
Para Tetangga Winda tidak ada yang datang lagi setelah tahu kedua orang tuanya ternyata tidak diculik.
Winda segera menarik Zulaikha masuk kedalam rumah menanyakan perihal penculikan kedua orang tuanya.
"Ceritakan Kejadian yang kamu lihat tadi malam!" pinta Winda pada Zulaikha.
"Aku dengar suara mobil bapakmu berbunyi tengah malam, aku kaget terbangun. Kulihat ibu bapakmu tidak ada, aku lari keluar Hadang itu mobil. Begitu aku mendekati pintu sebelah kiri, mobil kabur pergi!" tutur Zulaikha.
"Kamu Melihat siapa? Saja didalam mobil!" tanya Winda.
"Tidak!" jawab Winda.
"Sekarang dengar! Bapak ibuku tidak diculik! Melainkan semalam itu aku antar mereka pergi kebandara!"
"Aduh! Non..., non. Kenapa tidak bilang sama aku? Seharus non bilang dulu, biar aku tidak salah paham! Aku teriak, kupikir penculik!" kata Zulaikha kesal.
"Ku ingatkan sama kamu siapapun yang datang! Ceritakan mereka yang sesungguhnya dan jangan coba-coba menghubungi aku atau memberikan mereka nomor hpku. Terutama polisi paham!" bentak Winda memarahi Zulaikha.
"Aduh, non! Galak amat!" seru Zulaikha melihat Winda yang pergi meninggalkan rumah.
Di kediam tempat Ghazan dan Winda di Palimanan Perkelahian masih berlangsung Satu persatu anak buah Ghazan dipatahkan kaki dan tangannya.
Sedang diluar tidak jauh dari mereka Roman dan Nadira meminta sama Oleng agar bu Marisa dan Masturi dipindahkan kedalam mobilnya.
"Tuan! Kalau Hadi dan Lui tanyakan mereka aku bilang apa?!" kata Oleng.
"Kamu tidak usah takut, bilang saja dibawa Roman! Takut diculik lagi!" jawab Roman.
"Apa tidak sebaiknya kalian tunggu mereka datang atau aku panggilkan!" pinta Oleng.
"Tidak Usah!" jawab Roman lalu pergi membawa Masturi dan ibunya.
Roman dan Nadira begitu prihatin melihat kondisi Masturi, sedang bu Marisa baik-baik saja. Tidak ada luka, lecet maupun lebam.
"Ma...," sapa Roman tersenyum, tapi hatinya perih menjerit. memandang mamanya disampingnya. Ya, Allah kuatkan imanku! Ini hanya sedikit dari batu terjal cobaan yang engkau berikan kepadaku, jerit Roman dalam hati.
Sedang Nadira yang duduk dibelakang mengelus-elus rambut Masturi, "Maafkan kami telah melibatkanmu!" ucap Nadira lirih memandang Masturi.
"Tidak apa-apa non, ini sudah takdir dari yang kuasa!" jawab Masturi.
"Jangan panggil aku non, mulai sekarang panggil aku kakak! Karena kamu masih muda! Dan kamu tidak lagi asisten rumah tangga. Nanti kakak akan cari asisten yang baik!"
"Aku juga! Panggil mamamu ya?" pinta bu Marisa pada Masturi yang masih terbaring.
__ADS_1
Nadira memindahkan tempat duduknya agar kepala Masturi nyaman ditidurkan diatas pangkuannya.
Roman yang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi terhadap siapapun semakin perih dan pilu melihat situasi didalam mobil.
Ibunya memang tidak apa-apa seluruh pisiknya baik-baik saja. Tapi, rasa kagetnya tidak bisa hilang sampai sekarang begitu tahu dirinya dikelabui untuk menculik ibunya.
Yang memperihatinkannya adalah Masturi terluka parah dianiaya dan diintimidasi.
"Kita harus carikan Masturi psikolog untuk menormalkan lagi jiwanya," ucap Roman kepada Nadira.
"Kita bisa minta tolong kepada pak Devan sekalian memberi kabar tentang ibu!" sahut Nadira.
Sekarang mobil Roman sudah masuk langsung kebelakang.
"Astaga! nyonya besar," teriak Pak Saipul kaget campur senang melihat bu Marisa duduk didepan.
Demikian juga dengan pak Mansur yang disamping pak Saipul. Mereka bersamaan berdiri menyambut bu Marisa.
Roman Nadira dan bu Marisa barengan keluar dari mobil.
"Tolong kalian angkat Masturi berdua, hati-hati!" pinta Nadira. Lagi-lagi Pak Saipul dan pak Mansur terkejut melihat kondisi Masturi.
