PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE TUJUH PULUH LIMA: CHAT TERAKHIR.


__ADS_3

Toni sangat kecewa dengan cara kerja anak buahnya yang mengawalnya, terutama Yayan. Yayan yang sudah lama bersamanya seharusnya lebih memahami,


"Kamu seharusnya bisa memberikan arahan kepada mereka, Jika ada gadis yang takut. Jadinya Nilam kabur ketakutan!" ucap Toni menyalahkan Yayan.


"Aduuuh Toni, udah kakaknya kau buat terbirit-birit, sekarang adiknya kau buat kabur!" timbal Yayan. Malah semakin membuat Toni berang.


Yayan tidak sadar dengan ucapannya, mulutnya nyosor saja tanpa pikir dulu. Membuat Toni tambah murka,


"Apa kamu bilang? Seharusnya ku biarkan kamu di dalam sel, biar jadi santapan barra!" tatap Toni.


"Maaf Ton..., sorry!" timbal Yayan menundukkan kepalanya tidak berani memandang Toni.


"Pokoknya, tak pernah ada benarnya kamu kerja!" seru Toni.


"Dengar kalian semua! Ingat iya! Sekali lagi ingat, kata-kata saya ini. Bila saya sedang deketin cewek? Kalian menjauh..., paham!" lanjut Toni kepada semua anak buahnya terutama Yayan.


"Paham..., bos!" jawab mereka semua.


Sedang Nilam yang kabur tadi sekarang sudah sampai dirumahnya, bersama pak Rifky. Nilam dan Hakim berlari kecil masuk kerumah memberi tahu kedatangan pak Rifky.


Pak Imran dan Bu Sri keluar menyambut pak Rifky, "Assalamualaikum!" sapa pak Rifky begitu melihat pak Imran dan istrinya keluar.


"Wa'alaikumussalam! Mari masuk pak!" jawab pak Imran menyambut dan mempersilahkan pak Rifky masuk.


"Mari pak! Terima kasih pak..., mau mampir di rumahku!" ucap pak Imran dengan wajah malu dan terharu.


"Iya, pak! Mulai hari ini sampai kapanpun juga, pak Imran dan seluruh keluarga harus sering-sering silaturahmi berkunjung datang ke rumahku juga! Tidak boleh tidak, harus!" timbal pak Rifky meminta pak Imran dengan tegas.


Di dalam Nilam diam-diam nguping pembicaraan kedua orang tuanya dengan pak Rifky dari dalam balik dinding tembok ruang tamu dengan kamarnya yang dulu ditempati almarhumah Morrin dengan dada deg degan.

__ADS_1


"Ada hal penting yang mau ku bicarakan, juga Nilam harus duduk disini bersama-sama untuk mendengarkan apa yang akan aku utarakan!" ucap pak Rifky.


Dada Nilam semakin berdebar-debar mendengar ucapan pak Rifky dari balik dinding kamar Morrin. Denyut jantungnya semakin lama, semakin tak kuat rasanya dia menahannya.


Sekiranya pak Rifky mau menjodohkan dirinya dengan Roman mantan kekasih kakaknya, takkan mungkin ku tolak. Laki-laki cool dan tampan bagaikan ketampanan nabi Yusup.


"Sebenarnya, sejak beberapa hari yang lalu hal ini akan ku sampaikan. Tapi, karena keadaan waktu itu akhirnya aku tunda!" lanjut pak Rifky mengutarakan maksudnya.


Nilam tambah tidak karuan perasaan hatinya mendengar pak Rifky.


"Aku belum mengerti, pak! Apa yang bapak maksud!" kata pak Imran belum paham maksud pak Rifky karena pak Rifky memang belum menjelaskan maksudnya.


"Begini, langsung saja ke pokok persoalannya!" kata pak Rifky mulai akan mengutarakan maksudnya.


"Sebelum ke pokok persoalannya, panggil dulu Nilam!" pinta pak Rifky.


Nilam Pun datang dan duduk di samping ibunya setelah di panggil mendengarkan pak Rifky.


"Aku tak dapat menyampaikan kepadamu karena aku takut kamu salah paham, dan agar kamu jangan salah paham. Ini chat terakhir di kirim Roman!" ucap pak Rifky menyodorkan dan memperlihatkan isi chat Roman.


