PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE DELAPAN PULUH DUA: ASISTEN BOS MENGGODA ANAK BUAH BOS.


__ADS_3

Zalu terperangah mendengar ajakan Zulaikha. Aduuuh goblok aku, kenapa tidak ngerti melulu ya? Gumamnya dalam hati.


Deg-degan juga dada Zalu yang diajak pacaran oleh Zulaikha. Padahal udah lama jomblo.


"Nah, itu mini marketnya, kita boleh parkir mobilnya di situ!" kata Zulaikha menyuruh Zalu, bagai orang yang udah cukup lama kenal. Zulaikha menggandeng tangan Zalu beranjak dari tempat itu menuju rumah kontrakan kakak iparnya.


"Eihg Zulaikha kemana?" tegur Hasan melihat Zulaikha menggandeng seorang pria.


"Mampir bentar di rumah kamu, sama pacarku!" timbal Zulaikha, mengatur gaya jalannya didepan kakak iparnya yang sedang bekerja sebagai tukang parkir di mini market itu.


"Aaa" seru Hasan, macam orang blo'on melihat gaya tingkah adik iparnya.


"Kenalkan ini pacarku, namanya Zalu!" ucap Zulaikha memperkenalkan Zalu di hadapan Hasan.


Zalu menyalami Hasan memperkenalkan diri, dan Hasan menyambutnya dengan senang hati. Lalu Hasan mengantar adik ipar dan pacar adiknya kerumahnya.


Sementara di tempat lain, tiga sahabat Roman sedang membahas keterangan Oleng perihal Ghazan yang dalam perjalanan menuju Lombok.


"Mudah-mudahan pak Bisri belum ditemukan!" keluh Nadira khawatir, karena pak Bisri orang yang sangat penting dalam mengungkap kejahatan Ghazan dan Winda.


"Bagaimana kalau pak Bisri sudah di habisi!" lanjut Nadira dengan raut wajah makin khawatir.


"Aku akan melaporkannya polisi, bila pak Bisri tewas. Sekalipun tak ada buktinya kalau pelakunya adalah Ghazan!" kata Hadi dengan dada terasa berat.


"Betul, kita juga bisa manfaatkan Oleng sebagai saksi keterlibatan Ghazan sebagai pelakunya, di samping menggunakan pengacara hebat yang ada di Jakarta ini." sambung Restu.


"Kamu kan sarjana hukum, seharusnya kamu bisa menanganinya!" tatap Hadi memandang Restu.


Mereka kumpul bertiga dan terus saling bertukar pikiran membahas perkara ini. Mereka juga semua sangat serius membahas apa yang mestinya mereka lakukan untuk mematahkan niat jahat Ghazan yang pergi ke lombok memburu pak Bisri untuk di bunuh.


Juga hari ini mereka bertiga sepakat menyuruh Hadi ke Lombok menelusuri jejak Ghazan agar pak Bisri tidak berhasil di bunuh. Setelah mengambil keputusan bersama, Restu memberi saran agar Hadi berangkat lebih cepat.


"Berangkat lebih awal lebih bagus!" seru Restu kepada Hadi.


"Aku akan berangkat sekarang juga!" timbal Hadi bersemangat.


Suasana kembali menghangat mendengar keputusan Hadi. Padahal rapat masih belum selesai tapi akan usai beberapa detik lagi. Nadira dan Restu saling pandang mendengar keputusan Hadi yang tak kan mungkin di tolak.

__ADS_1


"Kamu harus hati-hati, Ghazan itu licik dan busuk!" seru Nadira resah.


"Semoga yang maha kuasa memberi perlindungan dan melenyapkan Angkara murka dari setiap macam kejahatan yang sedang mengancam jiwa manusia!" keluh Hadi meluluhkan ke khawatiran teman-temannya.


"Aku akan menggunakan akal dan pikiranku sebaik mungkin serta akan menggunakan fisikku dalam hal-hal tertentu!" sambung Hadi memperhatikan Nadira dan Restu yang berat di tinggal pergi.


"Ingat! Kamu harus tetap menghubungi kami!" kata Restu yang kelihatan resah mengingatkan Hadi.


Restu ingin sekali menemani Hadi kelombok, tapi dia terhalang dengan banyaknya kesibukan dan Restu tidak boleh meninggalkan pekerjaan agar nama perusahaan tetap terjaga.


Begitu pula Nadira, banyak pertimbangan matang yang mereka bicarakan bersama, sehingga keputusan menunjuk Hadi yang berangkat.


