
Restu membujuk Lui untuk tabah menghadapi cobaa hidup yang dihadapi kakak dan keponakannya.
Lui terus menangis memikirkan kakak dan keponakannya yang entah sekarang dimana.
"Ibu terimakasih ceritanya dan kami tidak perlu lama-lama disini. Kami akan membahas masalah ini dirumah! Apa langkah yang akan kami ambil!" kata Lui mohon pamit yang diikuti oleh Restu dan Hadi.
"Saya akan membantu mencari tahu siapa pelaku penculikan itu!" ucap suami ibu Nursiah geram sambil ikut melangkah mengantar mereka bertiga keluar.
Sedangkan dipantai Tratang dua insan yang sedang memadu kasih masih masih menyatu dibawah sinar rembulan.
"Kak! Kalau Morrin masih hidup dan ternyata orang yang berada didalam kantong jenazah itu orang lain, apakah kakak masih menerima Morrin kembali kesisimu?!" tanya Nadira sekonyong-konyong, mulutnya nyerocos dihadapan Roman yang masih mendekapnya.
"Aku tak mungkin menjawab pertanyaan yang tidak masuk akal!" jawab Roman sambil melepas dekapannya.
"Seandainya Morrin masih hidup tidak apa-apa kamu kembali kepadanya!" jawab Nadira mengikuti langkah Roman masuk kedalam pondok.
Roman tidak mempedulikan ucapan Nadira. Dia terus melangkah menghampiri tempat Pejas dan anak buahnya disekap.
Sebelum dia masuk kedalam kamar tempat Pejas dan anak buahnya disekap Roman menyambar tiga buah selimut dan bantal yang baru dibelinya.
"Nih! Selimut dan bantal! Terpaksa malam ini kalian nginap disini!" ucap Roman meletakannya didekat Congol.
"Pejas! Kamu kenal orang ini?!" tanya Roman menunjukkan photo Morrin.
"Tidak!" jawab Pejas gelengkan kepalanya.
Roman memandang Nadira sambil mengatakan; "Dia tidak mengenal Morrin!" kata Roman.
"Tadi kamu bilang hpku ada ditangan Morrin!" bentak Nadira.
"Photo Morrin tidak seperti photo di hp itu!" timbal Pejas.
Kemudian Roman memperlihatkan photo Ghazan dan anak buahnya.
"Diantara photo-photo ini ada yang kamu kenal?" tanya Roman.
"Yang perempuan itu yang mengaku bernama Morrin!" jawab Pejas.
"Laki-laki itu yang menyuruhku pura-pura minta tolong sama security dirumah sakit itu!" timbal Bisak.
"Apakah kalian tahu kalau sebenarnya mereka mau menculik ibuku?" tanya Roman lagi.
Serentak mereka bertiga menjawab, "Tidak!"
"Motor kalian bertiga ada diluar! Besok kalian boleh pulang!" kata Roman.
__ADS_1
"Sekarang istirahatlah! dan Kamu Pejas! Obatilah luka-lukamu, Nanti kusuruh pak Saipul mengantarnya!" lanjut Roman sambil pergi meninggalkan mereka bertiga.
Bisak berlari mengejar Roman, "Rom! maafkan kami, kami tidak tahu rencana mereka!" ucap Bisak sungguh-sungguh.
"Lain kali kalian harus hati-hati! Kalau kejadian ini terjadi sama orang lain kalian pasti sudah dijebloskan dipenjara!" jawab Roman.
Malam ini Roman tidur dimobil bersama Nadira, sebab pondok ini terlalu sempit hanya bisa ditempati oleh Pejas dan anak buahnya. Sedang pak Saipul dan pak Mansur istirahat tidur diluar kamar Pejas dan anak buahnya.
Roman melihat Nadira tampak telah tertidur pulas dijok belakang, dengan perlahan dia meninggalkan Nadira.
Sebenarnya Nadira pura-pura tertidur dan mengetahui Roman meninggalkannya pergi.
Perlahan Nadira bangun meperhatikan Roman masuk kedalam pondok. Tidak lama kemudian dia melihat Roman keluar bersama pak Saipul dan pak Mansur.
"Besok aku minta kalian berdua kembali kerumah! Kalian cari orang yang bisa mengurusi pernikahan!" ucap Roman kepada Saipul.
"Kamu mau menikahi Nadira?" tanya pak Saipul.
"Sst..., jangan sampai Nadira tahu!" pinta Roman.
"Ini semua bisa saya urus, kamu harus percaya saya, pasti beres!" kata pak Saipul.
