PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE SEBELAS: MASIH POLOS


__ADS_3

Setelah mendapat penjelasan dari putranya, pak Rifky merasa tidak ada masalah lagi dari luka yang di alami Toni.


Semua kejadian yang menimpa Toni putra pak Sopian adalah karena ulah dari Toni sendiri. Dan wajar dia memperoleh dari hasil perbuatannya sindiri.


Lain halnya dengan ibu Marisa yang masih tidak terima, putranya lebih mementingkan pacar dari pada orang tuanya.


Itulah sebabnya setelah pak Rifky pergi, cepat-cepat Roman masuk kedalam biliknya.


Sampai kedalam biliknya kembali Roman mengenang semua pertemuannya dengan Morrin, teringat dia ketika menembak Morrin dan ini merupakan moment yang tak bisa dilupakan.


Ibu Marisa yang telah memendam kemarahan semenjak semalam, tak kuasa menahan emosi terhadap putra kesayangan nya ini.


Di luar biliknya Marisa menggedor-gedor pintu, minta untuk di bukakan namun Roman tidak memperdulikannya.


Roman bukannya membukakan pintu. Malah dia melamun mengingat masa indah kenangan manis masa lalunya. Masa dimana pertamakali jantungnya bergetar hebat.


Ketika dia keluar dari rumah jalan-jalan, mobilnya melintas di bundaran hotel Indonesia. Lalu dia memarkirkan mobilnya di plaza Indonesia.


Roman menuju air mancur menatap selamat datang Indonesian yang terletak ditengah-tengah bundaran air mancur.


Dia terus melangkah menelusuri trotoar jalan Husni Thamrin kawasan Sudirman kota metropolitan Jakarta yang merupakan ikonnya kota Jakarta.

__ADS_1


Tanpa dia sadari kakinya telah melangkah jauh dari parkiran mobilnya sampai terowongan Kendal dukuh atas.


Ketika dia berbalik memutar badannya, tanpa sengaja matanya melihat melihat seorang gadis yang merasa dia kenali. Gadis itu tersenyum dengan tatapan mata yang tidak bisa dilupakan sampai sekarang.


Morrin berjalan indah di dampingi adik-adiknya serta kedua orang tuanya berjalan dibelakang.


Kedua orang tuanya, melihat putrinya di tatap oleh seorang pemuda tampan, tinggi tegak dengan tubuh atletis berbisik kepada adik-adik Morrin.


Menyadari pengertian dari keluarganya, Morrin menghampiri Roman. Dia tahu Roman masih jernih dan bening dari perempuan.


Ini menandakan kalau Roman adalah sosok pria yang baru pertamakali jatuh cinta sama perempuan.


"Ini untuk yang kedua kalinya Allah mempertemukan kita. Dan kita belum saling mengenal!" kata Morrin berdiri dibawah sebuah pohon bunga menghadap Roman.


Tak bisa dilukiskan bagaimana debaran jantung Roman saat itu. Wajahnya yang tampan bersih berubah pucat dan bibirnya sangat sulit untuk digerakkan.


"Sekarang kamu yang pria memperkenalkan diri bukan aku!" lanjut Morrin menatap Roman yang masih kaku.


"Roman Maulana Satria, orang-orang, tetangga, teman, sanak famili serta kedua orang tuaku memanggilku Roman!" timbal Roman berusaha menghilangkan kekakuannya.


Morrin tertawa geli menutup mulutnya, ternyata pria ini berusaha menghilangkan kegugupannya dengan cara menyebut semuanya. Sama seperti pertama kali bertemu.

__ADS_1


"Kenapa tertawa cantik!" ucap Roman membuat Morrin tambah tertawa.


"Kamu selalu memanggilku cantik! memangnya aku cantik?" tatap Morrin sambil memperhatikan bibir dan mata Roman yang masih gugup.


"Iya...! Kamu cantik!" jawab Roman singkat.


"Aku terpaku dengan suaramu, disaat kamu memandangku. Kamu seperti patung, disaat bicara lancar bagai arus air gelombang dilautan!" ucap Morrin berusaha menghilangkan kegugupan Roman.


"Wah..., kamu bicaramu puitis juga!" timbal Roman. mulai hilang rasa gugupnya.


Baru sadar ketika rasa lapar membuyarkan khayalannya. tidak terasa dia menghayal lama mengenang pertama kali dia jatuh cinta.


Roman pun segera keluar menuju ruang makan. Dan di sana dia dapatkan ibunya sudah menunggu.


Marisa segera menyuguhkan roti kesukaannya dan susu hangat.


Tampak asisten rumah tangganya berlari membawa beberapa macam makanan begitu dia tahu tuan mudanya keluar.


Dengan sigap dan lancar BI Minah menyiapkan makanan dan minuman diatas meja.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2