Pak Imran tidak dapat berbicara apa-apa setelah membaca chat yang di kirim kepada kedua orang tuanya.


"Aku harus menuruti permintaan puteraku satu-satunya dan kamu harus menerimanya" tatap pak Rifky memandang pak Imran serius.


"Aku ikhlas, pak Imran. Sungguh kami ikhlas, Marisa terus mendesak ku agar aku menyampaikan ini. Marisa benar-benar menyesal telah membentangkan jurang pemisah hubungan mereka. Sekiranya kamu menolak permintaan kami. Maka kemungkinan besar penyakit yang di derita Marisa akan semakin parah!" ucap pak Rifky mengakhiri ucapannya dengan menunduk sedih.


Chat terakhir yang di kirim Roman kepada kedua orang tuanya sebelum morrin wafat.


Roman membangun sebuah rumah mewah lengkap dengan isinya. Satu buah mobil mewah berwarna merah untuk dirinya dan satu buah mobil mewah untuk Morrin yang bakal jadi istrinya.

__ADS_1


Roman meminta bapaknya untuk menghadiahi rumah beserta dua mobil mewah itu kepada kedua orang tua Morrin.


Apabila permintaannya dilalaikan atau tidak di hiraukan oleh kedua orang tuanya, Roman memberi ancaman berupa kekecewaan yang membuat dirinya semakin menderita.


"Aku tak mau mengecewakan putraku, kamu harus menerima pemberiannya. Marisa sadar kalian pantas mendapatkannya, karena kalian adalah orang baik-baik!" ucap pak Rifky tulus.


"Harta yang kumiliki ini adalah titipan dari Allah. Jadi apa yang kumiliki sekarang semuanya hak Allah, Allah bisa saja mencabutnya kapan saja Allah mau karena itu semua milik Allah!" ucap pak Rifky dengan sadar.


Mendengar petuah dan nasehat pak Rifky. Pak Imran pun menerima pemberian Roman. Dirinya bukan rakus harta, Rizki itu sudah ada yang ngatur. Ini menyangkut nama baik, tidak menerima pemberian orang begitu saja.


Melihat chat yang di tulis Roman untuk orang tuanya. Pak Imran jadi tidak tega, karena ini demi kebahagiaan putra satu-satunya. Apalagi di sana tertulis ancaman yang sangat ditakuti oleh pak Rifky dan ibu Marisa.


Bukan ancaman kekerasan. Tapi ancaman kekecewaan yang bisa berakibat patal bagi kebahagiaan putranya. Harta bisa di cari tapi kesehatan sulit di temui obatnya.


"Baiklah pak! Aku menerimanya demi Roman. Aku juga tidak tega menolak pemberian Roman. Lalu kenapa Nilam harus ikut andil dalam pembicaraan ini?" tanya pak Imran yang menerima pemberian pak Rifky.


Mendengar pertanyaan pak Imran. Pak Rifky memandang Nilam dengan seksama, membuat Nilam tambah deg degan tak karuan.


"Pak Imran! Mulai besok Nilam sudah harus ikut mengendalikan perusahaan Satria Corp!" ucap pak Rifky.


"Hah!" Nilam terperanjat kaget mendengar pernyataan pak Rifky. Dirinya di masukan sebagai salah satu karyawan perusahaan Satria Corp. Perusahaan besar yang namanya tidak kalah hebatnya.


Untuk sementara ada beberapa yang sudah junior atau yang sudah pakar untuk di tugaskan membimbing atau mengawasi dalam mengajarkan Nilam mengendalikan perusahaan.


Alhamdulillah aku tidak perlu susah-susah cari kerja, guman Nilam dalam hati. Aku memiliki bawahan yang malah akan men training aku untuk mengendalikan perusahaan. Aduh, senangnya pikir Nilam dalam hati.


Tadinya Nilam berkhayal akan di jodohkan dengan Roman. Ternyata dia mendapatkan pekerjaan yang tidak terpikirkan sama sekali.


Banyak orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang di inginkan. Tapi ini rezeki yang datang tak disangka-sangka

__ADS_1


Mendapatkan rumah mewah beserta isinya, di tambah dengan dua mobil mewah dan memperkerjakan putrinya pada perusahaan yang tidak sembarangan orang bisa bekerja di perusahaan milik pak Rifki


BERSAMBUNG.


__ADS_2