
"Siapa kamu! Hah! Mau rampok ya..., ayo ngaku!" teriak wanita yang baru keluar dari dalam rumah.
"Bukan..., bukan, bukan!" Zalu mengangkat kedua tangannya meminta agar perempuan ini tidak berteriak.
"Aku mohon, jangan teriak dulu nona cantik!" pinta Zalu.
"Apa...? Kau bilang aku nona cantik?" timbal si perempuan ini sambil tersenyum. senang sekali disebut nona cantik.
"Betul! Nona kamu memang cantik! Kenalkan namaku Zalu, datang kemari membawa berita sedih!" kata Zalu menunduk sedih, tapi matanya sedikit nakal.
"Ntar dulu, aku belum ngerti maksudmu. Matamu kedip kedip tapi bawa berita sedih!" timbal si perempuan sambil menatap serius mata si Zalu mengedipkan matanya pada perempuan ini.
"Aku bawa nona Winda terluka parah. Sekarang ada di dalam mobil!" kata Zalu menjelaskan maksudnya.
"Apa..., non Winda terluka parah?" teriak si perempuan histeris.
Zalu pun memperlihatkan Winda yang menyandar di depan jok mobil dalam keadaan pingsan penuh darah di tubuhnya.
Si perempuan itu berlari teriak memanggil manggil majikannya.
"Tuan..., nyonya...!" panggil si perempuan berteriak jingkrak-jingkrak memanggil majikannya.
Zalu baru sadar kalau perempuan ini adalah asisten rumah ini.
Kedua orang tua Winda tampak keluar berlari nyamperin,
__ADS_1
"Ada apa? Zulaiha, teriak-teriak!" tanya Adelia ibunya Winda sambil memandang Zalu yang berdiri dengan tangan memegang pintu mobil.
"Itu nyonya, nona Winda terluka parah!" tunjuk Zulaiha ke arah Winda.
Kedua orang tua Winda terkejut dan bertanya apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi dengan putri saya!" tanya pak Sumarto bapaknya Winda memandang Zalu.
Zalu menceritakan kronologis peristiwa yang menimpa Winda yang mengalami kecelakaan tunggal.
"Begini pak! kalau saya cuman mengantar saja. Tidak melihat langsung nona Winda kecelakaan." ucap Zalu mengarang cerita.
"Dari mana kamu tahu alamat rumah ini!" tatap pak Sumarto.
"Aku sering mengantarnya kemari, aku sopir ojek online!" jawab Zalu berbohong.
Pak Sumarto segera membawa Winda kerumah sakit, mengenai kronologis cerita Zalu itu bisa di usut belakang. Yang penting putrinya terselamatkan dulu.
Kedua orang tua Winda tidak tahu apa yang dilakukan diluar. Mereka hanya percaya kalau putrinya bekerja di sebuah perusahaan ternama.
Usai ikut menemani kedua orang tua Winda mengantar Winda kerumah sakit Zalu pun pergi.
Beberapa menit kemudian Zalu mendapat panggilan telpon dari Ghazan.
"Halo Zalu, bagaimana.... Apa tugasmu sudah beres?!" tanya Ghazan.
__ADS_1
"Udah bos..., sekarang Winda sudah dibawa orang tuanya kerumah sakit!" jawab Zalu.
"Kalau begitu kamu sempat kesini!" pinta Ghazan.
"Baik bos..., saya sedang dalam perjalanan!" timbal Zalu.
Belum selesai percakapan Ghazan dan Zalu. Mobil Toni datang menjumpai Ghazan.
"Hey, Ghazan...." sapa Toni tetap di dalam mobilnya menyapa Ghazan.
"Hey, Toni!" sambut Ghazan.
"Bagaimana, udah kau bereskan? Perempuan licik itu!" tanya Toni tidak sabar ingin tahu, apakah si penghalang yang selalu menggagalkan rencananya untuk mendapatkan Morrin sudah menjadi mayat.
"Gagal bos!" jawab Ghazan lesu.
"Apa? Gagal...? Wah..., jangan bercanda dong. percuma saya bayar kamu mahal tetapi gagal!" ucap Toni serius.
"Bos jangan marah ya..., saya pasti selesaikan target saya. Karena bos sudah membayar saya. Saya ini orangnya profesional, apa yang telah dibayar pasti saya lunasi..., dengan mendengar kabar mayatnya si Nadira." kata Ghazan serius pada Toni.
Baru Toni sadar ternyata Ghazan memang benar-benar gagal menghabisi Nadira.
Matanya merah menyala menatap Ghazan.
"Heh! Kalau Nadira tidak berhasil kau habisi...? Kamu harus kembalikan uangku. Sebab kalau tidak! Polisi akan datang menangkap mu!" ancam Toni Lang tancap gasnya meninggalkan Ghazan.
__ADS_1
BERSAMBUNG.