
Tampak Ghazan dan Winda keluar dari bar, dimana mereka menunggu kabar kematian Morrin dari anak buah yang ditugaskan.
Dan semalam dia telah menyuruh seorang wanita yang bernama Eni untuk memindahkan Morrin ketempat yang lebih aman untuk menunggu kematiannya, karena Ghazan dan Winda yakin Morrin sudah terpapar virus mematikan itu.
Usai sholat subuh setelah membawakan Morrin makanan dan minuman pagi itu, Maryam menghembuskan napasnya yang terakhir. Tapi Morrin tidak tahu, dia pikir Maryam tertidur.
Tyla duduk terlihat sangat lemah, dia mendengar diluar ada yang mengetuk pintu.
Tok tok tok...!
"Siapa?" sahut Tyla dari dalam.
Tyla tampak lemah, berjalan gontai keluar. Sedang Nyla tampak ambruk tersungkur jatuh. Tyla sepertinya tidak peduli dengan dua temannya yang meninggal, karena dia sendiri sudah merasa dirinya lemah dan tak bisa berpikir.
Trreeet...., Tyla membuka pintu, "Kamu siapa?" tanya Tyla, yang sebenarnya sudah tidak bisa mendengar dan melihat dengan pasti orang yang bicara dengannya.
"Aku di perintah Ghazan untuk membawa Morrin ketempat yang lebih aman!" timbal gadis itu.
__ADS_1
"Oh! Tunggu! Silahkan duduk, saya panggilkan!" sahut Tyla menyuruh gadis itu duduk.
"Terimakasih!" jawab gadis itu masuk, lalu berjalan santai kedalam melihat-lihat suasana ruangan yang baru saja dimasukinya.
Sedang Tyla berjalan sempoyongan masuk kedalam kamar. Eni Gadis yang di suruh Ghazan menjemput Morrin melihat Tyla jalan sempoyongan. Namun dia pikir Tyla masih sedang mengantuk hingga dia berjalan seperti itu.
Sesampainya di dalam Tyla bukannya ngomong sama Morrin melainkan dia merebahkan tubuhnya perlahan kelantai dan diam tidak bergerak.
Awalnya Morrin tidak tahu apa yang terjadi pada tiga orang yang ditugaskan khusus untuk menjaga dan mengawasinya ini, tapi tiba-tiba saja dia berpikir kenapa tiga orang yang ditugaskan untuk menjaga dan mengawasinya semua tertidur.
Terlintas di kepalanya untuk kabur mumpung ada kesempatan. Morrinpun
Morrin tahu diluar ada seorang wanita yang didengar dari dalam kamar berbicara dengan Tyla untuk menjemputnya.
Dengan tenang Morrin melangkah berjalan keluar membawa kayu yang ditemukan dibawah dipan tempat tidurnya, sebesar tangan dengan panjang kurang lima puluh centimeter. Yang diletakkan dekat samping lemari luar, dekat pintu keluar masuk kamarnya,
"Siapa? ya?" tanya Morrin setenang mungkin menutupi kegugupannya.
__ADS_1
"Saya di suruh Ghazan untuk menjemput Morrin agar dipindahkan ketempat yang lebih aman!" sapa gadis itu tersenyum ramah.
"Hm..., perempuan ini tidak mengenalku!" guman Morrin dalam hati.
kembali Morrin berpikir, agar gadis yang disuruh Ghazan ini tidak curiga terhadap dirinya.
"Dia tidak mau keluar! Mungkin kamu bisa memaksanya!" ucap Morrin dengan dada berdebar. Morrin merasa ketakutan, seolah-olah gadis itu tahu siapa dirinya.
"Hm..., baik! Aku tidak punya waktu lama, pekerjaan seperti ini kita harus cepat dan tegas, bila perlu kita menggunakan pemaksaan! Tunjukan aku mana orangnya!" kata gadis itu terlihat bisa betinanya.
Morrin semakin ketakutan dan khawatir sekali, "Ayok!" timbal Morrin mempersilahkan gadis itu jalan duluan dengan gaya sadis.
Baru saja gadis itu melangkah masuk kedalam kamar ruangannya, Morrin dengan sigap mengambil kayu yang sudah dipersiapkan itu. Dan menghantam kepala gadis itu dengan keras sampai jatuh tersungkur.
Cepat-cepat Morrin menutup pintu itu dan menguncinya dari luar. Morrin berusaha tenang dan mengendalikan dirinya, dan berpikir sejernih mungkin agar tidak ketahuan.
Perlahan Morrin menoleh keluar, suasana diluar tampak sepi karena hari masih pagi. Hanya pak Bisri dan Oleng yang berjaga-jaga, tapi mereka tak melihatnya karena bersembunyi didepan mobil milik gadis yang akan menjemputnya itu.
__ADS_1
Tak bisa digambarkan bagaimana detak jantung morrin saat kabur.
BERSAMBUNG.