
Roman memboncengi Nadira dengan motornya melaju dengan cepat meninggalkan pantai Tratang mencari hotel tempat menginap.
Nanti malam dia akan beraksi menjalankan misi penculikan kedua orang tua Winda yang merupakan usul dari sang kekasih.
Penculikan merupakan tindakan kriminal yang kebanyakan dikerjakan oleh penjahat dan pertamakali dilakukan Roman selama hidupnya.
Berita kalahnya Pejas preman yang paling ditakuti dikalangan preman, dan pedagang kecil. Telah menyebar dan sampai kepada keluarganya termasuk Astri ibunya Toni yang merupakan kakak kandung Pejas.
Dikediaman Toni tampak bu Astri kelihatan panik. Toni yang baru bangun berpikir ibunya panik karena jengkel sama pak Sopian bapaknya.
Uam...,
Toni menguam masih mengantuk padahal hari hampir sudah pukul dua belas siang.
"Ma, bapak kerja ya? Hari ini!" tanya Toni pada ibunya.
"Enggak! Hari ini kuminta dia cuti!" jawab bu Astri.
"Kenapa?!" tanya Toni sambil menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal.
"Cari tahu pamanmu Pejas!" jelas Astri.
"Memangnya kenapa? Dengan paman Pejas!" tanya Toni kelihatan cuek menuju shopa.
"Pamanmu duel dengan preman yang bernama street hooligans!" sahut bu Astri sedih.
"Paman pasti menang! Siapa yang bisa mengalahkan Pejas preman nomor wahid di Jakarta!" sahut Toni bangga.
"Kalah! Dan tak tahu rimbanya!" jawab bu Astri Ketus.
Lama-lama Toni terkejut juga mendengar berita kekalahan pamannya.
"Dari mana mama tahu ceritanya, paman Pejas kalah!" ucap Toni tidak percaya.
"Beritanya sudah menyebar dimana-mana!" jelas bu Astri.
Mata Toni tidak berkedip memperhatikan ibunya yang kelihatan gelisah.
Diluar terdengar suara mobil, tampaknya pak Sopian telah pulang.
"Bapak datang!" ucap Toni.
Bu Astri tampak semakin panik tak sabar menuggu kabar dari suaminya dan berharap adiknya Pejas baik-baik saja.
Pak Sopian masuk dengan langkah lemah, wajahnya tampak kusam karena terlihat lelah.
"Bagaimana pak! Sudah tahu? dimana Pejas?" tanya bu Astri tidak sabar. Dia tak ingin adiknya kenapa-kenapa.
"Aku ketemu dengan Bisak dirumahnya!" jawab pak Sopian.
"Bisak bilang apa?!" tanya Toni.
"Ketika pulang bersama! Pejas sudah tidak terlihat ketika keluar dari simpang tiga pantai Tratang!" tutur pak Sopian.
"Dirumah bapak, juga tidak ada?!" tanya bu Astri. Maksudnya bapak adalah Ayahnya ibu Astri atau kakeknya Toni.
__ADS_1
"Disemua tempat sudah kucari! Pejas tidak kutemukan!" jawab pak Sopian.
"Yang kutakutkan Pejas kenapa-kenapa karena dia pergi dari pantai Tratang dalam keadaan terluka parah!" lanjut cerita pak Sopian.
Kontan bu Astri histeris mendengar cerita suaminya. Yang ditakutkan bu Astri adiknya telah tewas.
Toni yang tadinya santai-santai saja kini wajahnya berubah berang. Dia tidak terima pamannya dibunuh.
"Pak! Mengapa mereka duel, dipantai Tratang lagi!" tanya Toni.
"Geng street hooligans menantang pamanmu Pejas karena telah membantu Ghazan menculik ibunya," tutur pak Sopian.
"Bajingan si Ghazan itu!" ucap Toni Marah.
"Kamu kenal Ghazan, siapa dia?!" tanya bu Astri dengan mata mendelik.
"Dia adalah orang yang telah menculik Morrin!" jawab Toni.
Bu Astri meminta Toni untuk mencari keberadaan pamannya Pejas. Tonipun memanggil Yayan untuk mengumpulkan semua anak buahnya yang dulu.
...----------------...
Mari kita menuju Oleng yang tengah menuju tempat Zalu dan Barra yang sekarang berada diluar gerbang tol palimanan.
Oleng sekarang sudah berada diluar gerbang tol paliman. Tampak dia seperti sedang menghubungi Zalu.
"Halo, Zalu sekarang aku sudah berada diluar gerbang tol palimanan!" tanya Oleng.
