PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE DUA PULUH ENAM: MAMA MENGANCAMKU.


__ADS_3

Seminggu setelah kepulangan Hadi dari rumah sakit terjadi perang hebat antara Roman dan ibunya. Di karenakan Roman jarang sekali pulang ke rumah.


Kadang seminggu, dua sampai tiga hari dia pulang. Lalu pergi lagi ke apartemen, biasanya dia bertemu dengan Morrin. Marisa sering kali menegur dan menasehati Roman. Tapi Roman tidak memperdulikannya.


Puncaknya, Marisa menghadang Roman pas dia pulang, "Roman! nih, pamanmu mau bicara!" kata Bu Marisa mencegat Roman.


Roman menatap ibunya, apa lagi yang akan di lakukan ibu pikir Roman dalam hati. "Paman siapa? Ma...," tanya Roman curiga.


"Paman Yuanmu!" jawab Bu Marisa menyilangkan dua tangannya.


"Paman Yuan?" tatap Roman mengambil hand phone ibunya.


"Halo paman! Selamat pagi...," sapa Roman ramah.


"Rupanya kamu baru pulang ya," timbal Yuan.


"Iya," jawab Roman jujur.


"Maaf Roman. Mamamu memintaku ke Indonesia menjemputnya!" ucap Yuan tanpa menjelaskan alasannya. Roman tidak paham ucapan kakak ibunya ini.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti maksud paman!" timbal Roman.


"Sudah dua Minggu ini ibumu menceritakan masalahnya. Tapi baru sekarang aku bisa bicara denganmu, ibumu sudah tidak mau lagi tinggal di Indonesia!" kata Yuan, paman Roman menjelaskannya.


Dengan penjelasan pamannya yang singkat. Roman sudah paham maksudnya. "Paman, jangan dengarkan mama. Mana bisa mama tinggal di China, sementara dia punya anak dan suami disini!" ucap Roman menjelaskan pamannya.


Marisa yang dari tadi diam, membuka mulutnya. "Aku akan tinggal di China kalau kamu tidak meninggalkan Morrin!" timbal Marisa memandang Roman.


Ingin rasanya Roman menangis mendengar ucapan ibunya. Dia membalikkan tubuhnya menyamping dari ibunya.


"Iya dah paman, aku mau istirahat dulu semoga paman tetap sehat. Salamku sama paman lie dan feng!" ucap Roman mematikan dan memberikan hand phone yang dipegang kepada ibunya.


Pak Rifky keluar dari dalam kamar hendak pergi kerja pas Roman masuk dalam kamarnya.


"Pak! putramu baru saja masuk dalam kamarnya!" lapor Marisa pada pak Rifky.


"Bu..., aku sudah bilang sama kamu. Biarkan saja anakmu menentukan pilihannya, kita tidak usah ikut campur. Kamu kok keras kepala!" kata pak Rifky merapikan dasinya lalu duduk di sopa.


"Enggak! pokoknya aku enggak mau. Aku tidak mau dia dengan perempuan itu!" timbal Bu Marisa dengan wajah berapi-api.

__ADS_1


"Gara-gara perempuan itu, anakku seperti lupa sama aku!" lanjut Bu Marisa jengkel.


"Roman itu..., sangat menyayangi kamu!Dia tidak mau bertemu kamu karena dia menghindar. Dia tidak mau ditekan! Karena kamu melarangnya mencintai Morrin." kata pak Rifky.


"Aku kan ingin anakku punya pasangan yang pantas dengannya!" tatap Bu Marisa ngotot dengan keinginannya.


Pak Rifky tidak mau melawan istrinya berdebat. Diapun segera pergi ke kantor secepatnya, "Aku berangkat dulu, bicaralah baik-baik sama anakmu. Jangan gunakan emosi!" kata pak Rifky pergi meninggalkan Marisa.


Hari hari ini pak Rifky sengaja menyibukkan diri kekantor walaupun sebenarnya tak ada kesibukan. Akan tetapi kebanyakan istirahat di rumah kepalanya seperti mau pecah mendengar istrinya ngomel.


Dengan keadaan seperti ini yang kena batunya adalah yang ada di rumah seperti asisten rumah dan security.


Untung saja ketiga asisten rumah tangganya juga ketiga security yang bertugas dirumah itu sabar dan tidak memasukkannya di hati.


Sesampai di kantor pak Rifky langsung menuju ruang kerjanya. Para karyawan di kantor yang di lewati akan menyapa dan memberi hormat.


Hanya Lui sekertaris kantornya yang tampak cuek dan acuh serta jarang sekali bicara terlihat kali ini ikut memberi salam dan menyapa pak Rifky dengan sopan.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2