PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
KAMPUNG YANG INDAH


__ADS_3

"Aku hampir saja memaksa Ghazan dan Winda untuk minta penjelasanya tentang paman! Tapi polisi keburu datang waktu anak buahku menyerangnya!" kata Toni kepada ibunya.


"Gimana sih, kalian kerja! Gagal-gagal terus!" sahut bu Adelia kecewa.


"Aku telah berusaha keras untuk cari keberadaan paman!" timbal Toni lemah.


"Kita pasti akan tahu keberadaan pejas! Bersabarlah ma," pinta pak Sofian.


"Gimana aku bisa sabar pak, Pejas sekarang aku tidak tahu keadaannya!" timbal bu Adelia sangat mencemaskan adiknya.


Sementara Pejas yang sangat dicemaskan sedang berjalan terseot-seot ditepi jalan raya, kira-kira lima kiloan dari pantai trantang.


Dia berjalan sangat lemah menahan lapar dan dahaga, sudah dua hari dia kehabisan uang.


Dia tampak seperti gembel, rambutnya acak-acakan, sorot matanya kosong tiada semangat.


Motor yang dia gunakan untuk menyendiri ditaruh ditempat yang sepi dan aman yang sewaktu-waktu bisa saja diambil orang.


Pejas mendekati sebuah warung yang ditunggu wanita setengah baya ditemani suaminya.


Dua orang pria duduk diluar pada balai kecil semacam pos ronda di samping warung.


"Bu..., aku mau jual motorku untuk beli nasi, aku lapar!" ucap Pejas menatap kebawah menghindari supaya sipemilik warung tidak takut kepadanya.


Sipemilik warung dan suaminya mengira pejas kurang waras karena dia sendiri berjalan kaki terseot-seot lalu menawarkan motor.


"Motormu mana? Lha..., kamu sendiri jalan kaki!" kata si ibu tertawa kecil tersenyum.


"Motorku kusimpan ditempat yang aman, motorku kehabisan bensin dan aku tidak punya uang untuk membeli minyak bensin!" jawab Pejas.


Sipemilik warung dan suaminya menatap Pejas sambil berpikir, sedang dua orang pria yang duduk disamping warung nampak berbisik kecil.


"Itu kan Pejas!" bisik kelor tak sadar terlontar dari mulutnya sambil memperhatikan Pejas dengan seksama.


"Hei, kau kenal dia! Itu kan gembel!" kata Haidar heran memperhatikan kelor yang memandang Pejas dengan teliti, seakan-akan mengenal Pejas yang disebut gembel.


"Dia mantan bosku saat aku masih preman!" ucap Kelor menjelaskan Haidar sambil bangkit berdiri menghampiri Pejas.


Dengan hati-hati Kelor mendekati Pejas sambil terus memandangnya, seakan akan apa yang dilihatnya seperti mimpi.


"Bos! Kaukah itu?" tegur Kelor. Matanya tidak berkedip memperhatikan Pejas. Dia takut kalau dia salah lihat.


Dengan perlahan Pejas mengangkat kepalanya menoleh kearah orang yang menyapanya.


Betapa terkejut Kelor saat tahu apa yang dilihatnya, ternyata memang benar orang yang didepannya adalah Pejas mantan bos premannya.


"Astaga..., bos! Kenapa bisa seperti ini?" kata Kelor iba melihat bosnya.

__ADS_1


Pejas tidak berkata apa-apa, dirinya hanya diam menatap Kelor.


"Ayo bos! Duduk!" kata Kelor mempersilahkan Pejas duduk diwarung.


"Bu..., siapkan bos saya makan dan minum!" pinta Kelor tahu kalau mantan bosnya tampak sedang lapar.


"Bos?" timbal sipemilik warung tampak bingung


"E, eh ya!" sambung sipemilik warung segera ambil piring.


"Cepat, ya bu..., bos saya tampak lapar sekali!" pinta Kelor.


"Kamu dan temanmu tidak makan ya?" ucap sipemilik warung.


"kopi saja!" sahut Haidar yang sudah ada disamping Kelor.


"ya! Saya juga kopi!" sambung kelor.


Pejas tampak pucat dan lemah setelah seharian mencari tempat makan. Sejak kemarin dia tidak pernah mengisi perutnya, untung saja hari ini ada Kelor melihatnya.


Kelor merasa iba melihat mantan bosnya yang dulu sangar dan beringas. Tapi, sekarang tampak seperti singa terluka yang baru saja kalah bertarung dan memang benar dia baru saja kalah bertarung.


