PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
AKIBAT CINTA YANG TIDAK DIRESTUI.


__ADS_3

Security penjaga gudang milik Nadira segera menghadap bosnya setelah diberitahu dua pekerja gudang.


"Bos! panggil saya!" kata Torak menghadap ke Nadira.


"Ya!" jawab Nadira.


Torak duduk dengan kedua lutut jongkok menyentuh lantai menunggu apa sebenarnya yang akan diperintahkan bosnya.


"Tor! Kami akan tinggal lama disini, entah sampai kapan saya tidak tahu! Yang saya sarankan sama kamu! Jangan sampai ada orang lain boleh tahu!" ucap Nadira.


"Jadi..., kamu harus stand by ekstra ketat menjaga orang-orang yang keluar masuk selama dua puluh empat jam digudang ini, suruh dua pekerja membantu kamu!" kata Nadira lagi.


"Siap, bos! Saya akan melaksanakan apa yang bos perintahkan!" jawab Torak.


"Ya, sudah! Kembali bekerja!" kata Nadira.


Roman menanyakan perihal keadaan Masturi yang sakit begitu Torak pergi, "Dir, kalau kamu menyuruh Torak untuk melarang siapa saja datang kesini. Bagaimana bisa kita mendatangkan dokter untuk mengobati Masturi!" kata Roman.


"Aku sudah menghubungi pak Devan dan dia akan mengirim pakar psikolog untuk menangani Masturi. Dia sangat antusias sekali dengan kembalinya mama serta bilau titip salam kepadamu!" kata Nadira.


"Kapan pakar psikolog itu datang!" tanya Roman.


"Nanti pakar psikolog itu akan menghubungi kita kalau sudah didepan!" jawab Nadira.


Roman ingin melihat Masturi cepat sembuh, dia tidak tega melihatnya terbaring terlalu lama menahan sakit.


Apalagi dia melihat Marisa ibunya, duduk membelai Masturi penuh dengan kasih sayang seperti membelai putrinya sendiri.


"Mas...! Kalau ada makanan dan minuman yang kamu inginkan, bilang sama kakak!" kata Roman kepada Masturi.


Rasa sakit yang dirasakan ditubuhnya serasa hilang tatkala dia mendengar kata, bilang sama kakak.


Sebagai gadis desa miskin yang tidak pernah merasakan indahnya kehidupan! Masturi tidak menyangka ada seorang pemuda tampan! Yang tutur katanya lembut dan sopan! Yang tidak mau dipanggil tuan muda, mau menganggapnya sebagai adik.


Apalagi ibunya sedang membelainya dengan penuh kasih sayang seperti menjaga dan merawat putrinya sendiri.


"Maaf, kak! Aku boleh minta tolong...," ucap Masturi lemah.


"Boleh! Silahkan ucapkan!" kata Roman gembira melihatan Masturi mau bicara.


"Aku mau minum wedang jahe hangat!" pinta Masturi sangat lemah sekali suaranya.


"Apalagi?! Dik!" kata Roman semakin semangat.


Masturi tambah bersemangat setiap mendengar tutur kata yang terlontar dari mulut Roman!

__ADS_1


"Aku juga mau buah biji pala, lidah buaya dan madu," ucap Masturi.


Bu Marisa langsung berdiri mendengar permintaan Masturi hendak pergi keluar.


"Tunggu dulu ma, mama mau kemana!" tahan Roman.


"Aku mau belikan Masturi biji pala, lidah buaya dan madu disupermarket!" kata bu Marisa.


"Bu..., Apa yang diminta Masturi sudah ada!" bujuk Nadira.


"Pak Mansur! Ambilkan yang disebut Masturi tadi!" kata Nadira sambil kedipkan matanya.


"Baik!" timbal pak Mansur segera keluar.


"Mari! Kita tunggu pak Mansur!" kata Nadira mengajak bu Marisa duduk kembali.


Berkat gerak cepat dan kerja sama para karyawan Nadira, apa yang dibutuhkan Masturi sudah datang.


"Ini wedang jahe hangatnya silahkan diminum!" kata pak Mansur menyodorkan segelas wedang jahe yang disambut Nadira.


Bu Marisa memapah masturi duduk dengan perlahan, "Ayo diminum!" kata bu Marisa yang disuapi Nadira dengan sendok.


Masturi memaksakan dirinya minum wedang jahe sebanyak yang dia mampu lalu berbaring lagi.


"Dua buah biji palanya dihaluskan lalu campur dengan lidah buaya yang sudah dihaluskan juga, kemudian campur dengan dua sendok madu dan air secukupnya!" kata Masturi mengajarkan pak Mansur.


