PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE TUJUH PULUH SATU: TUKANG PARKIR YANG TAMPAN.


__ADS_3

Dua orang manusia tampak duduk tenang pada sebuah bus antar propinsi jurusan Jakarta- Mataram Lombok dengan misi memburu dan melenyapkan seorang manusia biasa, orang yang diburu tidak pernah sekolah, miskin, kerjanya sejak kecil hanya di jalanan.


Sekarang dia sedang di buru oleh penjahat besar kaliber dunia. Dimana si pemburu ini dalam pengejaran agen-agen rahasia. Diantara yang memburunya adalah FBI, kepolisian India, Pakistan dan Afganistan.


Kedua orang ini mengambil jalur darat agar tidak terlacak oleh petugas, dalam penyeberangan laut pun mereka sangat hati-hati selalu waspada.


Di pelabuhan ketapang saja untuk menyeberang ke Gili manuk mereka tidak berani membeli tiket menyeberang sebagai mana penumpang umumnya.


Mereka lebih memilih kapal bot yang lebih mahal supaya penyamaran tidak terendus petugas, padahal dia berada di Indonesia sudah aman.


Sedangkan kejahatannya bersama Winda saja tidak dilaporkan Roman kepolisi, Hadi dan Nadira tidak habis pikir kenapa Roman melarangnya melapor kepolisi.


"Bos! kapal sudah mau merapat!" seru Kokon kepada bosnya.


"Baik Kon, aku sudah siap naik!" timbal Ghazan.


"Bos! Disini kita harus lebih berhati-hati. Penjagaannya sangat ketat!" seru Kokon lagi memperingati Ghazan. Tampak Ghazan khawatir juga mendengar peringatan Kokon yang memperingati nya.


Mereka sekarang berada pada posisi pelabuhan Ketapang akan menyeberang ke Gili manuk Bali. Lalu melewati lagi satu laut baru sampai ke pulau Lombok. Selat Lombok terkenal sangat dalam dan arus gelombang 🌊 lautnya yang sangat berbahaya.


Ghazan dan Kokon tidak tahu ada beruang merah yang di rampas kebahagiannya sedang berada di kota kecil itu. Seorang pemuda tampan yang sedang mengatur mobil yang parkir.


Para cewek ketagihan datang ke Mall itu walau mereka tidak ada keperluan belanja. Mereka datang ke Mall, tempat Roman bekerja hanya mencari perhatian Roman saja. Tidak sedikit pria di daerah itu kecewa karena ceweknya tersihir ketampanannya si tukang parkir.


Di jalan langko, beberapa meter sebelah barat masjid raya Mataram. Seorang gadis Sholehah baru pulang dari masjid mengikuti pengajian. Langkah kakinya bergerak cepat menuju rumahnya.


Gadis itu bernama Juniar, sudah memasuki gerbang rumahnya yang mewah dan besar. Langkah kakinya terhenti ketika terdengar suara menyapa.


"Kak Jun...," panggil Yeni adiknya. Juniar menatap adiknya yang tampaknya seperti sengaja menunggunya di luar depan halaman rumah.

__ADS_1


Juniar sudah tahu maksud adiknya, biasanya kalau sudah punya keinginan dia akan memohon kepada kakaknya sampai tujuannya tercapai.


"Masuk! Enggak baik nongkrong diluar!" tegur Juniar melototi Yeni.


"Kak..., please..., Temani Yeni ke mall...." pinta Yeni manja kepada kakaknya.


"Lho..., kamu kan baru pulang dari mall? Ada yang kelupaan!" tatap Juniar heran.


"Ayo kak..., temani Yeni kak..., ayo..." pinta Yeni memohon-mohon kepada kakaknya tidak menjelaskan alasannya.


Tidak ada pilihan lain bagi Juniar, Dia harus menemani Yeni. Apalagi adiknya sudah remaja, gadis manja yang harus di jaga tidak boleh berpergian sendiri.


Juniar melangkah masuk kedalam kamarnya. Di belakang, Yenni berlari mengekornya dari belakang. Pak Ridwan ayah sambung mereka duduk santai nonton berita online di handphonenya.


Yanti ibu mereka duduk fokus disamping pak Ridwan menyusun keuangan perusahaan pada laptop nya.


