
Demikian pula dengan Nadira yang telah banyak di tolong Roman, hati kecilnya berjanji akan mempertaruhkan nyawanya demi selamatkan Morrin.
"Ya Allah..., berikan Roman ketabahan. Kalau bisa tumpahkan kesedihannya itu padaku. Aku rela ya Allah..., aku yang menanggungnya!" bisik Nadira dalam hati sambil membayangkan penderitaan sahabatnya.
Ketiga sahabat ini, betul-betul lupa akan keselamatannya. Mereka melaju dengan kencang agar bisa sampai ditempat yang di tuju.
Polisi yang melihat Roman membawa mobil dengan kencang segera mengejar dan memintanya berhenti demi keselamatannya dan keselamatan orang lain.
Roman tidak memperdulikan peringatan polisi, dia terus melaju dengan kencang. Mau tidak mau polisi harus bisa menghentikan mobilnya yang melaju dengan kencang. Maka kejar mengejar pun terjadi.
Belum selesai polisi berhasil menangkap Roman, sebuah mobil lain melintas dengan kecepatan yang tidak kalah cepat dengan Roman.
Polisi jadi tampak kebingungan, akhirnya mereka membagi diri menjadi dua. ada yang mengejar Roman dan ada yang mengejar mobil yang baru saja melintas.
Baru saja Polisi membagi tugas, kembali lagi satu mobil bikin kacau petugas. Polisi jadi tambah kacau dibuat ditengah ramainya lalu lintas.
Ghazan yang sedang mengemudikan mobilnya dengan santai bersama Winda di salib oleh Hadi.
Sreeeet...., Wiaaaang....,
__ADS_1
Ghazan Terperanjat dan menyumpah nyumpah terkejut saat mobil Hadi nyerempet mobilnya.
"Kurang ajar itu mobil, mau main-main denganku! Okelah!" seru Ghazan mengejar mobil Hadi.
Ghazan yang mengejar mobil Hadi tidak sadar kalau di belakangnya ada mobil polisi yang sedang melaju dengan kencang.
"Zan, ada polisi di belakang mengejar kita!" seru Winda memperingatkan Ghazan.
Ghazan melihat spion mobilnya, ternyata benar polisi seperti sedang mengejarnya. Dada Ghazan deg-degan, "Aduh tamat sudah petualangan ku." ucap Ghazan dalam hatinya.
Muka Ghazan tampak pucat. Dia pikir polisi sudah tahu penyamarannya, "mampus aku!" gerutu Ghazan menoleh Winda.
Pada perempatan jalan Ghazan memutarkan mobilnya ke kiri, jantung Ghazan mulai normal kembali begitu melihat mobil polisi lolos di perempatan jalan.
Di tempat lain, Toni yang di permalukan Nadira duduk seorang diri di cafe Nusantara menikmati beer. Yayan yang biasa menemaninya belum datang.
Toni berpikir keras bagaimana caranya dia bisa mendapatkan cinta Morrin. Bila dia teringat Nadira dan Hadi hatinya jadi sakit. sebab dua orang ini dianggap sering menghalanginya saat mendekati Morrin.
Dia mencoba minta bantuan Ghazan untuk menyingkirkan mereka ternyata gagal. Sedangkan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghalangi mereka, malah dia sendiri yang di permalukan.
__ADS_1
"Hay kawan, kenapa melamun? lu enggak usah melamun. Semuanya sudah ada duit banyak mikirin apa lagi?" tegur Yayan pada Toni.
"Diam lu..., berisik!" bentak Toni menghardik Yayan.
"Iya..., ya! Tapi matanya jangan !tolok gitu dong...," pinta Yayan.
"Eeee..., di suruh diam ngeyel beri masukan kek, agar tidak keok melulu!" tatap Toni tidak senang.
Yayan terdiam berpikir untuk dapat inspirasi agar Toni tidak kalah melulu dalam bersaing memperebutkan wanita.
"Oke, nih aku ada usul!" kata Yayan setelah ada ide.
"Usul apa-an tidak, tidak! Paling paling cari tukang pukul. hasilnya nol!" tolak Toni mentah-mentah sudah enggak percaya lagi sama Yayan.
"Ini lain ton..., dari pada melawan musuh sendirian? Siapa tahu ini pas buat kamu!" rengek Yayan memaksa Toni.
"Okey untuk kali ini boleh! Tapi kalau bertentangan dengan pemikiranku, ku tolak!" jawab Toni menerima usul Yayan, siapa tahu usulannya kali ini masuk akal.
"Nah, gitu dong..., dengar dulu baru nolak!" ucap Yayan senang.
__ADS_1
Yayan berdoa dalam hati semoga apa yang diusul kali ini bisa membantu bos sekalian sahabatnya ini.
BERSAMBUNG.