PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
MEMBEBASKAN KAKAKNYA DARI PENCULIKAN.


__ADS_3

Begitu Hadi dan Lui dibebaskan malam itu, mereka berdua minta ijin pada pak Rifky tidak pulang, dengan alasan mengejar keberadaan Roman.


Sedang Restu sudah tahu apa rencana mereka, dan Restu kepingin sekali ikut, tapi pekerjaan diperusahaan menumpuk ditambah lagi Lui mengambil cuti semakin menambah kesibukannya.


Kembali Hadi dan Lui ketujuan semula yakni pergi ke Palimanan untuk membebaskan bu Marisa yang disekap disana.


"Kenapa? Lu diam saja ketika diangkut kekantor polisi tidak berusaha membantu gua, ngomong kek, sepatah atau dua patah kata kepada polisi bantu gua!" tegur Hadi ketika sudah bebas dari kantor polisi.


"Mereka itu polisi! Percuma mau ngomong ujung-ujungnya tetap diangkut!" timbal Lui tenang memperbaiki duduknya.


"Mobil gua meliuk-liuk karena ulah pacar gua kataku sama polisi itu, e- lu malah pucat!" sindir Hadi.


"Lha..., pucatlah lu ngaku pacar gua!" toleh Lui.


"Aku kan udah bilang sama kamu, aku harus menghalangi polisi biar Roman dan Nadira lolos! Kalau polisi nanya kita pura-pura pacaran yang sedang bertengkar!" ucap Hadi.


Ada kegembiraan pada raut wajah Lui yang berhasil menyelamatkan keponakannya, "Kamu tahu tidak! Aku lega keponakanku tidak ditangkap polisi, tapi aku kan deg-degan juga diakui pacar lu!" sahut Lui.


"Jangan-jangan lu suka sama gua," kata Hadi.


"Aku memang suka sama lu!" ucap Lui sambil tersenyum menggoda Hadi.


"Enak saja lu ngomong! Mau coba-coba isengen gua!" kata Hadi kesal memandang Lui.


"Aku memang suka sama kamu!" tatap Lui menaikan alisnya memandang Hadi tambah menggoda Hadi iseng.


"Kamu jangan bercanda! Kamu tahu tidak! Apa yang aku pikirkan!" ucap Hadi serius.


"Mikirin gua!" timbal Lui santai.


"Aku mikirin apa yang dilakukan Roman dan Nadira dirumah itu!" ucap Hadi.


Kali ini Lui tampak sungguh-sungguh. "Di!" tatap Lui.


"Apa?!" bentak Hadi.


"Endak, sekarang aku serius! Rumah yang disantroni Roman dan Nadira itu adalah rumah Orang tua Leo kakaknya Winda!" ucap Lui tampak serius.


"Jangan-jangan Winda yang kalian maksud itu Winda adiknya Leo!" lanjut Lui menatap Hadi serius.


"Kalau Winda ini betul adiknya Leo, kenapa dia menculik bu Marisa!" tanya Hadi tidak habis pikir. Yang Hadi tahu adalah Roman menolak cintanya Winda pilihan ibunya Marisa.


"Ya, Sudah! Kita pokus saja kepada kakakku!" kata Lui.

__ADS_1


Malam semakin dingin, Hadi terus membawa laju mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil memikirkan apa yang dilakukan Roman dan Nadira.


Darimana ya? mereka tahu rumahnya orang tua Winda, Apa Oleng? yang kasih tahu!, guman Hadi dalam Hati.


Lain halnya dengan Lui, dia memikirkan kakaknya yang disekap. Terbayang diotaknya kakaknya di intimidasi dan disiksa.


Hadi dan Lui tidak tahu kalau Roman dan Nadira menuju arah yang sama dengannya, bedanya Roman dan Nadira telah lebih dahulu keluar dari gerbang tol palimanan.


Kalau seandainya Hadi dan Lui tidak ditahan dikantor polisi ada kemungkinan Hadi dan Lui akan terus membuntuti Roman dan Nadira dengan tujuan yang sama.


Gudang penyimpanan barang Nadira letaknya lebih jauh satu kilo dari tempat bu Marisa disekap dan arah jalur jalannya sama.


...----------------...


Roman sekarang sudah berada ditempat tujuan, yakni digudang penyimpanan barang Nadira.


Pak Sumarto dan bu Adelia ditempatkan disebuah ruangan yang besar dan bersih serta diperlakukan dengan baik dibelakang gudang penyimpanan barang Nadira.


