PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE DELAPAN PULUH TUJUH: MENGEJAR CINTA YANG LAIN.


__ADS_3

Toni merasa malu dan melototi semua orang yang menertawai nya. Ketika menoleh ke arah orang-orang yang menertawainya ternyata anak buahnya sendiri.


"Ternyata Elu, semua!" geram Toni dadanya semakin dongkol dan sesak memandang anak buahnya.


"E e..., pergi! pergi," usir Toni menyuruh semua anak buahnya pergi sambil berdiri bertolak pinggang.


Mereka bukannya pergi, malah mereka semakin ngakak terpingkal-pingkal melihat bosnya yang mengusir mereka menunjuk arah Restu dan Nilam, karena wajahnya tertutup oleh baju koplo nya.


Mata Nilam terbelalak melihat orang-orang yang mentertawai Toni, ternyata anak buah Toni semua dan Nilam mengenal mereka.


Nilam membawa kabur Restu dengan menarik tangannya berlari sejauh-jauhnya dari mereka.


Tarzan yang melihat Nilam dan Restu kabur tak dapat berbuat apa-apa karena melihat bosnya sedang memarahi Toto dan Yayan. Tak ada kesempatan untuk bicara.


"Geblek..., bodoh..., siapa suruh kalian ikuti aku!" bentak Toni dengan suara tinggi.


Toto dan anak buahnya tidak berani buka mulut. Mereka diam tertunduk takut. Yayan bertolak pinggang berdiri di samping Toto ikut-ikutan marah


"Dasar geblek semua!" bentak Yayan mengawasi anak buah Toto. Tanpa pikir panjang Toto menyepak mulut Yayan, Yayan meringis kesakitan memegang mulutnya.


"Elu, ikut-ikutan marah! kayak bos aja!" mata Ogang menyalahkan Yayan.


"Kenapa lu ketawain bos!" bentak Yayan menatap Ogang tidak mau kalah.


Mereka saling menyalahkan satu sama lain,


"Kita kan ikut dia!" tunjuk Ogang ke arah Toto.


Hehehe....,


Toto tertawa cengingisan.


"Kami tak punya duit bekal nongkrong disana!" tunjuk Toto kearah luar dari area Sarinah.


"Kalian iya..., di otak elu duiiit melulu, tapi otak elu dongkol! Geblek! Bodoh ... " tatap Toni memandang semua anak buahnya.


๐Ÿ‘๏ธ"Bos..., annu bos...,"๐Ÿ‘๏ธ seru Tarzan ingin bicara sama Toni.


"Bis bos bis bos, apa sih!" tatap Toni, dadanya tambah sesak memandang Tarzan dan otaknya tambah pusing punya anak buah blo'on semua.


"Pacarnya kabur ... "


..."Hah!" Toni menoleh ke arah Nilam sudah tidak terlihat lagi. Hati Toni tambah kecewa dengan pikiran semakin rumit....


๐ŸƒRestu yang diajak lari oleh Nilam, bertanya-tanya dalam hati. Siapa sih mereka! Kenapa Nilam takut?!

__ADS_1


Nilam segera mengatasi apa yang dipikirkan Restu. "Kak!" lirik Nilam yang menyetir mobil.


"Siapakah mereka!" tanya Restu sambil mengitari jalan raya yang padat dengan mobil.


"Yang tadi itu Toni!"


"Siapa dia!"


..."Sekarang kita ke plaza city saja kak, disana ada cafe yang menjual menu makanan yang enak!" seru Nilam sebelum menjawab pertanyaan Restu....


"Oke sip! Kebetulan perutku udah mulai protes!"


..."Toni itu pernah suka sama almarhumah kakak Morrin dan sekarang sepertinya dia mau mendekatiku!" tutur Nilam menjawab pertanyaan Restu yang belum di jawab tadi....


"Nekad benar itu orang, by the way dia punya pengawal juga besar, kuat dan serem!"


"Aku takut sekali sama mereka!"


"Tidak boleh takut, kamu harus berani!"


..."Kalau kak Roman ada, aku tak pernah takut! Hanya kak Roman dan kak Hadi yang bisa menandingi Toni dan pengawalnya!" keluh Nilam....


๐Ÿš˜ Mobil Restu memasuki plaza city๐ŸŒ


Mereka kayaknya seperti sepasang kekasih yang sedang menjalankan hubungan cinta. ekspresi wajah Nilam menggambarkan kebahagiaan berbunga-bunga, menggelayut ditangan Restu melangkah anggun memasuki plaza city.


