
Ghazan, Winda, Barra dan Kokon duduk berempat membahas apa yang di bisikan Barra di cafe Sarinah. Mereka membahas hasil penemuan Kokon.
Kokon mendapat kabar dari temannya. bahwa, orang yang mereka cari dan merupakan target mereka ternyata sekarang berada di Lombok.
"Barra, tadi kau bilang! Pak Bisri sudah kalian ketahui keberadaannya. Benar...," tanya Ghazan memandang Barra.
"Benar bos..., aku tadi di call temanku. Pak Bisri sekarang berada di Lombok bos...," sahut Kokon meyakinkan Ghazan.
"Apakah kamu mengetahui posisi atau tempat tinggalnya di Lombok?!" tanya Winda.
"Iya saya tahu, malahan semua tempat kebiasaannya berada saya tahu!" jawab Kokon.
"Bila begitu, saya minta kalian semua merahasiakan pertemuan kita ini. Sebab kabar yang saya dengar pak Bisri pernah di tangkap dan ditahan Hadi dan Nadira, tapi dia berhasil kabur!" kata Ghazan memperingati anak buahnya.
Ghazan memperingati anak buahnya agar betul-betul kerja profesional. Kerja sungguh-sungguh, berpikir cerdas dan bertindak yang tepat.
Pekerjaan baru telah datang, merekapun membagi tugas. Ghazan membagi tugas menjadi dua, tugas yang pertama adalah yang stay di Jakarta. Lalu yang kedua adalah yang pergi ke Lombok memburu dan membunuh pak Bisri.
Tugas yang kedua ini harus di lakukan oleh yang sudah matang dan berpengalaman. Karena tugas ini mengandung resiko yang sangat tinggi.
Mereka memutuskan Winda Stay di Jakarta, Ghazan dan Kokon kelombok berdua. Dan mereka harus berangkat hari ini juga, lebih cepat lebih baik.
Winda ngotot ingin ikut menemani Ghazan, tapi tidak di perbolehkan oleh Ghazan, "Kon..., kita berangkat hari ini juga. Kita jangan buang-buang waktu!" kata Ghazan.
Kokon menyiapkan segala keperluan Ghazan dan dirinya yang dibantu oleh teman-temannya yang lain. Mereka langsung berangkat menuju Lombok untuk mencari dan melenyapkan pak Bisri.
__ADS_1
Tidak jauh dari kediamannya, dua anak buahnya yang bernama oleng dan Gepeng sedang mengejar mata-mata yang telah membuntutinya pulang.
Kelihaian Wawan tak perlu di ragukan lagi. Wawan telah menyusun rencana untuk mengelabui Gepeng, pada saat yang telah di perhitungkan. Wawan mengendarai mobilnya dengan kencang meninggal kan Gepeng. Gepeng terkesima kaget dan tak mau kalah, diapun segera mengejar ketinggalannya.
"Siap-siap pak!"
dalam beberapa detik saja, Wawan ngerem mendadak dan pak Restu langsung keluar lari bersembunyi.
Gepeng yang mengejar Wawan dengan kecepatan tinggi tidak dapat mengendalikan mobilnya,
Srrreeettttt...., Gepeng ngerem mendadak hampir saja menabrak pengendara lain. Gepeng melintas jauh melewati Wawan. Disitulah Restu turun tanpa dilihat oleh Gepeng.
Wawan tancap gas setelah Restu turun meninggalkan Gepeng yang sedang berseteru dengan orang yang hampir di tabrak. Gepeng dan Oleng di kerumuni orang banyak.
sekarang Restu menjalankan mobilnya pulang dan dia tidak sabar untuk menangkap orang-orang yang terlibat di dalam pembunuhan Morrin.
Setiap hari setiap malam tiga orang sahabat Roman yang bernama Hadi, Nadira dan Restu diselimuti duka. Duka kehilangan sahabat yang amat mereka cintai. Keberadaannya yang tidak diketahui jadi duka yang mendalam dihati mereka.
Marisa ibu kandung Roman jatuh sakit memikirkan putranya yang sampai sekarang tak diketahui keberadaannya. Dia sangat menyesal tidak merestui hubungan mereka.
Dalam tidurnya Marisa sering mengigau kenapa..., aku tidak menikahkan mereka. itulah ucapan yang sering terlontar dari mulutnya.
Roman adalah putra tunggalnya, Dia merupakan cahaya yang menerangi kehidupan rumah tangganya. Maka dengan hilangnya Roman prahara badai kehidupan telah datang meluluh lantakan kebahagiannya.
Setelah lepas dari kejaran anak buah Ghazan, Restu menekan gas mobilnya menuju rumah kediaman Roman. Jantungnya berdebar-debar setelah bertahun tahun tak menginjakkan kaki di rumah 🏡 itu.
__ADS_1
Didin dan Aminah berbincang-bincang di lobi rumah itu, mereka terperanjat melihat mobil Roman berhenti di depan pintu gerbang.
Didin berlari membuka pintu gerbang, tampak raut muka Didin terlihat tegang. Didin menarik napas setelah tahu yang datang bukan Roman begitu juga dengan Aminah.
Restu keluar dari dalam mobil, "Assalamualaikum!" sapa Restu memandang Aminah dan Didin. Di Wajah mereka terpancar kesedihan.
"Wa'alaikumussalam!" jawab Didin, terperanjat. Didin masih mengenal Restu yang merupakan teman sekolah sekaligus sahabat setia Roman.
"Mudah-mudahan dengan kedatanganmu, penderitaan nyonya bisa terobati!" ucap Didin mengeluh sedih.
Didin mengawal Restu yang tampak terkejut mendengar keluhannya, masuk menuju tempat Marisa terbaring. Air mata Marisa terus mengalir dalam keadaan mata terpejam. Marisa tidak dapat berbuat apa-apa selain air mata yang berlinang di pipinya.
Marisa menceritakan meninggalnya Morrin, dan hilangnya Roman. Hingga ke penyesalan yang tiada ujungnya, dalam mata masih terpejam dan dia tidak tahu telah kedatangan sahabat putranya.
Restu menitikkan air mata melihat Bu Marisa terbaring lemah. "Mengapa musibah ini menimpa mereka ya..., Allah...," Restu merintih dalam hatinya.
Rintihan Restu menusuk kedalam tidur Marisa, Marisa membuka matanya, "Res...tu...kah i...ni," ucap Bu Marisa lirih.
"Aku Restu ma..., yang kuat ma...," tangan Bu Marisa di genggam, Air mata Marisa kembali menetes mengalir membasahi pipinya.
"Ma..., aku janji ma..., akan bawa pulang Roman!" bisik Restu menahan air matanya.
Restu melangkah keluar, dibalik pintu kamar Bu Marisa dia tumpahkan air matanya. Dia menangis sejadi jadinya tanpa mengeluarkan suara. Hanya air matanya saja yang berlinang sambil mengepalkan tangannya.
"Betapa kejamnya kamu Ghazan! Tunggu pembalasanku!" ucapnya sambil gigi gemeretak ingin menelan Ghazan, dan orang-orang yang telah membuat keluarga sahabatnya menderita.
__ADS_1
BERSAMBUNG.