PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE TUJUH PULUH EMPAT: TIDAK DAPAT KAKAKNYA, ADIKNYA GUA SAMBAR.


__ADS_3

Nadira yang tadi diam, tidak mau bicara. Memandang Hadi dengan wajah merah. Matanya tidak berpaling dari wajah Hadi yang meledeknya.


"Awas lu kalau tidak serius, ayo tembak! Mumpung aku disini. Ayo tembak! Tapi kalau tidak Romantis? Mampus lu ku buat," tatap Nadira serius tidak bercanda.


Hadi garuk-garuk kepala cengengesan, bertepatan dengan munculnya Restu, "Hey..., apa-apa an ribut di luar masuk! Kita runding di dalam!" panggil Restu dari depan pintu apartemen.


Mereka berdua serentak beranjak ke dalam. Dengan iseng Hadi merangkul pundak Nadira, Restu kelihatan cemburu melihat Hadi merangkul Nadira.



Pikirannya hampir saja kacau, tapi dengan cepat dia berpikir belum saatnya memikirkan cinta. Sementara Nadira geregetan dengan perbuatan Hadi. "Awas..., suatu waktu aku juga akan kerjakan kamu, tunggu waktunya." ancam Nadira dalam hati.


"Mm..., senang lu peluk gua. Awas kalau di lepas!" Sindir Nadira mengancam Hadi.


"Hehehe sebagai sahabat kan, aku tak akan biarkan kamu sedih?!" gurau Hadi melepaskan tangannya. Membuat Nadira tambah nek.


Setelah kumpul, Restu mulai menceritakan awalnya melihat Ghazan dan Winda. Sampai dia mengikutinya ketempat kediamannya secara diam-diam.


"Jadi..., sewaktu aku meninggalkan cafe, mereka yang datang?!" tanya Hadi.


Restu anggukan kepala, "Benar Di, untung saja kamu kirim photo kedua orang itu. Kalau tidak? Penjahat itu akan lebih leluasa melakukan kejahatannya!" ucap Restu.


Tanpa buang-buang waktu Hadi langsung angkat bicara, "Sekarang mari kita buat strategi, buat mereka tidak lolos! Silakan Nadira kamu yang susun strateginya!" kata Hadi meminta Nadira yang telah berpengalaman dalam dunia mafia.


Nadira menyusun strategi. Di Mana Restu menyusup masuk mencuri barang barang yang bisa dijadikan bukti sekalian menghubungi polisi. Sementara dia dan Hadi akan meladeni mereka untuk bertarung.


"okey siap, let's go kita berangkat ..." ajak Restu. hari ini mereka gunakan satu mobil bergerak dan berdoa terlebih dahulu.


Restu berjalan nyamperin Wandi dengan menyampaikan beberapa wejangan.


Sementara Hadi dan Nadira menuju mobil. Merekapun beranjak menuju sarang Ghazan dan Winda.


💙💙💙💙💙


Tiga pasang sahabat ini, tidak buang buang waktu. Mereka langsung bergerak menuju sarangnya Ghazan dan komplotannya. Tekad mereka sama, yakni menangkap mereka semua.


“Hari ini mereka semua harus tertangkap. Kita tidak perlu tunggu bukti!” ucap Hadi memberi semangat.


“Dia itu buronan kepolisian, kita pasti bisa jebloskan dia ke penjara!” tambahnya.


“Mampus kau hari ini Ghazan!!” dada Restu berdebar debar. Duduk, disamping Hadi yang memegang stir mobil!"


Tak Tanggung tanggung Hadi membawa mobilnya bagai singa yang sedang memburu mangsanya. Wajah ekspresi mereka berbeda-beda. Tapi, Ketiga tiganya ingin cepat sampai ditempat tujuan.


Pada tempat lain musuh bebuyutannya Toni, bersiap siap pergi ke cafe kesukaannya cafe Dapur Asia dan cafe Nusantara. Tapi, cafe yang jadi tujuannya kali ini untuk move on adalah cafe Dapur Asia.

__ADS_1


Toni benci terhadap Ghazan yang telah membunuh pujaan hatinya Morrin, walau sampai hayatnya Morrin tetap menolak. Tak menghentikan niatnya (Toni) untuk balas dendam.


Dulu Toni benci sama Hadi dan Nadira.


Sekarang bencinya pindah kepada orang yang pernah di bayar mahal untuk menghabisi Nadira dan Hadi.


Toni melangkah penuh percaya diri dengan stelan celana jeans dan kaos polos berwarna putih, yang dilengkapi jas navi blazer dan sepatu adidas super star. Turun dari mobilnya dikawal oleh body guard berotot dan kuat.


