
Pak Rifky kebingungan harus berbuat apa sekarang. Putranya mengirim SMS pertanda dia baik-baik saja.
Aku akan menuruti segala permintaanmu nak, aku akan datang menemui orang tua Morrin. Bila perlu sampai mengemis-ngemis untuk minta maaf. Tidak perlu gengsi demi kamu anakku.
Tadinya pak Rifky tidak mau membangunkan istrinya yang sudah tertidur pulas. Wajah pucat istrinya mengundang rasa iba hatinya.
Mungkin ini bisa jadi obat mujarab menghilangkan rasa rindunya pada putranya. Aku harus membangunkannya kata pak Rifky, "Sayang..., bangun!" bisik pak Rifky perlahan menggoyangkan tubuh istrinya.
Samar-samar Marisa mendengar suara sedang memanggilnya persis seperti suara suaminya, tapi yang memanggilnya adalah seekor burung 🐦 rajawali sedang bertengger di sebuah ranting Cemara berukir indah.
"Marisa..., bangun!" suara itu kembali terdengar menyuruhnya bangun. Kali ini Marisa melihat tampak jelas, Morrin tersenyum mengenakan gaun indah serba putih sedang menggandeng tangannya mengitari taman bunga dan buah-buahan.
Morrin menggandengnya ketempat seorang gadis yang sedang memetik buah anggur berwarna merah terlihat sangat manis dan nikmat. Gadis itu menyambut Marisa dengan ramah memberi hormat.
Marisa di persilahkan menikmati Dari berbagai jenis buah-buahan yang ranum dan segar. Namun Marisa memetik buah yang salah, ketika mencicipi buah itu terasa hambar. Lalu gadis itu memetik buah yang manis dan nikmat diberikan kepada Marisa.
__ADS_1
"Hm..., ini nikmat sekali!" ucap Marisa membelai gadis itu. Terimakasih Nadira kamu telah memetik kan buah yang manis dan nikmat.
"Sayang..., bangun!" ucap pak Rifky membangunkan menggoyang-goyang kan tubuh istrinya yang sedang tersenyum.
Marisa sadar seperti ada yang membangunkannya perlahan matanya dibuka. "Pak...," sapa Marisa lemah meraih tangan pak Rifky.
"Kamu mimpi.. ," seru pak Rifky.
Marisa anggukan kepala perlahan mengiyakan dengan sangat lemah. "Ada berita baik untukmu...," bisik pak Rifky dengan tersenyum manis menambah semangat Marisa.
"Dari putra kita?!" suara Marisa lirih.
Pak Rifky memperlihatkan SMS Roman, kemudian membujuk Marisa makan dan mengajaknya berkunjung kerumahnya morrin untuk silaturahmi sekalian minta maaf sebagaimana permintaan putranya.
Dengan badan masih terasa lemah, Marisa mengiyakan dan berangkat usai sholat Isa.
__ADS_1
Sementara pak Rifky dan Marisa pergi menuju kediaman orang tua morrin. Kita lihat Nadira dan Hadi sudah sampai di apartemen Roman.
Didalam apartemen Hadi dan Nadira memperingatkan pak Bisri, "Kalau kamu mau aman untuk sementara tinggallah disini, tidak usah kemana-mana. Kamu tahu kan..., kerjanya Ghazan, orang-orangnya Ghazan pasti sedang memburu mu dengan bayaran yang tinggi!" ucap Hadi menasehati pak Bisri.
"Kami ikhlas menolong mu, jangan coba-coba kabur dan kami juga berharap kamu ikhlas menolong kami untuk mengungkap kasus ini!" tambah Nadira supaya pak Bisri tidak berpikiran negatif.
"Aku juga menyesal, aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolak keinginan Ghazan dan Winda, akhirnya istriku pun jadi korban. Seandainya istriku tetap berada di tempat perawatan mungkin istriku tidak jadi korban." kata pak Bisri menyesal.
"Wandi..., Parti..., Saripah masuk!" Hadi memanggil seorang security dan dua orang pembantu apartemen itu.
Lalu menjelaskan pak Bisri, "Kalau kau perlu apa-apa tinggal bicara pada ketiga orang ini. Baju, selimut dan lain-lainnya segera kami datangkan!" ucap Hadi.
Usai memberi wejangan pada pak Bisri. Hadi dan Nadira keluar bersama dengan security dan para asisten 🏠 rumah tangga apartemen itu.
Di luar Hadi memperingatkan security dan asisten 🏠 rumah tangga itu agar tetap menjaga dan mengawasi pak Bisri. Karena orang itu sangat penting untuk mengungkap kasus tewasnya morrin.
__ADS_1
Setelah mewanti wanti orang-orang di apartemen Hadi dan Nadira langsung meninggalkan apartemen.
BERSAMBUNG.