"Bos! Usai bertarung melawan..., siapa sih namanya? lupa?!" tanya Kelor kepada Pejas yang baru saja selesai makan.


"Street hooligans!" jawab Pejas tampak mulai segar.


"Itukan nama gengnya bos!" timbal kelor.


"Mm..., setelah itu bos tidak pulang?" tanya Kelor.


"Tidak!!" jawab Pejas gelengkan kepalanya.


"Hingga saat ini?" tanya kelor lagi.


"Ya, hingga saat ini!" jawab Pejas sambil ambil tisu dan tusuk gigi, lalu menusuk giginya mengeluarkan sisa sisa makanan yang masih terselip digiginya.


Haidar yang dari tadi diam mendengar percakapan kawannya, buka suara.


"Sebaiknya bapak pulang! Biar keluarga bapak tidak resah!" nasehat Haidar.


Pejas tidak menghiraukan nasehat Haidar, "Lor, aku mau minta tolong sama kamu!" ucap Pejas mengalihkan pembicaraannya.


"Minta tolong apa? bos!" kata Kelor memandang Pejas.


Lalu Pejas menjelaskan kelor kalau motornya ditaruh disebuah tempat yang aman dan meminta kelor mengambil dan menjualnya untuk kebutuhannya.


"Ini surat-suratnya, semuanya atas namaku!" kata Pejas menyodorkan BPKB dan STNK motornya.

__ADS_1


"Coba lihat!" pinta Haidar.


Kelor memberikan surat-surat motor Pejas yang baru saja disodorkan kepadanya.


"Kita lihat saja motor itu dulu baru nanti aku yang bayar!" kata Haidar.


...----------------...


Pejas menunjukan tempat motornya ditaruh dengan menggunakan mobil milik Haidar pada sebuah kebun milik orang yang ditutupi dengan beberapa daun batang pohon kelapa.


Didalam kebun milik orang lain Pejas bersama Haidar dan Kelor mendapati pemilik kebun sedang memeriksa motornya.


"Maaf pak! Saya telah menitip motor ini dikebun bapak, tampak sepengetahuan dan seijin bapak!" ucap Pejas kepada sipemilik kebun.


Sipemilik kebun terperanjat dengan kedatangan tiga orang yang tidak dikenal ini, "Kalian siapa?! begal ya? Jangan jangan ini motor hasil kalian merampok!" ucap sipemilik kebun mundur beberapa langkah dan siap siaga kalau dirinya diserang secara tiba tiba.


"Pak! Bapak jangan salah paham dulu, beri kami menjelaskan!" pinta Haidar.


"Kalian telah membuat saya kaget, datang secara tiba tiba tanpa menyapa atau memberi salam!" bentak sipemilik kebun.


"Kalian memang rampok ya?" lanjut sipemilik kebun tetap siaga.


"Coba jelaskan bapak ini, agar semuanya jelas!" kata Haidar kepada Pejas.


Pejas masih tampak lemas dan lelah walaupun dia sudah makan. Dia tampak seperti tak bergaerah.


"Begini pak! saya kehabisan bensin dan saya tidak kuat mendorong motor saya akhirnya saya taruh disini!" kata Pejas menjelaskan kepada si pemilik kebun.


"Kalian pikir saya percaya penjelasan kalian!" kata sipemilik kebun masih tidak percaya.


Kemudian Pejas memperlihatkan surat surat motor miliknya kepada sipemilik kebun. Sipemilik kebun akhirnya percaya setelah melihat surat surat motor milik Pejas.


Lalu motor milik Pejas didorong oleh Kelor setelah melalui perdebatan sengit dengan sipemilik kebun.


"Setelah motormu saya bayar, apa rencanamu selanjutnya!" kata Haidar dalam perjalanannya menuju rumahnya.


"Entahlah! Aku tidak tahu!" jawab Pejas singkat.


"Kenapa kamu tidak pulang saja kerumahmu!" kata Haidar.


Pejas menarik napas, duduk tersandar malas didepan samping Haidar sambil memandang jalanan yang dilalui.


Haidar mempercepat laju mobilnya agar cepat sampai kerumahnya. Lima belas menit kemudian Pejas telah sampai kerumah Haidar.


Sebuah kampung yang besar dan bersih. Berderet rumah rumah yang indah serta megah.


Haidar turun dari mobilnya yang diikuti oleh Pejas dan Kelor. Lalu mereka melangkah menuju lobi halaman depan yang sudah tersusun kursi ukir yang sangat indah.

__ADS_1


💜💜💜💜💜


BERSAMBUNG.


__ADS_2