
Kadang Roman menolak wanita yang minta Selfi dengan cara sensual dan terlalu rapat. Hingga tak sedikit yang mengatakan, ini preman beneran atau cuman gosip belaka sebab si tukang parkir tampak seperti orang Sholeh.
Apalagi kita di ajarkan agar tidak boleh bertatap-tatapan sama yang bukan muhrim sebab disana ada setan bermain.
Pada saat Juniar berusaha menghindari wajah tampan si tukang parkir. Yeni tiba-tiba menarik tangan kakaknya untuk minta photo.
"Yen ... apa-apa an kamu Yen!" Juniar berusaha menahan tarikan adiknya, tapi dia kalah, karena pengaruh pakaian yang dikenakan.
Secara kebetulan Roman melihat seorang wanita berpakaian serba hitam lengkap dengan cadar sedang ditarik oleh wanita remaja dan si wanita bercadar menolak.
"Kakak! Kita minta photo bareng yok, mumpung sudah tidak ada orang!" tarik Yeni dengan kuat dan keras lengan kakaknya.
pada saat-saat Juniar berusaha menahan tarikan adiknya, terdengar seseorang menyapa dengan sopan.
"Assalamualaikum!" Yeni segera melepaskan tangan kakaknya begitu terdengar ada suara yang menyapanya.
Yeni termangu dengan bibir terbuka melihat orang yang menyapanya. "Wa'alaikumussalam!" jawab Juniar dan Yeni bersamaan.
"Kamu harus belajar kepada temanmu ini, yang menjaga kehormatannya sebagai wanita!" ucap Roman menatap kaca mobil samping kedua wanita itu berdiri. Untuk menghindari tatapan matanya demi menghormati perasaan wanita yang berjubah hitam.
"Dia bukan temanku! Tapi dia kakakku. Aku menarik tangannya karena dia suka sama mas. Mas yang ganteng, tampan... si tukang parkir mantan preman itu kan..." Ledek Yeni tidak sadar.
Yeni tidak sadar telah mempermalukan kakaknya sendiri dan juga tidak sadar telah merendahkan pria yang di kagumi di hadapannya ini. Walau sebenarnya Yeni tidak bertujuan seperti itu.
Namun, Roman tetap tersenyum sopan dihadapan dua adik-kakak yang berdiri didepannya ini.
Berbeda dengan Juniar. Juniar menatap adiknya, lalu menamparnya dua kali. Kemudian meninggalkannya masuk ke mobil. Yeni tertegun meraba pipinya sejenak kemudian memandang Roman, lalu berbalik masuk kedalam mobilnya.
Roman terpaku, berdiri melihat mobil yang berlalu di depannya,
__ADS_1
"Adiknya..., iya adiknya yang mengatakan dia suka sama aku. Tapi, mengapa aku terpaku? Aduh..., aneh! Dadaku bergetar, Sebagaimana pertama aku bertemu morrin dulu!" keluh Roman dalam hati.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
💐KETIKA PERTAMA KALI JATUH ❤️CINTA DADAKU BERGETAR SEPERTI INI. APAKAH AKU JATUH CINTA LAGI?
🌈
💐 AKU YAKIN DI BALIK JUBAH. 🦚 HITAMMU TERPANCAR WAJAH CANTIKMU YANG TULUS.
💝
💐APAKAH AKU MESTI MOVE ON...❤️
MORRIN MAAFKAN AKU.
🧜🏼♀️
BERAT...,
TERASA BERAT, SEBAB DI SAAT KAMU PERGI KAMU SEDANG MENCINTAIKU.
💐💝💐
Roman termenung sambil berdoa, Tuhan..., keputusan ada di tanganmu? Mungkinkah aku jatuh cinta lagi?
Roman, kembali bekerja. Mengatur datang dan perginya mobil. Dengan sabar dia melayani mobil-mobil yang parkir.
__ADS_1
Sedang Safar kembali membawa putri majikannya pulang, Juniar duduk diam dengan menyimpan rasa malu yang tidak bisa diukur dalamnya. Kesalahan yang di perbuat Yeni tidak diduga sebelumnya atau memang ini pertemuan yang di rencanakan Tuhan.
Sesampai di rumah tak ada sepatah katapun yang terucap di mulutnya. Dengan langkah cepat dia menuju biliknya.
Yanti yang sedang duduk santai, melihat kedua putrinya seperti ada masalah jadi kepikiran, "Yeni..., ada apa?" tegur Yanti heran.
Biasanya setiap mereka pulang dari berpergian anak-anaknya mengucapkan salam. Tapi hari ini, yang terlihat langkah cepat kaki Juniar menuju biliknya disusul adiknya Yeni berlari mengejar.
"Kakak..., kak Juniar? Buka pintunya. Maafkan Yeni!" teriak Yeni di balik pintu Juniar. Yeni menggendor-gendor pintu kakaknya berkali-kali.
Yanti segera nyamperin Yeni, "Kakakmu, kalau dia sudah seperti ini..., sudah tak mau di ganggu. Biarkan, nanti dia akan baik sendiri!" ucap Yanti menarik Yeni pergi dengan cara merangkul pundaknya.
Dengan halus, Yanti mengajak putri bungsunya pergi meninggalkan tempat bilik Juniar menuju kamar biliknya.
Menjelang sore menuju malam tiba, Roman sudah bersiap-siap berganti tugas dengan tukang parkir yang lain. Bersiap-siap pulang kerumah menikmati hasil keringatnya bekerja selama seharian.
Mereka menghitung jumlah hasil pendapatannya hari ini. Kemudian hasilnya itu di bagi tiga, satu bagian di berikan kepada petugas Mall sisanya dibagi dua dengan Mansur.
"Berapa semuanya?" tanya Mansur.
"Dua ratus empat puluh ribu!" jawab Roman.
"Berarti kita sama-sama delapan puluh ribu!" seru Mansur.
"Sip..., ayok kita pulang!" ajak Roman meninggalkan Mall. Mansur pergi ke pengelola Mall menyerahkan setorannya hari ini, sementara Roman berjalan nyamperin motor buntut milik Mansur.
Roman merasakan apa yang di rasakan oleh orang miskin, mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya peras keringat mencari sesuap nasi menyambung hidupnya.
Sementara para pejabat yang korupsi menghabiskan uang negara untuk keperluan pribadinya, hidup senang dan saling pamer kekayaan. Padahal bukan miliknya, tapi milik semua orang.
__ADS_1
BERSAMBUNG.