PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE EMPAT PULUH EMPAT : PESAN KECEWA BUAT MAMA.


__ADS_3

Marisa merasa ada yang aneh pada getaran handphone di tangannya. Perlahan dibukanya handphone miliknya.


Mata Marisa terbelalak lebar melihat tulisan yang di kirim putranya. Dia seperti mendapat penyiksaan yang menyakitkan, terbayang di matanya bagaimana hancur hati puteranya.


Marisa tampak menyesal, tubuhnya lemas, matanya berkunang-kunang dan akhirnya Marisa terjatuh.


Aminah mendengar seperti ada benda jatuh di ruang tamu depan, segera dia pergi kesana. Bukan main kagetnya Aminah melihat majikannya terlentang pingsan di lantai.


Aminah berlari memanggil Didin yang asyik berdiri di gardu depan. "Din tolong, nyonya pingsan!" teriak Aminah memanggil Didin.


"Hah! Iya iya...," sahut Didin berlari. Sampai di dalam Didin segera menyuruh Aminah menelpon pak Rifky.


"Cepat telpon bapak!" seru Didin.


Aminah bergerak cepat menuju telpon dan menyambar gagang telpon, "Iya ya aku telpon!" timbal Aminah menekan nomor pak Rifky.


Aminah yang menelpon pak Rifky di kantornya, juga sedang sedih memikirkan putranya yang entah sekarang di mana.


Hand phone di atas mejanya berdering berkali-kali di biarkan. Tak lama kemudian telpon kantor yang terletak tidak jauh dari hand phonenya yang berdering. Namun tak ada semangat dari pak Rifky.


"Lui!" seru pak Rifky memanggil Lui sekretarisnya. Ada ke inginan dari pak Rifky kalau Roman sedang menghadapi masalah besar sebagaimana Lui yang telah merasakannya dulu.

__ADS_1


Tak ada yang tahu di perusahaan itu siapa Lui yang sebenarnya. Yang mereka tahu Lui ada sekertaris pak Rifky.


"Iya pak!" jawab Lui tampak acuh. Di Kantor itu Lui tidak banyak bicara, pendiam tidak ramah dan tak peduli reaksi karyawan atas teguran dan kritikan. Para karyawan sangat heran kenapa pak Rifky begitu segan dan terkesan membela Lui dalam segala hal.


"Angkat telponnya!" pinta pak Rifky lesu.


"Baik, pak!" timbal Lui segera mengangkat telpon yang berdering berkali-kali.


"Halo...," ucap Lui.


"Halo..., bapak ada?" tanya Aminah.


"Ada..., ada apa iya?" tanya Lui.


Jantung Lui berdebar mendengar nyonya pingsan dari Aminah asisten rumah tangga pak Rifky.


"Apa? Nyonya pingsan? Baik, baik akan saya beri ta...," belum usai Lui bicara pak Rifky mengambil telpon dari tangannya.


Tanpa bicara Lui berlari meninggalkan kantor. "Kenapa? Ibu pingsan!" tanya pak Rifky sambil melihat Lui yang ingin menangis pergi meninggalkan ruang kerja.


"Tidak tahu pak! Tiba-tiba saya lihat ibu tergeletak di lantai!" jawab Aminah.

__ADS_1


"Suruh Didin bawa ibu ke dokter!" ucap pak Rifky menyuruh Aminah.


"Baik pak!" jawab Aminah menutup telpon.


Dalam hati pak Rifky berseru, "kapan sandiwara ini berakhir!" keluh nya melihat istrinya yang tidak berubah, sampai Lui pun hengkang dari rumah karena asmara. Dan sekarang Roman putra kandungnya juga hilang dari rumah karena asmara. Lalu siapakah Lui sebenarnya? Dengan sendirinya pembaca akan tahu setelah terus mengikuti ceritanya.


Didin langsung membawa Marisa menuju rumah sakit. Belum sampai di rumah sakit Marisa sudah siuman kembali. "Aku di mana ini?" ucap Bu Marisa lemah mendapatkan dirinya di dalam mobil.


"Kamu mau bawa aku kemana? Din...," tanya Marisa heran dan kebingungan melihat kesana-kemari.


"Kerumah sakit!" jawab Didin mengendarai mobil sambil melirik spion. Aminah hanya diam saja duduk di samping Bu Marisa.


"Kenapa kamu hendak bawa aku kerumah sakit!" tanya Marisa lagi.


"Di suruh bapak! Tadi ibu pingsan!" ucap Didin menjelaskan ibu Marisa.


"Tidak usah, balik kerumah!" perintah Bu Marisa kesal.


"Tapi...,"


"Tidak usah tapi tapi, kalau aku suruh balik. Balik!" bentak Bu Marisa.

__ADS_1


Didin memutar mobil balik kerumah!


BERSAMBUNG


__ADS_2