Mereka terlihat bahagia berjalan berdua memasuki plaza city, menuju tempat orang-orang yang sedang istirahat mengisi perutnya. Merekapun mencari tempat yang nyaman untuk mengisi perut mereka dan melupakan kejadian yang barusan mereka alami.


Sementara Toni yang sudah kehilangan Nilam hanya bisa gigit jari dan kecewa atas kebodohan anak buahnya. Masih dalam situasi marah, tidak jauh dari tempatnya muncul Nadira sedang menuju meja kosong dan duduk menunggu waiter datang untuk memesan menu.


Bersamaan masuknya Nadira di cafe itu, Yayan melihat kedatangan Nadira. Yayan segera memberitahu kedatangan Nadira kepada bosnya.


"Bos! Musuh besarmu!" bisik Yayan telinga Toni.


"Mana!"


Mata Toni langsung mengitari tempat itu mencari siapa yang di maksud Yayan.


"Tu...," tunjuk Yayan kearah Nadira yang sedang bicara dengan waiter cafe itu memesan makanan.


Toni membisik sesuatu ketelinga Toto,


"Siap bos...," jawab Toto acungkan jempol kearah Toni.


Toni memperhatikan Nadira menyantap makanannya dari kejauhan. Sedangkan Toto dan kawan-kawannya pergi beranjak meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Dengan tenang Toni terus mengawasi Nadira yang sedang mengisi perutnya seorang diri dan ditemani siapapun. Toni paling sering melihat Nadira di temani oleh Hadi, tapi kali ini laki-laki itu sepertinya tidak ada.


Terlihat Nadira telah usai menyantap makanannya, Toni segera langsung mendekati Nadira.


"Halo, Nadira...," Sapa Toni dengan sopan sambil tersenyum.


"Kau Muslim kan?" tanya Nadira tampak terlihat cuek dan acuh tidak menanggapi sapaan Toni.


"Kenapa kamu menanyakan agamaku!" tatap Toni balik bertanya.


"Pingin tahu aja, karena kamu kelihatannya seperti orang muslim!" jawab Nadira tetap acuh sambil menggeser piringnya.


"Iya, aku muslim! Kenapa?!" jawab Toni penasaran.


"Jawab gitu dong..., kenapa pakai muter-muter segala?!" tatap Nadira seraya bangkit berdiri meninggalkan Toni dengan ucapan,


"Salamu'alaikum!"


"Ee..., eh tunggu! Mau kemana?!" cegah Toni memegang tangan Nadira.


"Aai..., heh! Berani sekali kamu pegang tanganku! Kamu pikir aku siapa? Hah!" bentak Nadira menatap Toni dengan tajam.


Muka Toni tampak masam karena malu. Matanya balas memelototi Nadira. Ingin rasanya Nadira menghajar Toni, tapi dia menahan kemarahannya.


Sedangkan Toni langsung berencana dalam hatinya untuk memberi pelajaran kepada Nadira dengan cara mencegatnya nanti di jalan.


Nadira meninggalkan Toni dengan tatapan marah berlalu dari hadapannya pulang menuju kediamannya.


Tanpa ada rasa curiga didalam hatinya, Nadira membawa mobilnya dengan tenang di jalan. Lalu-lalang mobil tampak ramai memenuhi kota metro politan.


Baru beberapa meter memasuki wilayah sawah besar kediaman nya, Toni menghalangi mobilnya.


Nadira segera turun dari mobilnya, melihat siapa orang yang menghalangi perjalannya itu.


Toni pun turun dari mobilnya dengan di temani Yayan dengan langkah percaya diri. Langkah kakinya diatur segaya mungkin dihadapan Nadira.


"O..., ternyata kamu! Aku pikir siapa!" tatap Nadira melirik gaya Yayan yang melangkah menghampirinya.


Nadira tersenyum sendiri sambil menoleh kearah jalan raya memandang mobil-mobil yang melintas.


Nadira berpikir dalam hati, percuma melayani dua pria yang tidak ada apa-apanya, cuman bisanya bikin mual perut, keluhnya dalam hati.


Baru saja Nadira hendak berlalu meninggal Toni dan Yayan, anak buah Toni berdatangan menghadang Nadira.


"Hihihi," Nadira tertawa sambil tersenyum menoleh kearah Toni.

__ADS_1


"Hebat! Hebat." Nadira angguk- anggukan kepala bertepuk tangan dengan pelan mengejek Toni yang mengerahkan anak buahnya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2