Beda dengan bu Marisa dan Masturi yang ditempatkan ditempat yang kotor dan sempit serta mendapat perlakuan kasar dari Winda.


Tampak Roman baru saja tiba, dan sedang membuka ikatan tali dan membuka balutan hitam yang dipakai menutup mulut pak Sumarto dan bu Adelia.


"Pak..., bu..., kami minta maaf atas perlakukan kami terhadap kalian berdua. Sekarang istirahatlah dulu disini, besok akan kami kasih tahu apa alasan kami menculik kalian berdua!" ucap Roman sambil menarik Nadira keluar.


"Memangnya apa salah kami diculik!" tanya bu Adelia sinis.


"Putrimu yang gatal itu telah menculik ibunya tuan muda!" bisik Pak Saipul geram kepada bu Adelia.


"Apa?" pekik bu Adelia tidak percaya apa yang didengar.


"Sudah! untung tuan muda baik hati, kalau orang lain! kamu pasti sudah tidak bernyawa!" ucap pak Saipul memelototi bu Adelia.


Pak Sumarto menarik istrinya agar tidak panik dan melakukan hal-hal aneh.


Kemudian pak Saipul dan pak Mansur meninggalkan bu Adelia dan pak Sumarto dengan tatapan sadis keluar dengan menutup pintu rapat-rapat.


"Pak! Apa yang dilakukan putri kita pak!" tanya bu Adelia menangis ketakutan.


"Sudahlah! Kita kan sudah tahu apa saja yang dilakukan putrimu belakang ini!" bujuk pak Sumarto kepada bu Adelia istrinya.


"Mungkin mereka menculik kita untuk ditukar dengan ibunya yang diculik Winda putrimu!" ucap pak Sumarto.


"Kita harus menghubungi Winda!" kata bu Adelia.

__ADS_1


"Kita tak punya smart phone untuk menghubungi Winda, seandainya kita punyapun pasti disita mereka. Mereka bukanlah orang bodoh!" kata pak Sumarto.


Pak Sumarto dan bu Adelia sudah tahu apa yang dikerjakan putrinya belakangan ini. Dia tahu putrinya sering bersama para preman.


"Kupikir orang yang disebut tuan muda ini adalah orang kaya dan kelihatannya dia orang baik, buktinya dia perlakukan kita dengan baik dan sopan!" kata pak Sumarto.


"Ini masih tengah malam, mari kita pergunakan kesempatan untuk istirahat!" pinta pak Sumarto mengajak bu Adelia istirahat tidur.


Mereka berdua mengitari kamar tempat mereka disekap. "Kayaknya tempat ini baru saja diperbaiki, bau cat temboknya seperti masih baru!" ucap bu Adelia.


"Dipan, kasur, sprey dan selimut semuanya masih baru!" timbal pak Sumarto.


Walaupun demikian tidak mengurangi rasa takut mereka.


Hadi baru saja tiba ditempat yang sudah diberitahu Oleng. Hadi memarkirkan mobilnya ditempat yang aman dan mengendap-endap bersama Lui menghampiri tempat persembunyian Ghazan dan Winda.


Hadi dan Lui melihat Ghazan dan Winda keluar dari sebuah rumah dibelakang bangunan yang belum jadi.


"Itu namanya Winda!" tunjuk Hadi.


Lui sangat terkejut hendak melompat menghadang Ghazan dan Winda. Tapi ditahan Hadi.


"Tunggu dulu! tujuan kita membebaskan kakakmu, kalau mereka pergi! Kesempatan kita untuk membebaskan bu Marisa lebih besar!" kata Hadi memperingati Lui yang ingin mencegat Ghazan dan Winda.


"Brengsek kamu Winda!" kata Lui geram.


"Apakah dia Winda, adiknya Leo mantan pacarmu?" tanya Hadi.


"Ya, benar! Dia adiknya Leo!" jawab Lui.


Tidak lama kemudian terdengar Ghazan memanggil Ezra dan Zalu.


"Ezra, Zalu sini!" panggil Ghazan.


"Bos! Mau kemana malam-malam begini!" tanya Zalu.


"Kerumah orang tuanya Winda! mereka diculik!" jawab Ghazan.


"Wah! berani benar! Dia?!" seru Barra


"Mereka tidak tahu! Mereka berhadapan dengan siapa?!" timbal Zalu.


"Kalian kutinggal! Jaga ketat dan awasi betul dua orang itu, ya!" pinta Ghazan lalu mereka berdua naik mobil pergi meninggalkan Barra dan Zalu.

__ADS_1


💜💜💜💜💜


BERSAMBUNG.


__ADS_2