
Sedangkan di tempat berbeda, dalam waktu jam yang sama beberapa gerombolan bayangan hitam bergerak mengendap-endap di rumah Morrin.
Gerombolan ini dipimpin Winda juga tidak menemukan kesulitan. Tampak dua mobil parkir di halaman rumah Morrin.
Seorang perempuan disekap mulutnya, meronta-ronta keluar dari rumah pak Imran. Tampak Morrin berusaha menyelamatkan diri. Namun, dia tidak mempunyai kekuatan.
Padahal di sekitar rumah Morrin masih terlihat banyak orang. Kedua mobil itu berhasil mencuri Morrin dengan mulut di lakban.
Malam ini Roman tidak bisa tidur, hatinya diselimuti kegelisahan. Dadanya berdebar-debar keras. Entah kenapa malam ini, bayangan wajah Morrin senantiasa menyelimuti pikirannya.
Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada diri Morrin, maka diapun menghubungi Morrin tapi hand phone nya mati tidak bisa dihubungi.
Kembali Roman mencoba memejamkan mata, tapi lagi-lagi tidak bisa sampai pagi menjelang subuh. sedang di rumah pak Imran satupun tak ada yang tahu Morrin dicuri di rumahnya. Mereka semua tertidur nyenyak.
Winda yang bertugas mencuri Morrin telah datang lebih dahulu bersama rombongannya. Morrin di bawa turun dan langsung dimasukan ke dalam sebuah kamar yang lumayan cukup luas dan bersih.
Kurang satu jam dari kedatangan Winda Ghazan datang yang disambut oleh Winda. "Jangan satukan mereka dulu, suruh masuk ke kamar samping!" ucap Winda pada Ghazan.
"Ayo sini semua! Ikuti saya!" pinta Ghazan menyuruh istri pak Bisri dan kedua perempuan lainnya menuju kamar samping kamar Morrin.
Setelah ketiga perempuan itu masuk yang lain di suruh keluar, kecuali dia dan Winda.
__ADS_1
"Kalian sekarang telah bebas, tidak terkurung lagi seperti orang yang di penjara. Untuk itu kumohon pada kalian semua untuk istirahat di sini tidak usah kemana-mana!" kata Ghazan kepada ketiga perempuan yang terpapar covid 19 itu.
"Kami semua belum sembuh pak! Kami masih positif virus dan kami tidak tahu apa tujuan bapak membawa kami kabur!" tanya Nayla yang tampaknya masih muda.
"Berapa umurmu!" tanya Ghazan santun.
"Sembilan belas pak!" jawab Nayla.
"Baik, menurut informasi yang kudengar ada dua di antara kalian bertiga masih berstatus narapidana. Siapa!" tanya Ghazan mulai memainkan akal busuknya.
"Saya dan Tyla pak!" jawab Nayla.
"Yang itu pak!" tunjuk ibu Maryam istrinya pak Bisri.
"Istrinya pak Bisri?" tanya Winda memperhatikan ketiga perempuan yang di culik Ghazan.
"Saya non!" sahut Bu Maryam kembali.
Roman mulai memberikan janji-janji muluk dengan bahasa yang menjanjikan,
"Pak Bisri memintaku untuk memperkerjakan istrinya disini. Tapi karena aku butuh tiga orang maka, sekalian kamu juga di bawa kabur!" ucap Ghazan tampak jujur dan serius.
__ADS_1
Ketiga perempuan ini sedikitpun tak ada kecurigaan dalam hatinya, mendengar Ghazan. Saking senangnya dibebaskan dari Wisma atlet.
"Apa itu pekerjaannya pak!" tanya Nayla penasaran.
"Pekerjaannya tidak terlalu berat, hanya menjaga dan merawat adikku yang sedikit kurang sehat jiwanya!" kata Ghazan menjelaskan Nayla dan kedua perempuan yang lain.
"Masing-masing punya tugas." lanjut Ghazan menjelaskan mereka bertiga kemudian membagi tugas pada ketiganya.
Ketiganya tentu senang mendengar tawaran kerja dari Ghazan, tapi tampaknya mereka masih belum percaya.
"Benar ini pak!" tanya Tyla.
"Agar kalian percaya..., maka gaji kalian tiap bulannya di bayar terlebih dahulu baru bekerja! Gimana!" tanya Ghazan.
"Kalau kerjanya seperti itu tentu kami sangat senang dan menerima!" jawab Nayla menyanggupi.
Ghazan memberi janji dan harapan pada ketiga pasien covid 19 yang di culik dari Wisma atlet.
Lalu Ghazan memberi gaji bulan pertama pada ketiga perempuan itu dan membawanya keruangan di mana Morrin berada.
BERSAMBUNG.
__ADS_1