"Dia disiksa dan di intimidasi oleh Winda dan kronco-kronconya.
"Dimana? kalian temukan mereka!" tanya pak Saipul.
Hadi dan Lui menyelesaikan pertarungan sampai azan terdengar berkumandang dengan menang k'o semua anak buah Ghazan patah kaki tangannya.
"Sampaikan salam kami pada bos kalian, tinggal bos kalian yang akan kami patahkan kaki dan tangannya!" ucap Hadi.
Hadi dan Lui bergegas menemui Oleng. "Bagaimana aman!" tanya Hadi sambil berjalan mendekati Oleng.
"Maafkan aku Di, aku sudah meminta sama dia agar dia menunggu kalian, tapi dia maksa!" ucap Oleng mencurigai pikiran Hadi dan Lui.
Betapa terkejutnya Hadi dan Lui yang susah payah membebaskan bu Marisa dan Masturi tidak terlihat didalam mobil.
"Dimana mereka!" teriak Hadi dengan mata merah melototi Oleng, seakan-akan mau menelannya mentah-mentah.
"Roman dan Nadira tadi lewat sini, katanya mau kemasjid dan melihat kamu semua!" jelas Oleng.
"Aku telah memohon-mohon pada Roman supaya menunggu kalian tapi dia tetap saja membawa pergi bu Marisa dan Masturi!" lanjut Oleng menuturkan Hadi dan Lui.
Hadi masih belum mempercayai tapi vidio call datang memanggil dihp Hadi.
__ADS_1
"Di..., nyonya besar dan Masturi ada pada tuan muda!" ucap pak Saipul sambil memperlihatkan bu Marisa dan Masturi yang duduk dan terbaring dilantai luar kamar kedua orang tua Winda yang di tahan.
"Tuan muda! mana?!" tanya Hadi.
"Lagi sholat berjamaah bersama Nadira!" jawab pak Saipul langsung mematika hpnya.
"Aduh! dimataikan lagi!" gerutu Hadi yang masih bertanya.
"Kakakmu ada bersama keponakanmu!" kata Hadi pada Lui.
Lui menangis sedikit menyesali keponakannya yang tidak mau bertemu dengannya.
"Kenapa sih, dia tidak mau bertemu denganku! Padahal aku merindukannya!" kata Lui membekap air matanya.
"Mereka bukan tidak mau bertemu denganmu, tapi mungkin dia punya rencana yang tidak kita ketahui!" bujuk Hadi.
"Kamu ikut kami!" tawar Hadi.
"Tidak usah! Biar mereka tidak mencurigaiku!" tolak Oleng.
"Buat alasan kamu kami hajar diluar dan kabur menyelamatkan diri! Mereka semua ingin kabur menyelamatkan diri, tapi dihadang oleh Lui dan kaki tangan mereka kami patahkan!" kata Hadi menceritakan Oleng sebagai pertimbangannya memberi alasan kepada Ghazan dan Winda.
Hadi merogoh dompetnya dan memberikan beberapa lembar merah kepada oleng. "Nih, ambil!" kata Hadi menyodorkan uang lembaran merahnya.
"Maaf! Sekarang aku ihlas membantu. Tidak mengharapkan imbalan!" kata Oleng menolak pemberian Hadi.
"Oh,sorry! Aku pikir kamu seperti dahulu!" tatap Hadi bengong.
"Malah! Aku mau ucapkan terimakasih dengan uang pemberian kalian dulu sekarang telah berkembang menjadi banyak!" Kata Oleng.
"Alhamdulillah! Tapi, ingat! itu uang halal loh, bukan uang dari kejahatan. Yang hasil kejahatan buang semua! Ya?" kata Hadi.
"Siap, akan saya laksanakan! Tapi, kapan sholat subuhnya!" kata Oleng mengingatkan.
"Terimakasih Oleng telah mengingatkan!" kata Hadi naik mobil cepat-cepat.
Ditempat Roman, mereka telah berkumpul semua. Tidak lama dua pekerja pria Nadira yang bekerja digudangnya ini, datang membawa makanan dan minuman beserta buah-buahan.
Sebelum dua pekerja ini pergi Nadira menahannya, "Tunggu!" tahan Nadira.
"Kamu panggilkan security kesini! Ya, kalau ada orang asing datang dan tidak ada keperluan kamu cegah mereka! Ngerti!" kata Nadira.
"Ngerti non," jawab mereka serentak. Lalu mereka pergi meninggalkan bosnya bersama tamunya.
__ADS_1
💜💜💜💜💜
BERSAMBUNG.