
Hadi dan Nadira sudah berada di apartemen Roman. Dia mengumpulkan semua pekerja apartemen itu
"Wandi! Semalam kamu tidur di kamarmu atau jaga disini!" tatap Hadi memandang Wandi.
"Kalau semalam sih, aku tidur di ka...mar!" jawab Wandi jujur.
"Tiap malam atau tadi malam ini doang...," timbal Nadira pada Wandi.
"Sumpah! Semalam doang...," jawab Wandi mengangkat dua jari tangannya.
"Kamu tidak perlu jawab sumpah!" tegur Nadira tidak suka.
"Iya, jawab biasa saja sesuai pertanyaan yang kami ajukan. Kami percaya kok, jawaban kalian!" ucap Hadi.
"Siapa yang pertamakali tahu pak Bisri tidak ada!" tanya Hadi mengintrogasi mereka.
"Saya pak!" jawab Saripah mengangkat tangannya, lalu menceritakan kejadian tadi pagi.
"Kesannya kita kayak penyidik saja!" kata Hadi tampak kesal dengan cara kerja mereka. Hadi dan Nadira sudah berniat dalam waktu dekat akan mendatangkan pengacara hebat serta akan bergerak mencari keberadaan Ghazan dan Nadira tapi sayang pak Bisri telah kabur.
__ADS_1
"Diantara kalian ada tidak mendengar atau melihat hal-hal mencurigakan tadi malam!" tanya Hadi pada mereka semua.
"Tidak ada Di, Semalam mereka menemani saya sampai jam dua lebih, setelah mereka pergi istirahat saya periksa semua tempat aman-aman saja!" jawab Wandi.
"Yang jadi masalah sekarang adalah pak Bisri itu merupakan pelaku terbunuhnya morrin, dialah yang diminta mencuri tiga pasien di Wisma atlet yang kebetulan istrinya salah satu dari pasien tersebut," kata Hadi menjelaskan ketiga pekerja di apartemennya Roman.
"Pantas saja dia kabur! Pelakunya dia!" sahut Wandi.
"Pelaku utamanya bukan dia. Pelaku utamanya adalah bosnya yang bernama Ghazan dan Winda!" timbal Winda memberitahu Wandi.
"Lalu kenapa kamu bilang semalam, dia merupakan saksi kunci terbunuhnya morrin!" tanya Irwan pada Hadi.
"Karena dia satu-satunya yang masih hidup atas kaburnya tiga pasien Wisma atlet dan sekarang dia yang jadi target untuk dibunuh oleh bosnya yang bernama Ghazan dan Winda agar terhindar dari hukum!" tutur Hadi menerangkan Irwan dan yang lainnya.
Irwan menggelengkan kepala tidak paham, lalu Nadira menjelaskannya lagi dengan sedetil mungkin kronologi peristiwa yang terjadi baru mereka semua mengerti.
"O..., aku paham sekarang!" ucap Irwan anggukan kepalanya.
"Siapa tahu pak Bisri balik lagi kesini!" ucap Saripah.
__ADS_1
"Maksudmu pak Bisri tidak kabur gitu!" tanya Wandi.
"Ya, karena barang-barang yang dibeli semalam seperti pakaian, selimut dan yang lain-lainnya masih ada didalam tak ada satupun yang dibawa!" ucap Saripah.
"Semuanya masih ada didalam!" tanya Hadi.
"Iya!" sahut Saripah.
"Mudah-mudahan saja. Tapi, yang saya takutkan kalau dia keluar sembarangan nanti dia ditangkap oleh Ghazan atau suruhannya Ghazan!" kata Hadi menjelaskan Saripah.
Dalam hati semoga pak Bisri tidak kabur dan tetap selamat dari buruan Ghazan. Tetapi orang yang dicari ternyata memang telah pergi dan dibawa oleh bos mereka sendiri.
Malah pesawatnya telah landing di bandara International Lombok. Begitu keluar dari bandara dan berjalan elok dengan penumpang yang lain.
Roman berjalan paling belakang menjinjing kantong plastik yang berisi empat lembar pakaian yang di beli di Surabaya.
Hawa Lombok lumayan panas, tapi karena malam. Hawanya tidak terasa. Pas memasuki ruang tunggu penjemputan. Pak Bisri langsung disapa oleh seluruh pekerja bandara, baik petugas bandara maupun sopir online semua mengenal pak Bisri.
Ternyata pak Bisri adalah orang yang sangat berpengaruh di Lombok. Dia disegani dan di takuti. Tapi, menghadapi Hadi saja dia tidak ada apa-apanya apalagi dengan Roman.
__ADS_1
Dengan pengalamannya itulah, akhirnya pak Bisri sekarang tidak mau sombong dan menganggap enteng orang.
BERSAMBUNG.