
"Dimana kita tempatkan pak Bisri. Supaya aman tidak terendus Ghazan dan kronco-kronconya!" tanya Hadi menata Nadira mungkin ada ide darinya.
"Begini, apartemen milik Roman kan tidak ada yang tahu sampai sekarang, kecuali kamu dan aku!" usul Nadira.
"Untuk sementara boleh juga!" kata Hadi menanggapi usul Nadira.
"Kalau begitu, kita berdua setuju. Okey... Sekarang kita menuju apartemen Roman!" kata Hadi tanda sepakat.
Sementara di rumah Roman, Marisa masih di rundung penyesalan atas perbuatannya yang tidak menyetujui hubungan Roman dengan Morrin. Setelah meninggalnya Morrin sampai sekarang dia tidak mengetahui keberadaan putranya.
Sejak menghilangnya Roman, Marisa tidak mau makan. Kini dia terbaring lemah memikirkan putranya dan tidak bisa melupakan chat yang dikirim Roman kepadanya.
Setiap dia mengingat chat yang dikirim Roman, hati Marisa merasa sedih. Dan diapun berteriak mengatakan maafkan mama sayang..., sambil meraung menangis dan setiap dia berteriak seisi rumah terkejut.
Marisa merasakan perasaan hati putranya yang hancur. Apalagi perasaan hancur itu sedang dibawa sendiri. Tak ada tempat bercerita dan tak ada tempat mengadu.
Marisa kembali terbawa arus perasaan penderitaan putranya yang dibawa pergi diapun akhirnya berteriak memanggil-manggil, "Aminah..., Didin..., Rianah...!" teriak Marisa memanggil dua asisten rumah tangganya dan security keamanan rumahnya.
Ketiganya datang berlarian, "Nyonya memanggil saya!" kata Aminah terengah-engah.
"Ini saya nyonya!" kata Didin menyusul, dan terakhir tampak Rianah datang lamban dan santai.
__ADS_1
"Ini saya nyonya...," jawab Rianah pelan hampir suaranya tidak terdengar, selalu lamban dalam segala hal. Sampai-sampai hampir dikeluarkan dari rumah itu. Tapi Roman membela dan mempertahankannya.
"Carikan aku putraku..., suruh dia pulang...," pinta Marisa sambil terisak-isak menangis pilu.
Ketiganya hanya bisa saling tatap dan sedih melihat majikannya yang bagai orang kurang ingatan. Sekarang sangat menyesal atas kesalahannya.
"Heh stt..., ngomong...," bisik Didin mendorong pundak Aminah.
"Eeeee lu yang ngomong!" bentak Aminah nyolot melototi Didin.
Didin memalingkan kepalanya kearah Rianah, "Nah, lu yang tak pernah ngomong sama sekali!" tunjuk Didin pada Rianah.
Rianah yang diminta bicara Didin bukannya menjawab, malah pingin nangis, "Aku tak bisa ngomong...," jawab Rianah mau menangis.
"Maks...," belum selesai Rianah bicara tiba-tiba,
"O..., kalian disini semua...!" tegur pak Rifky. Ketiganya tersentak kaget dengan kedatangan pak Rifky.
"Iya pak!" jawab Didin gemetar ketakutan.
"Pantas aku teriak-teriak tak ada yang dengar, untung ada tukang ojek motor yang bantu dorong pagar!" kata pak Rifky berdiri memandang tiga pekerjanya.
__ADS_1
"Iya sudah..., kalian kembali kerja!" ucap pak Rifky menyuruh seluruh pekerjanya keluar dari dalam kamar tempat Marisa terbaring lemah.
Mereka satu persatu keluar pergi meninggalkan kamar Bu Marisa. Pak Rifky menatap Marisa yang begitu lemah. Dia merasa iba melihat keadaan istrinya terbaring pucat. Sudah berbagai hal dilakukan untuk menemukan keberadaan putranya, tapi sampai sekarang tak ada hasil.
Deeer..., deeer..., deeer... handphone pak Rifky bergetar pertanda ada SMS masuk. Pak Rifky melihat layar hp nya. Mata pak Rifky melebar kaget melihat SMS datang dari putranya.
Jantungnya berdebar-debar, hatinya berteriak kegirangan. Tak pernah dia merasakan perasaan senang seperti ini. Kegembiraan yang dirasakan ini jauh lebih indah dari pada dia memperoleh laba sekian triliun.
Dengan perlahan dibukanya handphone lalu dibaca dengan jantung berdebar- debar.
Pak..., kalau bapak menyayangiku. Tolong datang kerumah kedua orang tua Morrin. Sampaikan permohonan maaf ku yang tak bisa menyelamatkan morrin.
Morrin..., kekasih yang tak terlupakan
sepanjang detak nafasku, detak nafas ini tak bisa hilang hingga saat jari-jariku merangkai kata-kata ini.
Aku..., malu..., bodoh..., Gagal menjaga, melindungi, menolong surgaku.
Air mata ini tak bisa kering.
Dariku yang teraniaya
__ADS_1
Roman.
BERSAMBUNG.