbal pak Kimin.


Pak Kimin dan Sukini isterinya segara masuk kedalam, dilihatnya pak Imran, istri dan anak-anaknya duduk di sopa. Sementara tas dan koper masih didekat mereka.


"Pak..., bu! apa tas dan kopernya saya masukkan ke kamarnya!" tanya pak Kimin pada pak Imran.


"Oh, ya pak! Bapak namanya siapa?" tanya Nilam.


"Maafkan saya iya non..., saya lupa memperkenalkan diri!" timbal pak Kimin sedikit merendahkan tubuhnya.


"Nama saya Kimin dan ini istri saya bernama Sukini," sambung pak Kimin langsung memperkenalkan diri dan isterinya.


"Pak! Ini tas dan yang ini koper saya masukkan ke kamar itu ya?" tunjuk Nilam kearah kamar yang baru saja di lihat dan sekarang sudah tertutup secara otomatis tanpa di ketahui Nilam.


"O..., yang itu ya non Nilam. Apa non Nilam sudah tahu cara masuk ke kamar itu?!" tanya pak Kimin ingin tahu.


"Maksud pak Kimin!" tanya Nilam balik.


"Maksud saya..., ayo ikuti saya!" kata pak Kimin mengajak Nilam. Sampai di depan kamar yang di inginkan Nilam, pak Kimin menunjuk sebuah cermin besar berukuran dua ratus kali seratus enam puluh.


Dibalik cermin unik dan mengagumkan itu terdapat dua pasang pria dan wanita saling bertatapan mesra. Tapi Nilam belum melihatnya.


"Maksud saya yang ini non!" ucap pak Kimin menunjuk cermin didepan mereka.


"Kenapa dengan cermin ini pak!" tanya Nilam bingung.


"Maksud saya di dalam inilah tempat kamar tidurnya." ucap pak Kimin menjelaskan Nilam.


"Tadi waktu saya masuk tak ada cermin ini?!" seru Nilam bingung.

__ADS_1


"Ketika Nona tiba sekeluarga, aku telah membuka kamar ini dan kamar ini akan terbuka dan tertutup secara otomatis!" timbal pak Kimin lagi menjelaskan cara kerja pintu kamar didepan mereka.


"Rumit ya?" seru Nilam.


"Tidak nona! Pintu ini didesain seperti ini agar orang lain tidak bisa keluar masuk kamar ini. Kecuali nona!" timbal pak Kimin.


"Kalau nona mau masuk! Nona tinggal berdiri pada bunderan berbentuk bola ini. Lalu..., dorong...," kata pak Kimin menjelaskan Nilam cara kerja pintu kamar yang di inginkan Nilam.


"Wao...," seru Nilam terperanjat kagum dengan terbukanya cermin.


Didalamnya terdapat tempat tidur yang terbuat dari besi aluminium yang di desain begitu indah. Diatas dipan terdapat kasur dan selimut yang mahal yang di datangkan dari Mesir.


"Tempat ini mulanya akan di gunakan oleh tuan besar dan isterinya!" tutur pak Kimin menjelaskan Nilam.


"Tuan besar itu siapa?" tanya Nilam.


"Tuan besar itu adalah Roman putera pak Rifky!" jawab pak Kimin.


"Oh!" Nilam terpukau mendengar penjelasan pak Kimin dan terbayang di matanya seandainya kakaknya masih hidup dia akan bergelimang kebahagiaan.


Sekarang baru Nilam mengerti, ternyata rumah ini di bangun untuk bulan madu kakaknya Morrin dan Roman. Rumah besar yang indah dan mewah, siapapun pasti berdecak kagum.


Setelah Nilam dan pak Kimin masuk kedalam kamar tersebut, kamar itu tertutup kembali.


Lalu pak Kimin menjelaskan semua cara kerjanya perangkat ruangan kamar tersebut, sebab selain kamar itu, masih banyak lagi perlengkapan ruangan yang perlu Nilam ketahui cara kerjanya.


Nilam terkagum-kagum melihat cara kerja ruangan kamar orang kaya.


Sekarang Nilam sudah merasa berubah hidupnya, hidup dirumah kontrakan kecil ke rumah besar yang mewah dan Indah.


Yang menjadi pertanyaan didalam hatinya mengapa? Kedua orang tuanya tidak mau atau terlihat enggan menerima pemberian ini.


"Sekarang Nona sudah paham kan? Apa ada yang mau di tanyakan lagi?!!" tanya pak Kimin.


"Sudah cukup! Lain waktu kalau..., ada yang tidak saya ngerti..., akan saya tanya!" jawab Nilam.


"Kalau begitu, saya panggil istri saya untuk membereskan semua milik nona!" kata pak Kimin beranjak pergi memanggil istrinya.


SKIP


--------------


ZALU sudah hampir sampai kerumah Winda dari pasar dengan membawa Oleng yang di temui di pasar.

__ADS_1


Sesampai di rumah Winda, Oleng langsung menemui Barra yang masih berbaring sakit di kamar belakang akibat hantaman kayu dari Restu.


"Selamat siang Bar!" sapa Oleng.


"Selamat siang, eh elu Ol. Di mana Zalu ketemu lu...," tanya Barra melihat kedatangan Oleng.


"Ketemu di pasar!" sahut Oleng berdiri didepan Barra. Oleng sedikit sedih juga melihat keadaan Barra.


"Gimana? Teman-teman yang lain!" tanya Barra pingin tahu.


"Semuanya kena angkut, kecuali aku. Alhamdulillah berhasil lolos dari sergapan polisi!" tutur Oleng menceritakan Barra singkat.


"Bos tahu? Kamu ada disini?!" tanya Barra.


"Belum! Mungkin lagi istirahat!" timbal Oleng bergeser ke kanan dan duduk di kursi samping Barra yang berbaring.


Barra merasa senang ada temannya yang masih bisa selamat dan dapat berkumpul kembali. Apalagi ketika dalam keadaan sakit ada yang melihat dan memberi semangat.


"Kamu sekarang tinggal di mana!" tanya Barra.


"Numpang di rumah teman!" sahut Oleng.


"Mulai sekarang tinggallah di sini, kita kumpul lagi" pinta Barra menyuruh Oleng.


"Janganlah...," tolak Oleng.


"Kenapa?" tatap Barra.


"Tidak enak sama Winda dan kedua orang tuanya. Kalau kita ramai-ramai disini..., bisa membuat orang lain curiga!" jawab Oleng memberi alasan.


"Iya juga sih!" sahut Barra.


"Tapi tidak apa-apa, aku akan tetap kesini. Siapa tahu bos butuh bantuan saya!" ucap Oleng.


Setelah cukup lama bincang-bincang, Oleng minta pamit pulang. Oleng di antar Zalu menyetop taksi, didalam taksi Oleng langsung memberitahu Nadira.


"Bos! Sekarang aku tahu persembunyian Winda dan anak buahnya dan aku baru saja pulang dari tempat mereka!" kata Oleng memberi laporan penemuannya.


"Bagus! Kerja yang bagus! Ikuti arahan saya dan ada hadiah besar yang akan kuberikan padamu kalau kerjamu bagus!" kata Nadira menjanjikan agar Oleng betul-betul bekerja dengan bagus.


"Iya bos! Iya, saya akan tunggu apa yang di minta dan di arahkan!" jawab Oleng senang


Ini baru kerja..., penghasilannya ada? Tidak seperti kerja di tempat mereka..., hanya dapat makan doang..., ucap Oleng dalam hati sambil berkhayal.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2