
Restu terus menerus mendesak Hadi agar beristirahat. Karena dia terlihat lelah sekali sampai Hadi mengiyakan Restu,
"Hm..., baiklah aku pulang istirahat!" ucap Hadi. Dadanya terasa sesak saking lelahnya.
"Tunggu dulu Di..., em..., anu Di. Tolong jangan katakan pada Nadira aku sudah di Jakarta!" kata Restu menahan langkah Hadi yang sudah hendak meninggalkan cafe.
"Kenapa memangnya, aku harus tahu dong alasannya!" tatap Hadi mengangkat tangan kanannya.
"Tak ada hanya surfrise saja!" timbal Restu tertawa kecil memperhatikan tatapan mata Hadi.
"O..., itu iya! Baik tak apa-apa. Kalau begitu aku pergi dulu!" kata Hadi melangkah pergi meninggalkan Restu.
"He he iya, Silahkan!" seru Restu mempersilahkan Hadi pergi.
Hadi melangkah lemah meninggalkan Restu di cafe Sarinah. Restu memandang mobil Hadi yang pergi meninggalkan cafe sampai lenyap dari pandangan mata.
Kali ini dia berhasil membujuk Hadi agar mau pulang beristirahat, sedangkan dirinya mulai galau memikirkan Roman yang menghilang dari kota ini untuk move on.
Dalam kegalauannya muncul dua makhluk yang mereka cari selama ini. Mata pria itu tampak liar mengitari semua pojok cafe dengan kedua bola matanya.
Pria ini sempat tersenyum manis menyapa Restu dengan ramah menganggukkan kepalanya dan Restu membalasnya dengan menganggukkan kepala juga.
Pria itu di gandeng oleh wanita seksi yang tiada lain adalah Winda. Winda menggandeng Ghazan dengan mesra melangkah menuju pojok kanan cafe. Karena di pojok kanan cafe itulah tempat yang pas untuk kabur apabila ada petugas yang mengenalinya.
__ADS_1
Diluar tempat mobil Ghazan dan Winda parkir. Muncul sebuah mobil, parkir didekat mobil Ghazan dan Winda. Lalu keluar dua orang pria yang tidak lain adalah Barra dan Kokon.
Mereka ini adalah anak buahnya Ghazan dan Winda yang memiliki tugas untuk mengawasi dan memantau keadaan apabila ada hal-hal yang membahayakan untuk dilaporkan pada bos mereka.
"Kon..., handphone lu bunyi. Siapa tahu dari bos!" tegur Barra. Kokon segera merogoh kantong celananya mengambil handphonenya.
"Halo..., siapa!" tanya Kokon singkat menyapa yang menghubunginya.
"Aku kon! Saipul di lombok!" timbal Saipul yang menghubunginya. Saipul mau menanyakan kabar dan keadaannya di Jakarta sekali gus memberi tahu kalau pak Bisri sudah di Lombok bersama temannya.
"Dari siapa!" tanya Barra ingin tahu.
"Dari teman gua di lombok!" jawab Kokon.
"Baik Kon, Alhamdulillah aku baik-baik saja. Kamu kapan pulangnya ke lombok! Pak Bisri kan sudah sampai kemarin," kata Saipul mengabarkan kepulangan pak Bisri.
"Pak Bisri di Lombok?" tanya Kokon kaget. Barra yang mendengar Kokon menyebut nama pak Bisri juga kaget.
"Lo..., kenapa kamu kaget?" tanya Saipul heran.
"Tit tidak pul, tidak kaget kok! Pul..., mohon sama kamu iya. Jangan sampai pak Bisri tahu kamu meneleponku, mohon iya pul!" Pinta Kokon.
Saipul merasa heran kepada Kokon, kenapa dia melarangnya kasih tahu pak Bisri bahwa dia sudah menelponnya.
__ADS_1
"Kenapa kon? kamu melarangku kasih tahu pak Bisri! Memangnya ada apa?" tanya Saipul penasaran.
"Alasannya nanti ku beri tahu okey! Aku lagi sibuk ni..., yang penting jangan cerita dulu sama pak Bisri!" timbal Kokon meminta pada pak Bisri.
"Baiklah tidak apa-apa. tapi nanti kasih tahu alasannya iya?" timbal Saipul.
"Iya pul! hari ini aku sibuk sekali tak bisa bicara panjang lebar!" kata Kokon senang Saipul mengiyakannya.
Barra yang mendengar percakapan Kokon dengan temannya menggunakan bahasa Lombok tentu dia tidak paham. Tapi dia mendengar dan melihat Kokon kaget yang menyebut nama pak Bisri.
"Tadi ku dengar kamu nyebut nama pak Bisri!" tatap Barra memandang Kokon.
"Ada berita bagus! Pak Bisri ada di lombok!" kata Kokon serius memberi tahu Barra.
"Iya Kah...," tatap Barra dengan kening mengkerut.
"Iya...," jawab Kokon meyakinkan Barra.
"Kasih tahu bos!" ucap Barra cepat.
"Nanti saja, kita tidak usah kasih tahu dia lewat telpon!" lanjut Barra mencegah Kokon menelpon Bosnya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1