"Kamu jalan lurus saja, disebelah kanannya ada kantor dinas pariwisata aku menunggumu disitu!" jawab Zalu.
"Selamat gabung kembali, bos pasti senang!" sambut Zalu.
"Bos dimana sekarang!" tanya Oleng.
"Sedang keluar!" jawab Zalu.
"Pasti bareng Winda!" kata Oleng menebak.
"Siapa lagi?" sahut Barra.
Mereka bertiga langsung menuju sarang mereka yang baru dengan berjalan kaki.
"Didalam ada tawanan yang perlu kita jaga ketat!" ucap Zalu memberi tahu Oleng.
"Tawanan dari mana?" tanya Oleng pura-pura tidak tahu.
"Ibunya Roman dan pembantunya!" lanjut cerita Zalu.
"Uwah...! Perang besar nih!" ucap Oleng.
Sesampai didalam Oleng melihat pak Aini dan pak Ridwan duduk santai menikmati red wine, minuman anggur merah merek lindeman's 46 sweet red yang rasanya manis dan smooth yakni perpaduan rasa rasberry dan cherry.
Walaupun mengandung alkohol tapi tidak membuat cepat mabok. untuk menghindari keteledoran dalam menjaga tawanannya.
"Kenalkan, ini anak buah bos yang dibawa dari lombok!" ucap Zalu memperkenalkan pak Aini dan pak Ridwan.
__ADS_1
Oleng langsung memperkenalkan diri, "Oleng!" ucap Oleng memperkenalkan diri.
"Pak Aini!" sambut pak Aini menjabat tangan Oleng.
"Ridwan!" lanjut pak Ridwan menjabat tangan Oleng.
"Semoga kita menjadi kawan yang baik!" ucap Oleng.
"Iya!" balas pak Aini anggukan kepala sambil tertawa kecil.
Dengan tenang Oleng pura-pura memainkan hpnya dengan bermain games. Begitu ada kesempatan dia langsung mengirim chat kepada Hadi kalau dia sudah gabung menjadi anak buahnya Ghazan.
Oleng memintanya supaya tidak menelponnya. jika ingin menghubunginya dia harus mengirim chat dengan menggunakan nama Erna alasan pacarnya biar tidak ketahuan.
...----------------...
Menjelang malam ditempat yang berbeda, dihotel tempat Roman dan Nadira menginap. pak Saipul dan pak Mansur yang disuruh datang telah tiba di hotel.
"Sayang! tunggu sebentar ya? Aku turun jemput pak Saipul dan pak Mansur dibawah!" pinta Roman.
"Mereka telah tiba?!" tanya Nadira.
"Iya, mereka sudah dibawah!" jawab Roman sambil berlalu meninggalkan Nadira.
Roman melangkahkan kakinya dengan terburu-buru karena dia ingin menanyakan rencananya yang dibicarakan di pantai Tratang.
Sesampai dibawah Roman langsung disambut dengan salam oleh pak Saipul. "Salamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam!" jawab Roman.
Roman mengajak pak Saipul dan pak Mansur duduk dilobi hotel menanyakan rencananya, "Bagaimana apakah kalian sudah menemukan orang-orang yang siap mengurus dan melaksnakan pernikahanku!" tanya Roman.
"0rang yang akan menikahkan kamu sudah ada termasuk orang yang mengurus kewarganegaraan Nadira. Tapi, tempat dilaksanakannya pernikahanmu belum karena kamu keburu panggil aku!" jawab pak Saipul.
"Tempatnya sudah ada, kalau pekerjaan nanti malam sudah beres, baru kamu kembali selesaikan semuanya," ucap Roman.
"Okey semuanya sudah pasti beres!" jawab pak Saipul.
"Biar Nadira tidak curiga mari kita keatas!" ajak Roman tidak mau panjang lebar membicarakan pernikahannya.
Mereka bertiga naik keatas, menunggu jam pergi menculik kedua orang tua Winda.
Roman langsung mengajak pak Saipul dan pak Mansur masuk kekamar tempat Nadira berada.
"Dari sekarang kita bergerak!" ucap Nadira mengajak mereka bertiga begitu mereka tiba.
"Hah!"
pak Saipul dan pak Mansur terjejut. Belum duduk sudah diajak siap bergerak.
"Iya, kalau kita menunggu tengah malam kita terlambat!" jelas Nadira.
"Sekarang pukul sembilan! Saya perkirakan sampai disana pukul satu, baru setengah dua kedua orang tua Winda sudah kita angkut!" lanjut Nadira menjelaskan mereka bertiga.
💟💟💟💟💟
__ADS_1
BERSAMBUNG