PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
MENCARI JEJAK SIPENCULIK.


__ADS_3

"Buatkan susu panas saja!" ucap Lui kepada si pemilik kedai.


"Eh, bapak! tumben mampir dikedai saya!" ucap Danastri terjejut begitu melihat Hadi.


"Loh! Bu Danastri!" tunjuk Hadi juga terkejut.


"Pagi-pagi! Tugas penting ya?" tatap Danastri.


"Kami mau menemui pak Devan untuk melihat cctv tentang penculikan bu Marisa!" kata Hadi.


"O...,"


Danastri angguk-anggukan kepala. "Pak Devan sudah menyadari jauh sebelumnya lambat laun kalian akan tahu!" ucap Danastri, lalu pergi kebelakang membuat pesanan yang mereka pesan, tidak lama kemudian dia datang membawa pesanan, "Aku sudah hubungi pak Devan, katanya dia akan temui kalian pagi ini!" ucap Danastri sambil meletakan minuman yang mereka pesan.


"Silahkan diminum!" ucap Danastri menyilahkan Hadi, Restu dan Lui.


"Ini tempat milik Danastri?!" tanya Lui.


"Bukan! Ini punya Ibu!" jawab Danastri.


Tidak beberapa lama kedai Danastri mulai ramai berdatangan dikunjungi pelanggannya sebelum pergi beraktifitas di pagi hari ini.


Begitu pula dengan pak Devan, mobilnya sudah berhenti didepah kedai tempat Danastri.


Danastri tampak tersenyum dan memberi hormat kepada pak Devan yang masih didalam mobilnya.


Tidak lama kemudian pak Devan menghampiri Hadi, Restu dan Lui. "Biasanya saya datang kerumah sakit pukul sembilan, tapi karena Danastri memberi tahu saya. Katanya bapak akan menemui saya pagi ini! Saya datang lebih awal!" ucap pak Devan sambil menyalami mereka bertiga.


"Saya harus tahu siapa yang menculik nyonya besar!" ucap Hadi.


"Okelah! Mari kita pergi lihat!" ajak pak Devan.


"Tidak tunggu minumannya dulu!" ucap Restu.


"Itu gampang! Nanti aja dulu" jawab pak Devan.


Jantung Lui mulai deg-degan, rasa rindu kepada kakaknya kembali datang menyelimuti batinnya.


Ya Allah lindungi dan beri keselamatan kepada kakak dan keponakanku, gumannya dalam hati.


Dua mobil sudah pergi meninggalkan kedai milik Danastri menuju rumah sakit yang tidak terlalu jauh.


Pak Devan langsung melangkah menuju ruangan tempat cctv, dimana sudah menunggu velix yang akan memutar jalan rekaman cctv.


Hadi, Restu dan Lui langsung melihat rekaman cctv. Lui kembali mewek begitu terlihat kakaknya mulai dari ketika datang kerumah sakit sampai dia diculik oleh dua orang pria.


"Jadi dua pria ini yang menyamar jadi keluarga bu Asmirah!" tanya Hadi.


"Ya, Dia yang membiayai perawatan Dodo!" jawab pak Devan.

__ADS_1


"Lalu siapa perempuan yang mendorong kursi roda kakakku!" tanya Lui.


"Kamu adiknya?!" tanya pak Devan.


"Iya! Aku adik ibu Marisa!" jawab Lui.


"Yang mendorong kursi Roda itu namanya Mastui!" jawab pak Devan.


Hadi terkejut dan memperhatikan orang yang mendorong kursi Roda ibu Marisa. "Masturi!" mulut Hadi spotan menyebut nama Masturi keluar dari mulutnya.


"Kamu mengenalnya?" tanya Lui.


"Iya, aku pernah menolongnya ketika dia tersesat tak tahu arah pulang!" jawab Hadi.


Pantas saja dia bilang dia membeli ramuan untuk mengobati orang sakit, apakah yang dimaksud orang sakit itu adalah ibu Marisa?! Guman Hadi dalam hati.


Betapa menyesalnya Hadi tidak menanyakan siapa yang sakit.


Lalu mereka bertiga mengambil photo orang-orang yang terlibat dalam penculikan bu Marisa.


"Kami pihak rumah sakit sebenarnya ingin melaporkan kejadian ini kepolisi, tapi Roman meminta kami untuk tidak melaporkannya kepolisi!" ucap pak Devan menceritakan Hadi.


"Oke, dah pak! Kami sekarang sudah tahu perkara yang sebenarnya walau hanya sedikit!" ucap Hadi.


"Kami masih banyak keperluan, kami mohon pamit!" tambah Restu.


