
Roman tidak mau gagal lagi untuk yang kedua kalinya. Kali ini dia betul-betul bertekad untuk menikahi Nadira setelah menyelesaikan misinya dalam membebaskan ibunya.
Lalu dia berhasil mendapatkan kembali smart phone Nadira yang diculik Winda, disupermarket surya kencana sebagai alat untuk menculik bu Marisa.
Smart phone itu pasti sangat penting bagi Nadira karena disana banyak nomor client dan berkas-berkas penting serta Roman sering melihat Nadira transaksi dengan smart phonenya.
Sekarang sudah tak ada lagi dirisaukan. Mengenai kedua orang tua Winda yang diculik, sudah tidak dipikirkan lagi setelah ibunya sudah ada bersamanya.
Kedua orang tua Winda menurut Roman tinggal.dipulangkan saja. Hari ini Roman santai bertiga diluar gudang penyimpanan barang milik Nadira yang digunakan sebagai tempat tinggal mereka.
"Pak Ipul, jika Nadira kebetulan tanya nama pengantin yang akan menikah pada hari kamis itu. Bilang saja namanya Dhasa Ariani!" kata Roman.
"Disurat undangan yang kita tulis kan, Danastri Luna!" timbal pak Saipul.
"Tidak Apa-apa, dia tidak akan tahu! Toh yang menikah kan aku dan dia?!" kata Roman.
"Kenapa? Tidak terus terang saja, Rom...," kata pak Saipul.
Roman tersenyum sambil memandang jauh wilayah palimanan. Dia tidak mau menjelaskan alasannya kenapa dia menikahi Nadira tanpa sepengetahuan nya.
Roman melakukan itu karena menurutnya biar adil. Sebab, ibunya tidak akan tahu kalau yang menikah puteranya, karena ibunya sampai sekarang masih belum ingat siapa dirinya.
Terbayang dimatanya saat merencanakan pernikahannya dengan Morrin. Rumah besar dan mewah dibangun dengan hasil rencananya berdua.
Belum lagi sudah dipesan tempat pernikahan yang sangat mahal dan dua mobil mewah yang diperuntukan satu untuk Morrin satu untuknya.
Rumah mewah dan mobil mewah itu diberikan kepada orang tua Morrin dan sudah ditempati dan dipakai rumah dan mobilnya. Makanya, pak Imran dan isterinya serta putra putrinya berubah menjadi kaya mendadak.
Apalagi putrinya Nillam diposisikan ditempat yang baik diperusahaan satria group untuk bekerja.
Berbeda dengan pernikahannya yang sekarang yang kesannya sangat sederhana. Kasihan..., guman Roman dalam hati.
🌟🌟🌟
Dipagi yang cerah dan Indah ini tampak bu Adelia dan Nadira tampak sibuk melayani Roman, pak Saipul dan pak Mansur serta pak Sumarto sarapan pagi.
Begitu juga dengan bu Marisa dan Masturi sudah kelihatan membaik. Mereka tampak rukun dan bahagia.
"Ayo dimakan! Anggap saja? Apa yang pernah terjadi, kita anggap kita sedang main sandiwara," kata Nadira.
"Apa yang dilakukan putriku sangat memalukan sekali," ucap pak Sumarto sudah mulai bicara.
"Dia sangat menyayangi kakaknya, sampai dia berbuat seperti itu!" timbal bu Adelia.
__ADS_1
"Ketika dia mendapat kabar kakaknya tewas dalam kecelakaan pesawat ditumpangi dia sok dan terus-terusan menyebut nama kakaknya!" lanjut bu Adelia.
"Aku mengetahui hubungan mereka pada saat Lui berpacaran dengan Leo!" kata Roman mengingat masa itu.
"Mereka masih anak-anak!" kenang pak Sumarto.
"Dan ibuku melarangnya pacaran karena mereka masih kecil!" sahut Roman.
"Seharusnya mereka tidak usah dilarang, tapi dinasehati!" timbal bu Marisa
Pak Sumarto dan bu Adelia saling pandang dengan Roman.
"Mamamu tidak bersalah! Siapapun orang tua pasti melarang anaknya ataupun adiknya berpacaran masih kecil!" bisik bu Adelia.
"Tapi, kan..., dia tidak boleh dimarahi gitu dong!" kata bu Marisa menyela omongan Roman dan bu Adelia.
