
Adikku telah berjasa mempertemukan aku dengan pria Sholeh dan tampan.
Tapi...,
Aku menamparnya..., kasihan...,
ucap Juniar dalam hati tersenyum sendiri. Juniar lebih kaget lagi saat ketahuan dia melihat Aisyah dan Shopi menertawainya melamun tersenyum sendiri.
..."Ketahuan..., bicara sendiri, tertawa sendiri. Lagi kasmaran ya? Dari tadi kami sengaja berdiri di situ!" ujar Aisyah menggoda Juniar....
..."Curang kalian berdua! Awas ku balas nanti!" ancam Juniar....
Hihihi..., Aisyah dan Shopi tertawa menggoda Juniar. Wajah merah padam tak bisa disembunyikan Juniar karena malu.
Acara pertemuan tampaknya sudah selesai. Para undangan satu persatu telah meninggalkan acara pertemuan.
Tampak pak Athaya sedang menyalami Roman yang akan pergi. "Terimakasih pak! Dengan kehadirannya!" ucap pak Athaya.
"Sama-sama!" timbal Roman
Roman Pun pergi meninggal kan kampus dengan nyamperin motor buntut milik Mansur. Terlihat pak Athaya merasa iba melihat Roman yang menggunakan motor buntut tua dengan suara ribut.
Banyak pengalaman yang didapat Roman setelah berada di Lombok. Diantara pengalaman yang paling berkesan dan tak di lupakan selama hidupnya adalah merasakan hidup miskin.
-------------------🌟🌟🌟-------------------
Pertarungan di kediaman Ghazan di Jakarta makin sengit. Walaupun mereka bertiga, tapi mereka mampu memporak porandakan kediaman Ghazan.
Nadira bertarung habis-habisan mengeluarkan seluruh kemampuannya melumpuhkan anak buah Ghazan. Oleng yang paling gigih menghalangi Nadira masuk kedalam, kena batunya.
Nadira mengorbankan dirinya memperdayai Oleng dengan cara memperlihatkan dadanya yang *****.
Mata Oleng lengah saat melihat si kembar milik Nadira yang di perlihatkan kepadanya. pada saat Oleng lengah itulah Nadira melepaskan tendangannya dengan sangat keras kearah lambung,
Buuuuughk.
Oleng langsung terjerembab tidak berkutik. Cara ini sering di lakukan Nadira dalam melumpuhkan lawan-lawannya di dunia mafia.
Ke empat teman-teman Oleng tetap mengurung Nadira, sekalipun pimpinan sudah tidak berkutik lagi.
Nadira tidak mau berlama-lama diluar, maka diapun segera menyelesaikan ke empat teman Oleng yang masih bertahan.
"Teman-teman kalian mesti berhati-hati, sebab betina ini sangat licik!" ucap Timal yang berbadan tegap seperti tentara.
__ADS_1
"Dasar rampok! Kamu yang licik!" bentak Nadira sambil melepaskan satu tendangan ke arah perutnya.
Hiyaaat..., Iyaaat..., kaki kanan Nadira membidik sasaran kearah dada Timal,
Eiiit..., uuups...,
Timal berhasil menangkis tendangan Nadira dan menarik kakinya saat Nadira menerjang kaki kanannya.
Namun,
Buuuuk..., Nadira berhasil menghantam dada teman Timal yang lengah sampai Ling lung seperti orang mabuk lalu ambruk.
"Teman-teman serang terus...." ucap Timal memberi semangat kepada teman-temannya.
Hyaaat..., mereka bertiga serempak menerjang Nadira untuk mengacau pikiran Nadira.
Nadira terbiasa bertarung menghadapi puluhan orang, maka tidak sulit baginya untuk mengatasi serangan timal yang menyerangnya secara bersamaan.
Buk buk Duk..., secepat kilat kaki kanan Nadira kembali memakan dua korban sekali gus dan melepaskan tangan kirinya pas ke mulut timal.
Pluuuus....,
Tak ampun lagi timal pun mengalami hal yang sama, sebagaimana tiga kawannya dan Oleng ambruk tidak berkutik.
Demikian pula dengan Hadi yang menyelinap masuk mencari Winda, beberapa anak buah Ghazan ambruk berjatuhan satu persatu tidak berkutik.
"Tadi kulihat Barra menghalau si penyusup di sana!" ucap Zalu bicara sendiri menunjuk arah di mana bayangan yang dilihat Winda bergerak mengendap-endap.
Zalu melihat Barra berdiri sempoyongan setelah berhasil melewati Hadi yang sedang menghajar kawan-kawannya.
