PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
TERNYATA MORRIN MASIH HIDUP


__ADS_3

Pejas langsung duduk dikursi yang berderet dihalaman depan rumah Haidar yang besar dan luas, matanya mengitari rumah rumah didepan rumah Haidar. Tumben aku melihat tempat ini, guman Pejas dalam hati.


Kelor menyusul duduk, sementara Haidar langsung masuk kedalam rumahnya,


"Tunggu sebentar ya? Aku ambilkan kamu uangmu!" ucap Haidar.


Pejas anggukan kepalanya dengan lemah dengan sedikit menoleh kearah Haidar lalu kembali memandang deretan rumah disekeliling rumah Haidar.


"Kutinggal sebentar ya? Aku mau suruh Tety siapkan kamu minum!" kata Kelor berdiri hendak pergi kedalam.


"Tunggu dulu Lor!" pinta Pejas menatap Kelor tampak seperti penasaran.


"Ada apa? Bos!" tanya Kelor.


"Apa hubunganmu dengan Haidar," tanya Pejas.


"Dia bosku sejak dulu," jawab Kelor.


"O...," kata Pejas menganggukan kepalanya.


"Oke, dah ya?" kata Kelor menepuk pundak Pejas sambil berlalu masuk meninggalkan Pejas duduk sendirian.


Tubuh Pejas masih terasa lemas akibat tidak makan selama hampir dua hari penuh. Dia berjalan tanpa arah dan tujuan, kakinya diayunkan sekendak hatinya hingga sekarang telah terdampar disebuah perkampungan elit dipinggiran kota Jakarta.


Kampung ini sangat asri rapi dan tertata sungguh menakjubkan bagi setiap mata yang memandangnya, seperti halnya Pejas. Padahal dia tak ada gairah dengan semua apa yang ada dihadapannya.


Pejas yang dulu angkuh dan sombong tanpa semangat mengingat masa lalunya yang gelap. Selama bertahun tahun dia merampas hak milik orang lain dengan kedok keamanan.


Para pedagang kecil dipaksa membayar uang keamanan, tak peduli betapa susahnya orang orang itu mengais rejeki dengan susah payah.


Keangkuhan dan kesombongannya diruntuhkan oleh seorang pemuda tampan dan sederhana yang juga mengaku preman jalanan. Pemuda itu tiada lain Roman Maulana Satria.


Suara langkah kaki membuyarkan lamunannya,


"Nih, bayar motormu!" ucap Haidar menyodorkan amplop berisi uang.


Pejas menerima amplop yang diberikan Haidar kepadanya tanpa membuka dan menghitung isinya.


"Trimakasih!" ucap Pejas pelan hampir suaranya tidak terdengar.


Hanya itu yang terlontar dari bibir pejas


"Hitung dulu uangnya, siapa tahu tidak cukup!" kata Haidar.


"Tidak apa apa, bagiku? Berapapun kamu bayar motor itu cukup bagiku dan terimakasih kamu bersedia membelinya!" kata Pejas pelan dan tampak berusaha menyembunyikan kelemahan tubuhnya.


Bagaimanapun Pejas mau menutupi kelemahan fisik tubuhnya, Haidar kelihatan mengkerutkan kedua alisnya memperhatikan Pejas yang tampak lemah.

__ADS_1


Baru saja mbok Tety keluar membawa minum tiba-tiba Pejas tersungkur jatuh kebawah.


Haidar dan mbok Tety sama sama terperanjat kaget. Haidar segera menyambar tubuh Pejas, sementara mbok Teti berlari meletakan minuman yang dibawanya diatas meja.


"Panggil Kelor mbok!" pinta Haidar.


"Baik, tuan!" jawab mbok Tety berlari kedalam memanggil kelor


Tidak lama kemudian Kelor keluar dan didapatinya Haydar bosnya sedang memapah Pejas.


"Tolong Lor bawa Pejas kedalam!" pinta Haydar.


"Baik, pak!" jawab Kelor mengangkat tubuh Pejas kedalam dibantu mbok Tety asisten pak Haidar.


Pak Haidar membuntuti Kelor dan mbok Tety dari belakang.


"Langsung bawa keatas!" kata Haydar menyuruh kelor menunjuk tangga.


Kelor dibantu mbok Tety menaiki tangga menuju lantai dua.


Setelah merebahkan tubuh Pejas diatas dipan yang beralaskan kasur, Haidar meraba Kening Pejas.


"Tubuhnya panas!" ucap Haydar sambil merogoh hp dikantong celananya menelpon dokter.


Haydar tampak gelisah melihat keadaan Pejas yang pada mulanya dikira gelandangan, tapi ternyata mantan bosnya Kelor. Kelor sempat gabung jadi preman dan meninggalkannya beberapa tahun dan kembali bekerja kepadanya.