 


Dengan kepergian Hadi, Restu menjadi kepikiran memikirkan Hadi yang pergi seorang diri menuju Lombok. Langkah kakinya tampak malas melangkah, namun dia tetap memotivasi dirinya tetap semangat.


Sebelum sampai di tempat kerja Restu mampir dimini market membeli rokok. Restu bukan perokok aktif, dia merokok kalau pikirannya lagi kacau.


Sambil bersiul dia melangkah turun dari mobilnya, tanpa sengaja dia menabrak seorang wanita ketika akan masuk kedalam mini market,


"Houp...," perempuan itu menahan tubuhnya.


"Tak apa-apa bang! Apalagi yang nabrak cakep! Hihihi...," Zulaikha cengingisan senang. Sementara Zalu yang menemaninya sangat terkejut melihat Restu.


Restu tidak dapat mengenali Zalu, sebab Zalu menutupi kepalanya dengan kaos baju oblong dan menggunakan masker.


Zalu cepat-cepat membalikan tubuhnya agar tidak di kenali Restu.


Restu dan Zulaikha melanjutkan perjalanannya menuju pasar, Di mobil Zalu masih kepikiran Restu tetapi dia tetap pokus mengendarai mobilnya.


Kalau tidak ada Zulaikha aku akan ikuti dia dan cari tahu kediamannya, pikir Zalu dalam hatinya. Saking memikirkan Restu sampai tidak terasa mereka sampai di pasar.


"Nah, kamu turun di sini! Sementara aku mau cari tempat parkir!" ucap Zalu meminta Zulaikha turun.


Zalu mencari tempat parkir yang aman dan masih memikirkan Restu yang di jumpai di mini market, saat akan keluar melanjutkan perjalanan menuju pasar.


Zalu mencari tempat istirahat, sambil merokok dia mencoba untuk melupakan Restu dengan mengenang kejadian yang baru saja dinikmati bersama Zulaikha.

__ADS_1


Zalu masih merasakan permainan indah yang di suguhkan Zulaikha di rumah kontrakan kakak iparnya. Ternyata Zulaikha sudah lama menahan hasratnya terhadap lawan jenisnya dan baru beberapa menit yang lalu di puaskan.


Saking Asyiknya mengkhayalkan, apa yang telah dinikmati tadi, seseorang datang menghampiri nya dengan akrab,


"Ngapain disini Zalu!"


ZALU tersentak kaget di sapa oleh seseorang. Hatinya baru adem ketika tahu orang yang menyapanya ternyata Oleng.


"Loh, lu Oleng..., kamu tidak di tangkap!"


"Aku lolos Lu," jawab Oleng, membohongi Zalu.


"Lalu Ogang kawanmu!" tanya Zalu pingin tahu.


"Semuanya kena angkut! timbal Oleng tanpa ragu-ragu.


"Itulah sebabnya aku menggunakan pakaian seperti ini agar tidak dikenali, tapi kamu kok bisa mengenal aku!" tanya Zalu terheran-heran.


"Ya..., tahulah kita kan satu gank!" sahut Oleng dengan tenang menutupi kebohongannya.


Zalu menuturkan semua kejadian saat itu ketika kabur menyelamatkan diri dari amukan Hadi dan Nadira. Begitu juga dengan Oleng mengarang cerita bagaimana dia kabur saat itu.


Zalu mengajak Oleng ketempat persembunyiannya sekarang, di mana dia dan Barra bersembunyi bersama Winda. Belum selesai mereka bincang-bincang datang panggilan dari Zulaikha.


"Ya halo..., baik aku kesitu!" timbal Zaky menjawab panggilan Zulaikha.


"Tunggu bentar ya..., aku ambil barang belanjaan dulu!" ucap Zalu menatap Oleng.


"Iya ya aku tunggu disini!" jawab Oleng.


Oleng tersenyum sendiri karena ternyata tidak ada yang tahu kalau dia berkhianat.


Tak apa-apa berkhianat pada penjahat, Alhamdulillah aku telah berhenti berbuat kejahatan, pikir Oleng dalam hati. Sebentar lagi dia akan ikut ketempat persembunyian Zalu bersama Barra dan Winda.


Untuk menebus dosa-dosanya dia akan membantu tiga sahabat Roman membongkar semua kejahatan mereka.


Dengan tenang Oleng menunggu kedatangan Zalu mengangkat barang-barang belanjaan yang di beli Zulaikha dari dalam pasar.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2