"Apa ini semua sudah kamu pikirkan matang-matang? Bagaimana dengan keluargamu yang lain?" tanya pak Mansur.
"Aku hanya kepikiran kedua orang tuamu, keluargamu dan sahabat-sahabatmu!" ucap Pak Mansur.
"Sudahlah! kamu berdua kembali masuk! Istirahatlah!" pinta Roman.
Nadira merasa heran melihat Roman membicarakan sesuatu diam-diam. Apa yang mereka bicarakan dan rencanakan, ini sangat mencurigakan besok akan aku cari tahu dari mereka berdua, guman Nadira dalan hati lalu kembali tertidur.
Menjelang tengah malam ketika Roman mau bangun sholat tahajut dia melihat gerak gerik mencurigakan disaat akan wudhu dengan menggunakan air botol mineral yang diambil dari dalam pondok.
Tiga orang mengendap-endap menghampiri motor yang terparkir dibelakang mobil tempat Nadira tertidur.
Baru saja motor akan dinaiki oleh salah seorang dari mereka bertiga,
Bughk...!
Punggungnya dihantam batu sebesar genggaman tangan.
Aduh...!
teriak yang menaiki motor. "Hey! Mau curi motor ya?" tegur Roman santai.
Dua orang dari tiga kawanan pencuri langsung kabur disusul oleh yang seorang lagi yang kena punggunya oleh batu yang dilempar Roman.
__ADS_1
...----------------...
Keesokan paginya menjelang subuh saat dari kejauhan terdengar samar-samar suara azan, Roman membangunkan semua yang tertidur dipondok untuk sholat subuh.
Mereka semua sholat subuh berjamaah yang di imami Roman. Air mata Pejas dan dua anak buahnya jatuh berderai karena baru kali mendirikan sholat setelah lama absen.
Apalagi usai dzikir dan doa Roman memberikan sedikit tausiah singkat mengenai ancaman bagi orang yang meninggalkan sholat.
Rupanya tausiah yang disampaikan Roman sampai kedalam hati dan perasaan Pejas dan dua anak buahnya.
Diakhir tausiahnya Roman menyampaikan permintaan maafnya kepada Pejas dan kedua anak buahnya. Ini yang membuat mereka tambah sedih dan menyesal.
Dengan sadar Pejas mengatakan; "Rom! Kami yang bersalah, kamilah yang seharusnya minta maaf dan mulai hari ini saya berjanji akan kembali kejalan yang baik!" ucap Pejas sambil menyeka air matanya.
"Alhamdulillah semoga kalian diberikan kesehatan, dilancarkan rezkinya dan kita semua meninggal dalam khusnul hotimah! Amin!" ucap Roman.
"Amin!" ucap mereka serentak.
Pagi ini Pak Saipul memanaskan air dengan menggunakan panci lalu membuat kopi dan teh panas.
Mereka semua yang kemarin berantam mau saling bunuh kini minum kopi dan teh bersama dengan dibalut perasaan hati damai.
Menjelang matahari terbit, Pejas dan dua anak buahnya pamit dengan perasaan haru.
Lalu Roman mengajak Nadira mengitari pantai Tratang. "Pak Ipul, pak Mansur kami tinggal ya? Kami jalan-jalan sebentar disekitaran sini!" ucap Roman sambil kedipkan mata kirinya kepada pak Saipul dan pak Mansur.
"Boleh! Tapi, ingat! jaga anak orang baik-baik!" bentak Pak Saipul candai Roman.
"Alla..., pak Ipul ngeledek ya...?" cibir Nadira sambil memandang pak Saipul dengan sinis.
"Sorry...! bercanda! Jangan diambil hati!" ucap pak Ipul.
Roman dan Nadira meninggalkan mereka berdua dipondok. Setelah mereka melihat Roman dan Nadira sudah jauh, mereka berdua pergi meninggalkan pondok dengan mobil, pulang menuju rumah kotrakan mereka untuk mengurus pernikahan yang diminta Roman.
Ditempat lain, Hadi, Restu dan Lui sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk mencari tahu kehilangan bu Marisa yang diculik dirumah sakit.
Sebelum sampai dirumah sakit mereka mampir di kedai kopi yang tidak jauh dari rumah sakit.
"Bu...! buatkan kopi susu satu ya!" pinta Hadi.
"Saya teh panas! kamu pesan apa!" ucap Restu kepada Lui.
💟💟💟💟💟
BERSAMBUNG.
__ADS_1