"Pak Mansur ngerti enggak!" tanya Nadira.


"Saya ngerti!" timbal pak Saipul.


Sementara menunggu pak Mansur dan pak Saipul membuatkan ramuan obat luka dan lebam Masturi.


Roman masuk kedalam kamar pak Sumarto dan bu Adelia. "Selamat pagi? Pak.. Bu.. Sayang sekali sarapan paginya tidak dihabiskan!" sapa Roman dengan ramah.


"Mari keluar! Mungkin didalam terlalu terlalu sumpek!" kata Roman.


Pak Sumarto dan bu Adelia tidak habis pikir tentang Roman. Tumben baru kali ini dia menemukan seorang penculik yang karakter sopan dan baik.


"Ayo!" kata Roman mengajak pak Sumarto dan bu Adelia.


Pak Sumarto merangkul isterinya ragu-ragu keluar dari dalam, mereka berdua mendengar percakapan orang yang berada diluar, malahan mereka sempat menguping pembicaraan mereka. Tetapi, tak ada hal mencurigakan yang didengar.


Sesampai diluar Roman menunjuk Masturi yang terbaring sakit.


"Pak! Bu, lihat. Dialah yang diculik lalu disiksa dan di intimidasi oleh putri kalian," kata Roman menceritakan pak Sumarto dan bu Adelia.

__ADS_1


Ibu Adelia terperanjat kaget melihat Masturi yang separuh tubuhnya lebam dan luka-luka.


"Dia dibebaskan dengan seluruh tubuhnya masih terikat!" lanjut Roman menceritakan pak Sumarto dan bu Adelia.


Pak Sumarto dan bu Adelia tidak menyangka putrinya bisa sekeji itu.


"Aku sudah mengingatkan Winda! Agar tidak meneruskan rencananya dan memaafkan bu Marisa!" ucap bu Adelia.


Roman dan Nadira terkejut mendengar ungkapan bu Adelia.


"Apa? Rencananya? Dan apa? Kesalahan mamaku!" tanya Roman heran dan penasaran serta tidak paham apa yang pernah dilakukan ibunya terhadap Winda.


"Winda mau balas kematian kakaknya! Dan menuduh bu Marisa penyebanya," kata bu Adelia menceritakan Roman.


Mata Roman tumben mendelik dan hampir melontarkan kata-kata kasar pada bu Adelia. Dia tidak mengerti apa yang dikatakannya.


"Bu Adelia, bicara yang jelas kematian kakaknya yang seperti apa ibu maksud!" tanya Roman lagi tidak sabar, ingin mendapat penjelasan yang sebenarnya.


"Winda tidak terima kematian kakaknya Leo yang tewas dalam kecelakaan pesawat, karena hubungan cinta kakaknya tidak disetujui oleh bu Marisa!" tutur bu Adelia.


Nadira tersentak kaget mendengar cerita bu Adelia. Karena beberapa bulan yang lalu Lui pernah menceritakan perihal cintanya dengan seseorang yang bernama Leo.


"Bu..., Aku tahu tanteku Lui pernah berpacaran dengan Leo, tapi aku tidak tahu Winda adiknya Leo!" ucap Roman menjelaskan pak Sumarto dan bu Adelia terus terang.


"Aku berharap, maafkan putriku! Ijinkan aku menasehati dan meluruskannya!" kata bu Adelia.


"Untuk menebus kesalahan putriku, aku bersedia menjaga dan merawat Masturi sampai sembuh!" kata bu Adelia.


"Aku rasa Winda tak akan mau mendengar ibu!" kata Nadira.


Bu Adelia sangat tidak tega melihat Masturi yang terbaring sakit, dia menghampiri Masturi, "Aku tidak menyangka putriku bertindak sekejam ini!" ucap bu Adelia dengan perlahan menyentuh tangan Masturi.


"Bu Marisa! Kenapa ibu Marisa diam saja! Apa ibu Marisa juga marah padaku?!" kata bu Adelia memandang bu Marisa.


"Mamaku hilang ingatan! Dia tidak ingat siapa-siapa!" kata Roman menjelaskan bu Adelia.


Bu Adelia kembali terkejut mendengar Roman, Apa yang dilihat hari ini semakin membuatnya tegang.


"Ini pasti gara-gara Winda!" kata bu Adelia sedih. Demikian pula halnya dengan pak Sumarto yang dari tadi diam menyimak percakapan semua orang yang ada.


Pak Sumarto tidak bisa berbuat apa-apa selain menyesali perlakuan putrinya yang diluar batas.


💜💜💜💜


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2