"Atas nama rumah sakit, saya minta maaf atas keteledoran kami dan kami terus menyempurnakan kekurangan-kekurangan kami!" ucap Devan kepada mereka bertiga sebelum pergi.


"Biar aku yang cari tahu, siapa dibalik penculikan ini!" kata Hadi.


"Tidak! Aku harus ikut!" timbal Lui.


"Untuk sementara kurasa kalian harus tetap pokus pada perusahaan, nanti aku pasti kasih tahu kalau aku sudah temui siapa dibalik semua ini!" pinta Hadi.


"Kak! Ijinkan aku menemani Hadi mencari kakak dan keponakanku!" ucap Lui dengan mata lembab penuh dendam.


"Lui apa yang kamu ucapkan dalam keadaan emosi. Itu kurang baik," ucap Restu menasehati Lui.


"Kamu boleh membuat suatu keputusan, tapi disaat hatimu sedang normal!" lanjut Restu.


"Kamu tidak tahu, apa yang sedang terjadi didalam hatiku!" keluh Lui.


"Kakakku, yang dalam keadaan sakit, diculik!" seru Lui semakin pedih.


"Sayang..., aku tidak melarangmu! Silahkan lakukan apa yang ingin kamu lakukan, tapi yang kuinginkan kamu melakukannya disaat hatimu sedang tenang!" ucap Restu tampak gelisah dan khawatir.


"Kalau kalian berdua tidak mau melibatkanku! Aku akan melakukannya sendiri!" ancam Lui.


Restu tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah Lui. Keputusannya sudah harga mati sudah tidak bisa dirubah lagi.

__ADS_1


"Hadi! Titip Lui ya?" pinta Restu sedih.


Hadi Hanya menatap Restu, tidak mengiyakan tidak juga menolak.


"Begini, bu Marisa masih berada disekitar Jakarta! Bagaimana kalau kita cari bareng-bareng sambil terus bekerja!" usul Hadi.


"Hari ini aku ada urusan penting! Jadi aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan," ucap Restu.


"Kalau begitu biarkan aku dan Lui mencari keberadaan bu Marisa, nanti setelah urusanmu beres kamu susul kami!" pinta Hadi.


"Sekarang apa yang kamu lakukan!" tanya Restu.


"Aku akan menemui Oleng dan minta bantuannya, siapa tahu Oleng bisa membantu!" jawab Hadi.


Mobil yang dikendarai Hadi melaju dengan kecepatan sedang, ketika hendak memasuki jalan mampang dia melihat Bisak dan Congol orang yang mirip dalam penculikan bu Marisa.


"Lihat! Kebetulan sekali mereka tidak menggunakan helm! Mereka mirip sekali dengan dua orang yang di cctv yang mengerjai security!" kata Hadi menunjuk dua orang didepannya.


"Turunkan aku disini! Nanti naik taksi. Kamu berdua ikuti mereka! Aku takut aku terlambat!" pinta Restu karena dia harus menyesaikan pekerjaan penting.


"Nanti kuberitahu hasilnya!" timbal Hadi agar Restu tidak kepikiran.


Restu turun dari mobil dengan cepat tanpa kesulitan pada saat hadi menghentikan mobilnya dalam sekian detik.


Hadi terus membuntuti Bisak dan congol. Pada saat mereka belok kanan memasuki jalan yang tidak terlalu padat Hadi menghadang motor mereka.


"Aku mau bicara dengan kalian berdua! Pinggirkan motormu!" pinta Hadi memaksa Congol dan Bisak.


Congol dan Bisak meminggirkan motornya ditempat yang aman. Hadi merampas kunci motor mereka berdua agar tidak kabur karena mobil Hadi pada posisi menghalangi pengguna jalan.


"Hay! Kamu kenapa merampas kunci motor saya!" teriak Bisak.


"Biar kalian tidak kabur! Karena ada yang ingin kubicarakan dengan kamu!" bentak Hadi.


Kemudian Lui turun mendekati Bisak dan Congol. Sedang Hadi memarkirkan mobilnya ditempat yang aman.


Dada Lui mulai sesak menahan gejolak amarahnya.


Bisak dan Congol melihat ada kemarahan luar biasa pada Lui.


Tak lama Hadi datang langsung mencengkeram baju punggung Bisak dan Congol. mereka ditarik menuju warung bakso kosong.


Hadi menunjukan rekaman cctv yang direkam kedalam hpnya, "Ini kalian berdua kan!" tanya Hadi.


Congol langsung mengerti maksudnya dihadang dan berpikir mereka pasti keluarga Roman.


"Kalian berdua pasti menanyakan keadaan bu Marisa!" ucap Congol.


💟💟💟💟💟

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2