Langkah kakinya terhenti, saat berjalan beberapa meter didalam cafe dengan gaya yang dibuat sekeren mungkin, agar menjadi perhatian orang banyak.


Matanya terkesima pada pandangan sosok seorang gadis, yang tak mungkin dia percaya karena sangat mirip dengan Morrin.


Berkali kali dia mengusap mata. Tapi, lambat laun senyum tiba tiba menghiasi bibirnya, setelah melihat remaja tanggung yakni Hakim berlari menghampiri si gadis.


Nillam... adiknya Morrin. Uwaaah...


sekarang sudah gadis dan cantik seperti kakaknya. guna Toni bicara sendiri


Toni nyamperin Nillam dengan langkah kaki yang betul betul dibuat keren.


“Pagi! cantik...,” sapa Toni hati hati penuh percaya diri.


Mata Nillam melebar dan mundur beberapa langkah, melihat Toni bersama mengawalnya yang tampak kejam dan menakutkan.


“Aduh..., sayang, tidak usah takut. mereka ini Pengawalku, yang melindung kita dari orang jahat!” ucap Toni kepada Nilam.


"Toni, aku takut melihat orang orang ini!" seru Nilam sambil sembunyi dibelakang Hakim, Nillam tidak berani melihat pengawal Toni.


"O...Nillam takut ya...? Heh, kalian menjauh sana, kesana tu..." seru Toni mengusir pengawal-pengawalnya pergi.


Pada saat itulah Nillam mengajak adiknya lari dan tak menoleh sekalipun Toni memanggil manggil dirinya


“Eh Nillam, mau kemana? Nillam!!!” seru Toni memanggil-manggil Nilam agar tidak berlari. Tetapi Nilam terus berlari


Toni segera mengejar Nillam. Bahwa dia tak perlu takut, karena dia siap melindungi dan menjaganya.


Pada saat Nillam menyetop taksi, sebuah mobil berhenti didepannya dan menyapanya.


“Nillam, kemana?” seru orang itu.


Nillam menoleh kearah orang yang menyapanya didalam mobil. Pak Rifky!


guman Nillam dalam hati.


“Mau pulang pak!” timbal Nilam.

__ADS_1


pak Rifky keluar dari mobil dan menyuruh Nillam dan Hakim naik.


“Ikut bapak saja, ayo naik! Nanti bapak antar sampai kerumah!” ajak pak Rifky.


pak Rifky menyuruh Nillam dan Hakim naik. Tapi, Nillam masih berdiri tampak seperti ragu.


“Ayolah naik, tak apa apa!” pinta pak Rifky lagi


"Iya kak, kita naik aja. Malu, nanti pak Rifky kecewa!" bisik Hakim.


Nillam terpaksa naik karena dipaksa pak Rifky. Tatkala mobil pak Rifky pergi, Toni baru tiba.


"Aduh telat mereka naik mobil siapa ya," guman Toni dalam hati.


Toni memperhatikan mobil yang di naikin Nillam dan adiknya dengan kecewa. Tapi, tak lama dia kembali menghayal sambil tersenyum sendiri.


Tak dapat kakaknya, adiknya tiba tiba muncul menggoda hatiku. kata Toni dalam hati tertawa sendiri.


"Bapak dan ibu ada di rumah?!" tanya pak Rifky.


"iya..., pak! mereka ada dirumah!" sahut Nilam.


"Ada yang mau ku bicarakan! penting!" kata pak Rifky.


"Zaini!" seru pak Rifky pada sopir di sampingnya.


"ya, pak!" timbal Zaini.


" Kita langsung ke rumahnya Nillam dan Hakim, ada hal penting yang mau ku bicarakan dengan pak Imran tentang Nillam!" kata pak Rifky.


Mendengar namanya disebut, Nillam merasa sedikit tak nyaman. Dalam hati dia berpikir yang aneh aneh.


aduuuh, Jangan jangan dia mau jodohkan aku dengan Roman putranya... pikir Nillam dalam hati. Bayang ketakutan sama para body guard Toni seketika langsung hilang.


Akhirnya sejuta lamunan menghiasi hati Nillam. Terbayang bayang wajah tampan Roman dengan senyumannya yang khas serta penampilan cool pada diri Roman.


Sementara di cafe Dapur Asia Toni Marah marah sama semua anak buahnya. Hatinya merasa, kalau dia hampir saja mendapatkan cintanya Nillam. Tapi, gara gara mereka. Nillam jadi takut, dan kabur.


"kamu Yayan!" bentak Toni


"Ada apa dengan saya bos!" timbal Yayan tersentak kaget tiba-tiba di bentak Toni.


Yayan menatap Toni macam tuna rungu yang pengen bicara tapi mulutnya kaku melebar.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2