Haidar tampak melangkah kearah jendala yang tertutup rapat, lalu dia membuka jendala itu usai menghubungi dokter. Haydar melihat sosok gadis termenung seorang diri.


Gadis ini pernah ditolong setahun yang lalu, yang pada waktu ditemukan tergeletak ditengah jalan. Setelah diperiksa oleh dokter ternyata gadis ini terpapar virus covid sembilan belas dan dua kali dikarantina.


Setelah sehat dan bebas dari virus gadis ini banyak termenung dan menangis seperti menyimpan beribu-ribu masa lalu yang kelam.


"Tety," panggil Haidar resah setiap melihat gadis yang dilihat dibawah itu.


"Ya, tuan!" timbal mbok Tety memandang bosnya yang tampak resah.


"Bagaimana keadaannya!" ucap Haydar menunjuk gadis yang duduk termenung ditaman bawah samping kanan rumahnya, dekat bonsai yang berbentuk hati.


Mbok Tety mengerti maksud bosnya, kalau yang ditanyakan adalah gadis cantik yang bernama Morrin yang ditolong setahun yang lalu.


"Tuan! Morrin hari ini mulai mau terbuka!" ucap mbok Tety memberi kabar terbaru mengenai gadis yang mengaku bernama Morrin.


Haydar tampak terkesimak mendengar kabar dari mbok Tety.


"Maksudmu?!" tanya Haydar pingin tahu. Matanya melebar penasaran, sebab sampai saat ini Morrin jarang berbicara malah tak mau sama sekali, sekalipun Haydar berulang kali mencoba.


"Tadi pagi dia mulai mau berbicara denganku!" kata mbok Tety memberi penjelasan kepada Haydar.

__ADS_1


"Yakah!"


Haydar semakin penasaran kepada mbok Tety apa saja yang dibicarakan Morrin kepadanya.


"Iya, tuan!" tegas mbok Tety


Seulas senyum dan harapan tampak terlihat jelas diraut muka Haydar.


"Apa saja yang dibicarakan Morrin denganmu!" tanya Haydar penasaran sampai lupa dengan Pejas yang pingsan disampingnya.


Sebelum mbok Tety panjang lebar menjelaskan pak Haydar, pak Haydar segera menarik tangan mbok Tety keluar agar leluasa menjelaskan perkembangan yang baru saja didapatkannya.


"Pak Kelor? Tunggu Pejas ya?! Saya mau keluar, mbok Tety mau cerita ada perkembangan baru dari Morrin!" kata Haydar bergegas.


"Siap, bos!" timbal Kelor.


Haydar keluar bersama mbok Tety kesebelah ruangan samping kamar Pejas. Mbok Tety terus menceritakan apa saja yang dibicarakan Morrin mulai dari pagi hingga siang hari pada saat pak Haydar mengajak Kelor kekebun.


"Gimana awalnya dimulai mau bicara, coba ceritakan kepadaku!" pinta Haydar.


"Pada mulanya sih, dia seperti biasa tidak mau bicara!" timbal mbok Tety.


"Lalu!" tatap Haydar serius memandang mbok Tety.


Mbok Tety terdiam sebentar, setelah menarik napas dalam dalam dia melanjutkan ceritanya menjelaskan Haydar.


"Saat aku meletakan sarapan paginya, aku ngelap meja..., ngepel didekatnya tiba-tiba saja dia ngomong, mbok Tety..., panggilnya!" kata mbok Tety menjelaskan Haydar.


"Apa katanya?!" pinta Haydar pingin tahu.


"Aku boleh minta tolong ya? mbok!" ucap mbok Tety menceritakan Haydar.


"Minta tolong apa? Pasti boleh dong...!" jawabku.


"Pagi ini, kenapa tiba-tiba aku pingin minun teh dingin! Padahal pagi ini suasananya sejuk! ucap Morrin kepadaku!" kata mbok Tety meneruskan ceritanya.


"Lalu aku lari kedapur buatkan dia teh dingin! setelah teh dinginnya jadi! Aku antar kepada dia dan sejak itu dia bercerita tentang dirinya!" kata mbok Tety menceritakan Haydar.


Baru saja Mbok Tety ingin melanjutkan ceritanya dokter yang akan memeriksa Pejas datang.


"Tunggu dulu mbok, rupanya bu dokter datang! Nanti dilanjutkan ceritanya!" pinta Haydar tampak bersahaya gembira mengetahui kalau Morrin sudah mau bicara.


💜💜💜💜💜


BERSAMBUNG.


Oke gays, ternyata Morrin masih hidup. agar tidak penasaran, gimana sih dia bisa masih hidup. Maka terus baca kisahnya.

__ADS_1


__ADS_2