"Ya, betul ma! mestinya dinasehati tidak boleh kita marahi ya? Ma!" timbal Roman menimbali ibunya. Padahal dialah yang menentang hubungan adiknya Lui dan Leo putra sulung ibu Adelia dan pak Sumarto yaitu kakaknya Winda.
Ya, Allah sesungguhnya hanya engkaulah yang bisa membolak-balik hati manusia. Ibuku tidak sadar apa yang diucapkan tadi.
Dialah yang menentang hubungan adiknya dengan pacarnya termasuk menentang hubunganku dengan Morrin, keluh Roman dalam hati.
Demikian pula halnya dengan ibu Adelia berkata dalam hatinya, seandainya dulu kamu tidak menentang hubungan Lui dengan putraku betapa bahagianya putraku menjalani hari-hari hidupnya.
...----------------...
Winda dan Ghazan duduk berbincang-bincang dengan anak buahnya.
"Hari ini aku dan Ghazan apes sekali, pertama kedua orang tuaku di culik Roman dan Nadira!" kata Winda mulai bercerita.
"Apa? Mereka menculiknya!" tanya Barra kaget.
"Ya, ibu dan bapakku masih disekap mereka!" kata Winda.
"Baru ngah aku sekarang pantes saja dia bilang kalau kedua orang tuamu mau bebas, kembalikan smart phone Nadira." kata Barra.
"Lalu yang kedua, kami diserang Toni dan anak buahnya!" lanjut Nadira bercerita.
"Lagi-lagi si Toni ini sering kali sok jago didepan kita bos!" timbal Zalu.
"Kapan kita bikin kapok mereka!" timbal kokon.
"Bos! buat perhitungan dengan si Toni! Kapan? Kita balas!" pinta Zalu.
__ADS_1
"Kalau kita sudah pulih semua, kita rampok dan habisi harta bendanya! Itulah bakal yang pertama kita lakukan nanti!" kata Ghazan.
"Kemudian, kami dihadang Lui dan Hadi dikafe dan menyerang kami disaat kami sedang tidak berdaya!" kata Winda.
"Mereka semalam yang memporak porandakan kami dan membebaskan bu Marisa dan Masturi!" ucap Gepeng.
"Yah!" keluh Winda
"Dan barusan Roman menggertak kita!" kata Winda menyayangkan harinya yang sangat sial.
"Kalian istirahatlah! Aku mau istirahat didalam!" kata Winda meninggalkan Ghazan dan semua anak buahnya.
"Yap!" jawab Zalu menatap Winda sangat lemah dan lelah.
Hari ini tidak ada canda tawa, teriak manja yang keluar dari bibir Winda yang biasanya terdengar melengking histeris meluapkan gaerah napsunya.
Kadang anak buahnya bergantian mengintip permainan mesra bosnya diatas ranjang.
Sesekali anak buahnya membawa wanita dari luar untuk meluapkan gaerah bira*inya karena tak kuat mendengar ******* Ghazan dan Winda dari luar.
Beda dengan hari ini yang biasanya mereka minum-minum, main game atau main kartu. Segala kenikmatan dunia mereka nikmat tidak peduli adanya hari pembalasan dihari kebangkitan nanti.
Padahal didunia ini kita hidup hanya sementara sedang di akhirat kita hidup selamanya.
Bosan duduk diluar Ghazan bangkit dari duduknya dan masuk kedalam. Didapatinya Winda tidur terlentang hanya menggunakan pakaian dalam saja.
Tak ada gairah sedikitpun dijiwa Ghazan. demikian pula halnya dengan Winda.
"Apa perlu kita kedokter!" tawar Ghazan yang melihat Winda lemah dan tidak bersemangat.
"Tidak perlu! Aku memikirkan kedua orang tuaku!" desah Winda perlahan.
"Kita beda dengan mereka, mereka terlalu lemah untuk melakukan kekerasan. Jadi tidak ada perlu lagi yang dikhawatirkan!" kata Ghazan mencoba menenangkan Winda.
"Bagaimana kalau mereka melakukan kekerasan sebagai balas dendam mereka terhadap mamanya yang kita culik!" kata Winda ragu.
"Tidak mungkin! pak Bisri saja yang ikut terlibat dalam pembunuhan Morrin pacarnya dimaafkan!" kata Ghazan.
"Tadinya aku berharap ada salah satu diantara kita membuntutinya, tapi kita semua seperti ini. Jadi tidak mungkin ada yang kuat untuk kita suruh!" kata Winda.
💜💜💜💜💜
BERSAMBUNG.
__ADS_1