PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE LIMA PULUH DUA: SALING MEMAAFKAN.


__ADS_3

Pak Imran dan Bu Sri sangat terkejut dengan kedatangan orang tua Roman. Walaupun Hadi dan Nadira sudah memberi tahu mereka akan kedatangan pak Rifky dan istrinya yang mau silaturahmi atas meninggalnya Morrin.


"Assalamualaikum pak!" sapa Hadi menyalami dan menghampiri pak Rifky.


"Wa'alaikumussalam, e..., Hadi kamu ada juga disini!" sambut pak Rifky menyalami Hadi.


"Iya pak, mari sama-sama masuk!" ajak Hadi menemani pak Rifky masuk kerumah pak Imran.


Sementara bi Aminah bersama pak Zaini dan Didin memapah Bu Marisa turun dari mobil dan menaikkannya di kursi roda lalu mendorongnya masuk.


"Assalamualaikum...," sapa pak Rifky tersenyum dengan mata berbinar-binar penuh akrab.


"Wa'alaikumussalam!" jawab pak Imran malu-malu menyambut salam pak Rifky dan keluarga.


Pak Rifky memeluk pak Imran sambil menangis dan minta maaf. "Maafkan saya pak!" ucap pak Rifky menangis sedih.


Pak Imran merasa iba melihat kedua orang tua Roman yang datang berkunjung kerumahnya sambil minta maaf. "Sama-sama pak, saya juga minta maaf!" jawab pak Imran.

__ADS_1


"Iya dah, nanti kita bicara orang-orang udah banyak!" kata pak Rifky.


Sedangkan Bu Sri menyambut Bu Marisa yang berlinang air mata menatapnya. "Bu Sri..., aku tidak akan bisa memaafkan diriku. Seharusnya aku sudah menikahkan mereka. Aku menyesal Bu Sri..., aku menyesal!" kata Bu Marisa sambil terus menangis.


Bu Sri langsung membawa Bu Marisa masuk kedalam kamar Morrin lalu di baringkan ketempat tidur.


Orang-orang sudah ramai dirumahnya pak Imran. Tampaknya tahlilan segera di mulai kan oleh ustad setempat. Sebelum tahlil dimulai terlihat pak Rifky berbisik dengan pak RT.


Pak RT menghampiri ustad Kholik yang akan memimpin tahlilan, terlihat ustad Kholik anggukan kepala. Tak lama kemudian pak RT segera mengumumkan acara tahlilan dipimpin oleh pak Rifky. Kemudian pak Rifky dipersilahkan memulaikannya.


Di luar sebuah mobil warna hitam, baru saja tiba dan Alhamdulillah mendapat tempat parkir. orang ini tiada lain adalah Roman yang setiap hari datang menghadiri tahlilannya Morrin. Namun dia selalu tetap didalam mobil sehingga tak satupun keluarga morrin tahu.


Hati Roman bergetar mendengar orang yang mimpin tahlil. Suara ini tidak asing di telinganya, dia mengenal suara ini. Mungkinkah ada orang yang memiliki suara yang sama dengan suara bapaknya? Dan ini adalah tahlil terakhir bagi Morrin almarhumah. Ingin rasanya dia keluar untuk melihat orang yang memimpin tahlilan ini namun dia takut, takut dikenali orang.


Pada tempat yang jauh dari tahlilan, Ghazan dan Winda stay mengadakan pertemuan dengan beberapa orang untuk membahas sebuah rencana agar terbebas dari tuduhan aparat.


"Apa rencanamu selanjutnya Win, setelah tidak ada Morrin sekarang!" tanya Ghazan.

__ADS_1


"Belum ada! Masih menunggu perkembangan ibunya Roman!" jawab Winda.


"Apa informasi yang kamu dapatkan dari sana!" tanya Ghazan lagi menggali situasi dan keadaan.


"Roman menghilang!" jawab Winda memberikan laporan kepada Ghazan.


Ghazan terdiam sebentar untuk memberikan waktu yang hadir bertanya atau menyampaikan sesuatu yang penting. ternyata tidak ada tanggapan dan pertanyaan.


"Informasi yang lain?!" tanya Ghazan lagi setelah tidak ada yang menyampaikan pertanyaan dan tanggapannya.


"Roman menemukan Bros yang kamu berikan kepadaku!" jawab Winda gelisah.


"Kok bisa?" tatap Ghazan serius menatap Winda.


"Maaf aku ceroboh, benda itu terlepas dari bajuku tanpa kusadari di kamar morrin!" timbal Winda khawatir Ghazan kecewa.


"Ini bahaya Lo Win..., bisa jadi bukti dan tuduhan mengarah ke kita!" kata Ghazan memperingati Winda.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2