Barra terlihat tidak sadarkan diri, dia memegang kepalanya dan menghajar Zalu yang di pikir lawan. "Aku ini Zalu..., Barra!" ucap Zalu kasih tahu Barra.
"Oh, Sorry. Tolong aku Zalu!" pinta Barra memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Baik, Barra pegang aku!" kata Zalu memapah Barra.
"Winda mana?" tanya Barra
"Aku tidak melihatnya? Mungkin sekarang dia di ruang rahasia!" jawab Zalu memapah Barra menuju ruang rahasia.
Ketika Winda hendak kabur, dia melihat Zalu memapah Barra, "Ayo cepat naik!" seru Winda.
Winda memperhatikan seluruh pertarungan dari tempat rahasia dan dia tahu semua anak buahnya terpojok.
__ADS_1
Dengan tertatih-tatih Barra di papah oleh Zalu naik ke dalam mobil Winda. Winda langsung kabur mengendarai mobilnya lewat jalan rahasia. Jalan rahasia yang di buat ini tembus kebelakang.
Restu yang bertugas mencari dokumen penting untuk di jadikan bukti dalam memenjarakan Ghazan dan Winda tampak memporak porandakan setiap kamar.
Hadi dan Nadira telah menyelesaikan tugasnya. Para anak buah Ghazan di interogasi satu persatu menanyakan keberadaan Ghazan dan Winda. Padahal Winda berada di rumah ini tapi dia tidak ikut bertarung.
"Sekarang jawab yang benar dan jujur, sebelum aku menggunakan cara lain untuk memaksa kalian menunjukkan keberadaan pimpinan kalian!" kata Hadi mengancam semua anak buah Ghazan.
"Ini siapa? Namanya yang jelek ini!" tanya Nadira menunjuk Oleng yang tadi paling gigih menghadapi Nadira.
Oleng melirik Nadira sambil ketakutan, dalam hati Oleng memuji kecantikan Nadira yang montok dan bahenol.
Aduuuh, gimana rasanya ya? Perempuan yang kayak gini, ucap Oleng dalam hatinya. Seandainya Tuhan ciptakan aku, kayak dua temennya itu. Pasti aku bisa mencicipi gadis cantik yang seperti ini, pikir Oleng melirik Nadira.
"Kamu!" tunjuk Nadira melototi Oleng. Oleng menunduk ketakutan.
"Sini!" ucap Nadira menarik tangan Oleng, keluar jauh dari teman-temannya yang ketakutan.
Nadira menatap Oleng yang tampak sangat ketakutan, "Ku beri kamu hadiah, asalkan kamu tunjukkan dimana keberadaan bosmu!" kata Nadira menawarkan Oleng.
"Teman-teman mu tidak boleh ada yang tahu rahasia kita dan ku jamin keselamatan mu!" bisik Nadira lagi.
Tanpa pikir panjang Oleng langsung menatap Nadira dengan serius. Tapi masih terlihat ada keraguan di hati Oleng.
"Kami bukan penjahat seperti kamu, jadi tak ada yang perlu kamu sangsikan!" ucap Nadira meyakinkan Oleng.
"Ini namanya penghianatan dan nyawa taruhannya!" seru Oleng menatap Nadira.
"Seperti yang ku katakan tadi aku menjamin keselamatan mu!" ulang Nadira meyakinkan Oleng.
Oleng sebenarnya bukan takut kepada Ghazan dan Winda. Oleng bukan orang bodoh sebagaimana teman-temannya.
Oleng tahu Ghazan adalah orang asing, dia tinggal di Indonesia ini ilegal. Jadi tak perlu ada yang dia takutkan, tapi karena dia butuh uang maka dia bekerja sebagai anak buahnya.
"Baik, aku bersedia mengungkapkan keberadaan di mana Ghazan berada saat ini tapi bukan disini!" ucap Oleng menerima tawaran Nadira.
"Yang ku mau kesanggupanmu bekerja sama denganku! Mengenai dimana kamu memberitahu kami itu terserah kamu!" kata Nadira senang
Tidak lama Restu keluar dengan raut wajah kecewa, karena tak menemukan bukti untuk memenjarakan Ghazan dan Winda.
"Gimana? Apakah ada bukti yang kamu temukan!" tanya Hadi kepada Restu.
Restu menggelengkan kepala, "Tidak ada Di," jawab Restu dengan lemah.
__ADS_1
Nadira muncul mengajak Hadi dan Restu pergi meninggalkan kediaman Ghazan dan para anak buahnya yang terluka parah.
BERSAMBUNG