
"Buktinya Bros milk Winda di temukan dikamar milik Morrin!" jawab Hadi kepada Restu.
"Siapa yang menemukan Bros itu!" tatap Restu memandang Hadi.
Hadi memperlambat laju mobilnya. Lalu belok kiri mengarah ke apartemen Roman, "Yang menemukan Bros itu Roman!" jawab Hadi mulai santai membawa laju mobilnya.
"Kita harus membuat perhitungan dengan lintah-lintah pemburu harta itu! Rasa Sakit hati yang dirasakan Roman, harus setimpal dengan perbuatannya.
Mudah-mudahan ada bukti kuat, kalau mereka membunuh morrin dengan cara direncanakan. Sehingga mereka bisa di jerat hukuman mati!" ucap Restu dengan mulut kesal
"Siapa yang mengamankan bros itu!" kata Restu.
"Bros itu ada di tangan Roman, tapi kita tidak tahu, dimana dia sekarang! Yang paling saya sayangkan adalah kaburnya saksi kunci yang membunuh Morrin!" tutur Hadi menceritakan Restu.
Lagi-lagi Restu mendengar cerita baru dari Hadi, "Saksi kunci? apa maksudmu!" tanya Restu tidak ngerti.
"Kemarin aku menemukan anak buah Ghazan keluar dari Mall ambasador, aku sempat bertarung dan berhasil melumpuhkannya namanya pak Bisri. Pengakuannya dia sedang diburu bosnya untuk dibunuh karena dia satu-satunya penculik tiga pasien Wisma atlet yang masih hidup!" jawab Hadi menjelaskan Restu.
__ADS_1
"Dari penjelasanmu tadi, maka yang harus kita lakukan sekarang adalah mencari Saksi kunci yang membunuh Morrin, lalu kita mencari keberadaan Roman baru terakhir kita melaporkan mereka ke polisi agar para pelaku segera ditangkap!" kata Restu memberikan usul kepada Hadi.
Sebelum sampai ke apartemen, Hadi menawarkan Restu mampir sarapan, "Apa kita mampir sarapan dulu atau nanti di apartemen saja!" tanya Hadi.
"Kita Sarapan di cafe saja!" pinta Restu. Sejak transit di Singapure perutnya tidak pernah di isi itulah dia terasa lapar sekali hari ini.
Didalam cafe mereka telah duduk menunggu makanan yang telah mereka pesan.
"Kira-kira menurutmu apakah pak Bisri kabur atau jangan-jangan pak Bisri di culik Ghazan!" kata Restu menduga-duga.
"Habis ini aku akan mengantarmu ke apartemennya Roman!" ucap Hadi memberitahu Restu.
"Iya aku dengar Roman punya apartemen dan kebetulan juga di Jakarta aku belum punya tempat!" timbal Restu.
"Apartemen itu tidak ada yang tempati selain para pekerja. Jadi kamu bisa menempatinya!" kata Hadi.
Mereka berdua sudah selesai sarapan dan mereka segera menuju apartemen mengantarkan Restu.
__ADS_1
Sementara Hadi dan Restu sampai di apartemen mari kita menuju pak Bisri dan Roman di Lombok.
Roman sekarang sudah berada di rumah pak Bisri. Rumah pak Bisri terbuat dari pagar bambu dan jauh dari desa, tempat tinggal pak Bisri agak terpencil.
Kampung tempat tinggal pak Bisri sepi, penduduk kampung sudah tertidur. Padahal malam masih sekitar pukul delapan. Dua putra pak Bisri segera menyambut bapaknya dengan senang hati.
"Pak..., mama mana?" tanya Mansur putra pak Bisri yang nomor tiga.
Keringat dingin perlahan mengguyur tubuh pak Bisri ketika putranya menanyakan mamanya. Mata Roman menangkap perubahan raut wajah pak Bisri walau dia tidak mengerti bahasanya, namun paham apa yang ditanyakan Mansur.
Saipul yang mulutnya ceplas-ceplos yang asal ngomong sedikit membantu pak Bisri yang gugup.
"Mamamu tidak mau pulang, dia masih senang cari uang di Jakarta!" timbal Saipul asal bicara.
Kerinduan putra-putri pak Bisri untuk bertemu dengan kedua orang tua yang telah lama meninggalkannya tidak sepenuhnya terwujud. Mereka baru bertemu hanya dengan bapaknya saja.
BERSAMBUNG.
__ADS_1