Sepuluh menit kemudian, setelah rapi dengan pakaian hitam menutupi seluruh tubuhnya, kecuali dua bola matanya.


"Ma..., aku ke Mall Nemani Yeni!" ucap Juniar menyalami ibunya pamit dengan santun.


Mata Yanti tampak heran karena Yenni baru pulang dari Mall. "Lho..., kan baru pulang dari Mall?" ucan Yanti ibu mereka.


Juniar menoleh adiknya!


"Ada yang lupa ma..., tugas sekolah!" timbal Yeni manja kepada ibunya.


Semenjak bapak mereka meninggal akibat kecelakaan, Yanti sangat takut membuat keputusan yang salah. Sementara Ridwan pria yang baru menikahi Yanti masih mengikuti alur keluarga ini. Karena menikahi Yanti ada maksud dan tujuan tertentu.


"Iyalah pergi!" kata Yanti anggukan kepala kepada kedua putrinya dengan mata ke layar laptop meneruskan kerjanya.

__ADS_1


Yeni langsung bergegas keluar menuju mobil yang sudah menunggu. Menyusul Juniar melangkah anggun naik kedalam mobil. "Kita mau kemana?" tanya Safar sopir mereka sambil menekan gas mobil agar panas karena belum dipanaskan.


"Ke Mall, tapi nanti parkirnya didepan penjual toko handphone!" timbal Yeni dengan semangat kepada Safar sopir mereka.


Juniar memperhatikan adiknya yang tersenyum sendiri, dia tampak gembira hari ini. "Ada sesuatu yang tidak serius!" guman Juniar dalam hati.


"Kamu mau beli handphone..., handphone kamu kan baru?" tanya Juniar heran dan penasaran, keningnya mengecil penuh tanda tanya.


"Ntar kakak tahu setelah sampai di sana!" timbal Yeni dengan wajah berseri-seri. Juniar di buat tambah penasaran, "Ada apa sih!" guman Juniar ketus dalam hati melihat tingkah laku adiknya.


Hanya Safar sang sopir yang mengerti maksud Yenni. Sekarang lagi ramai cewek-cewek yang membicarakan si tukang parkir mantan preman yang datang dari Jakarta.


Cewek-cewek menyebutnya mantan preman, sebab dia datang dari Jakarta bersama pak Bisri. Pak Bisri adalah preman yang sangat terkenal, temperamental cepat marah. Tapi sekarang pak Bisri berubah menjadi pendiam dan banyak menghabiskan waktunya di masjid.


Tidak lama Juniar dan Yeni telah sampai di Mall dan parkir sesuai yang di minta Yeni. Benar juga dugaan Safar, Yeni bukan berniat belanja, tapi melihat si tukang parkir.


"Ayo..., kenapa tidak keluar!" tatap Juniar yang sudah keluar duluan memandang Yeni seperti mencari seseorang dengan mata liar kesana-kemari.


"Kakak..., sini masuk!" suruh Yeni menyuruh kakaknya masuk lagi kedalam mobil. Juniar menatap tidak mengerti, apa maksud adiknya yang menyuruhnya masuk lagi, diapun masuk lagi mengikuti panggilan Yeni.


"Kakak lihat tuh! Si tukang parkir... Tampan kan?" tunjuk Yeni ke arah si tukang parkir yang sedang bekerja.


Juniar tidak memikirkan laki-laki di benaknya, dia hanya melihat laki-laki yang ditunjuk adiknya.


"Hay kak! Semua orang bilang dia mantan preman! Tapi, tak sedikitpun dia tampang preman!" ucap Yeni tanpa berkedip memandang Roman yang sedang bekerja.


Sementara di luar banyak cewek yang minta Poto bareng sampai sampai Mansur kasihan sama Roman.


Sebagai wanita normal, yang suka sama lawan jenis. Juniar pun merasa kagum juga sama si tukang parkir. Padahal selama ini dia tidak pernah membicarakan laki-laki.

__ADS_1


Tetapi, Karena iman yang sudah mengajarkannya kalau tidak boleh memandang lawan jenis terlalu lama karena bukan muhrim, segera Juniar mengalihkan pandangannya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2