PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE DELAPAN PULUH LIMA: UNTUK SEORANG SAHABAT .


__ADS_3

"Maaf membuatmu menunggu!" sapa Nadira menyalami Oleng yang menyambutnya di depan pintu cafe.


"Enggak apa-apa juga bos! Kan tidak etis kalau bos yang duluan sampai di sini!" timbal Oleng sedikit merendahkan tubuhnya memberi hormat pada Nadira.


Kerja di tempat Nadira dan kawan-kawannya lebih nyaman bagi Oleng ketimbang kerja dalam kejahatan membuat perasaannya selalu diburu-buru dan di intai sebagaimana dia sekarang mengintai keberadaan bosnya yang dulu.


Usai memberi arahan sambil menikmati minuman dan makanan yang dipesan, merekapun langsung menuju kediaman Winda.


Begitu sampai di tempat yang di tuju, merekapun mencari tempat yang nyaman untuk memarkirkan mobilnya mengawasi dan memperhatikan rumah Winda dari dalam mobil.


"Lihat yang keluar itu bos, namanya Zalu. Ada seorang lagi di belakang rumah itu namanya Barra sedang terbaring sakit!" tutur Oleng memberi informasi pada Nadira.


"Kita tidak perlu lama-lama, cukup mengetahui keberadaan mereka. Hati-hati, jangan kasih mereka curiga. Dan kamu sudah tahu kan tugasmu?!" tatap Nadira memandang Oleng.


"Sudah bos, saya ingat dan akan saya lakukan sebaik mungkin!" jawab Oleng.


"Sekarang, yok kita pulang!" ajak Nadira setelah tahu kediaman Winda dan anak buahnya sembunyi.


Nadira perlu extra kerja keras untuk mengumpulkan bukti dalam menangkap Winda dan Ghazan yang licin dan licik menutupi kejahatannya.


Lelah dalam pikiran dan waktu dalam membongkar kejahatan Winda dan Ghazan tidak seberapa di banding pengorbanan Roman dalam menolong dan membantunya ketika dia dalam keprihatinan.


Mereka kembali ke cafe Nusantara tempat mereka bertemu, untuk mengantar Oleng mengambil motornya yang di parkir di sana.


"Terimakasih bos!" ucap Oleng ketika tiba di cafe Nusantara mengangkat tangan kanannya kepada Nadira.


Nadira menganggukkan kepala lalu meninggalkan Oleng melanjutkan perjalanannya kembali ke kantonya.


------------------⛰️⛰️⛰️-------------------


🌻KITA KEMBALI KE KANTOR🌻 -🏡🏡🏡SATRIA CORP🏡🏡🏡


Di dalam ruangan kerjanya, Restu menatap Nilam masih setengah percaya, gadis cantik didepannya ini empat tahun yang lalu masih kecil sekarang telah menjelma menjadi gadis yang mempesona.


"Jadi yang di maksud karyawan baru oleh pak Rifky itu kamu?" tatap Restu memandang Nilam.


"Iya dan aku tidak menyangka sama sekali akan bekerja di sini!" ucap Nilam tertunduk malu.


"Berarti kita jodoh dong..., sama-sama dipekerjakan oleh pak Rifky di perusahaan ini!" kata Restu candain Nilam.


Nilam masih malu-malu, apalagi Restu menatapnya terus sampai dia menjadi grogi dan salah tingkah.


"Di posisi mana kamu di tempatkan disini!"

__ADS_1


"Belum tahu, tapi aku sudah disuruh kerja! Sejak empat hari yang lalu sebenarnya aku sudah mulai kerja! Tapi baru hari ini aku datang!"


"Okey, nanti kita meeting tentukan tempatmu!"


"Terimakasih!" sahut Nilam.


Ucapan terimakasih yang di barengi senyum bangga akan bekerja, menambah aura kedewasaannya Nilam makin membuat hati Restu hanyut.


Tanpa sadar Restu memperhatikan senyum mengulum indah di kedua belahan bibir Nilam tampak Indah dan manis sekali. Membuat Nilam jadi salah tingkah.


"Jangan memandangku seperti itu kak!" cegah Nilam memandang Restu.


"Kenapa? Ada yang marah?!"


"Ada!" timbal Nilam.


"Benarkah! Kamu ada yang punya!" tatap Restu tidak percaya. Tampak terlihat raut wajah kecewa.


"Iya! Aku sudah ada yang punya!" timbal Nilam serius.


Hambar rasanya suasana di dalam ruangan itu mendengar pengakuan Nilam. Suasana yang tadi terasa sejuk berubah menjadi panas dan gersang.


Tatapan genit di mata Restu hilang seketika, tak ada lagi godaan canda tawa yang terdengar. Yang ada suasana hening dan sepi.


"Pria itu pasti tampan, kaya dan muda!" sambung Restu.


"Enggak juga, pria itu sudah tua dan kak Restu mengenalnya!" timbal Nilam sambil memandang jari jemarinya.


Restu yang tadinya hendak membuka map didepan mejanya ditutup kembali menatap Nilam.


"Aku mengenalnya?" spontan terlontar keluar dari mulut Restu.


Nilam menunduk tidak berani menatap mata Restu, tapi hatinya antara ingin tertawa dan menyesal mengatakan dirinya sudah ada yang punya. Padahal dia cuman nge frank Restu.


"Siapa pria itu," bisik Restu meminta Nilam memberi tahunya.


Nilam menatap Restu heran, kenapa Restu seperti terlihat kecewa padahal tak ada hubungan istimewa diantara mereka. Tapi, Nilam berpikir kalau Restu hanya mengingatkannya agar tidak terlalu cepat memiliki hubungan dengan pria karena dia baru menginjak dewasa.


"Pria itu namanya pak Imran!" kata Nilam menjawab Restu.


"Itu kan nama bapakmu!" sambar Restu jengkel.


"Ya, memang aku miliknya pak Imran bapakku!" tatap Nilam tertawa kecil.

__ADS_1


Restu langsung telungkup lemah diatas meja kerjanya di permainkan Nilam. Dan Restu baru menyadari kenapa dia tiba-tiba ingin tahu segala urusan Nilam padahal Nilam itu adiknya Morrin pacar sahabatnya Roman.


"Aduh..., aduh aduh hampir copot jantungku!" ucap Restu.


Hati Nilam jadi tidak karuan, apakah Restu hanya bercanda atau dia ada suka padanya.


"Okey Nilam, untuk sementara kamu temani aku dulu. Baru kamu mulai kerja kalau tempatmu sudah di putuskan! Okey!"


"Okey!"


"Nanti pulang sama-sama, okey!" pinta Restu memandang Nilam.


"Kalau begitu aku suruh sopirku pulang!" tatap Nilam meminta ijin pada Restu.


Restu kembali di kejutkan mendengar Nilam ternyata Nilam punya sopir.


"Kamu punya sopir!" tanya Restu terperanjat bingung.


Restu berdiri dari tempat duduknya dan bergeser dua langkah agar lebih dekat dengan Nilam. Restu belum tahu kalau kedua orang tua Morrin difasilitasi oleh pak Rifky.


"Iya kak!"


"Kalau begitu suruh sopir mu pulang!" pinta Restu memutar otaknya memikirkan ucapan Nilam.


Jelas-jelas Restu mendengar ucapan Nilam, kalau dia sudah punya sopir. Bibir Restu menganga melihat langkah Nilam yang akan menemui sopirnya, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Pikiran Restu sekarang mengarah kalau Nilam sudah bersuami. Suaminya Nilam pasti orang kaya, sebab kalau Nilam tidak bersuamikan orang kaya dari mana dia bisa memiliki mobil dan memberi gaji sopirnya.


"Kak! Kakak kenapa?"


Restu terkejut tiba-tiba Nilam menegurnya dan Restu tidak sadar kalau Nilam menoleh dan memperhatikannya serta menghentikan langkahnya keluar dari ruang itu.


"Ahg! Endak!"


"Kakak kelihatan bingung! Biar ku jelaskan kakak, agar tidak jadi bingung!" kata Nilam sepertinya paham apa yang membuat Restu kebingungan.


Nilam lalu menjelaskan semua yang ada. Mulai dari rumah dan dua mobil mewah milik Roman yang di berikan ke keluarga almarhumah Morrin, atas permintaan Roman. Termasuk pekerjaan.


Restu baru bergerak kembali ketempat duduknya setelah mendapat penjelasan dari Nilam. Restu menghempaskan tubuhnya ke kursi meja kerjanya dengan keras tanpa di sengaja.


"Sorry Nilam, tubuhku terasa lemas! Kupikir kamu telah memiliki suami hingga kamu memiliki kemewahan yang serba cukup!" keluh Restu lemah.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2