
"Kamu tunggu sebentar, aku mau nyamperin bos!" pinta Barra pada Kokon pergi meninggalkannya sendirian.
Barra masuk kedalam cafe nyamperin Ghazan, lalu berbisik ditelinganya membuat Restu menjadi curiga dan memperhatikan tingkah laku mereka.
"Orang-orang ini mencurigakan, membuat firasatku jadi curiga. Aku harus memperhatikan mereka secara diam-diam, siapa tahu mereka ini adalah pelakunya." bisik Restu dalam hati.
Tidak lama kemudian mereka semua keluar meninggalkan cafe Sarinah. Seiring menghilangnya dua mobil dari pandangan mata Restu, chat dari Hadi datang. Mata Restu terbelalak melihat dua foto yang dikirim Hadi.
Segera Restu nyamperin mobilnya tanpa buang waktu, langsung mengejar mobil Ghazan dan Barra. foto yang dikirim Hadi sama dengan orang yang dilihat di cafe Sarinah tadi.
Dada Restu berdebar hebat membayangkan dirinya berhadapan dengan penjahat besar pembunuh morrin kekasih sahabatnya.
Jalan raya Sudirman Thamrin menjadi saksi dirinya mengejar seorang pembunuh. Suatu kebanggan bagi dirinya, bila dapat menangkap penjahat yang telah merenggut nyawa kekasih sahabatnya.
Sebenarnya bisa saja Restu memberi tahu Hadi, kalau dirinya sekarang sedang membuntuti mobil penjahat yang telah merenggut nyawa Morrin.
Tapi, melihat Hadi yang tampak letih dan pucat dia tidak tega untuk memberitahukannya.
Pada saat Restu berhasil menyusul mobil Ghazan dan Winda, dari arah yang berlawanan Nadira melintas disebelah mereka. tampaknya Nadira menuju kantornya dengan terburu-buru karena ada meeting yang harus diselesaikan untuk membahas pekerjaan yang hampir rampung.
Di kantor perusahaan gem.corp milik Nadira telah menunggu rekan bisnisnya bapak Khairil Anwar bersama kawan-kawannya.
"Pagi pak...," sapa Nadira menyalami tamunya yang baru saja datang.
"Pagi!" sambut mereka semua dan duduk bersama-bersama diruang pertemuan.
"Baiklah bapak, ibu. Saya minta maaf atas keterlambatan saya. Meeting kita mulai kan!" ucap Nadira membuka pertemuannya langsung.
__ADS_1
"Silahkan laporannya!" pinta Nadira.
"Baik Bu..., em..., Barang-barang yang dibutuhkan oleh gem.corp perusahaan ibu semuanya dapat kami handle. Malahan permintaan bertambah, tapi tetap dapat kami penuhi semuanya. Datanya sudah lengkap dalam berkas ini." kata Khairil memberikan laporannya kepada Nadira yang mendistribusikan barang yang di suplai oleh Khairil dan kawan-kawannya.
Barang-barang yang di suplai oleh pak Khairil berupa aneka aksesoris yang terbuat dari kerang laut. Lalu di distribusikan ke Satria Corp, yang memiliki tempat penjualan di semua bandara di Indonesia.
Dan di tangani oleh Hadi yang merupakan sopir Roman sekali gus CEO pendistribusian aneka aksesoris cabang Satria Corp.
Satria Corp memiliki cabang perusahaan yang bergerak di bidang masing-masing. Salah satunya perusahaan yang menampung segala aneka aksesoris yang di pegang Hadi.
Belum lagi di bidang properti yang ditangani langsung oleh pak Rifky bapaknya Roman. Dan yang paling besar adalah di bidang Industri otomotif yang bekerja sama dengan berbagai negara. Tak heran kalau kekayaan yang dimiliki Roman triliunan rupiah.
Lalu apa kehidupan Roman sekarang di Lombok. Tak seorangpun orang Lombok tahu, kalau yang bekerja sebagai tukang parkir adalah putra seorang konglomerat pewaris tunggal dengan kekayaan triliunan rupiah.
Meeting di tutup oleh Nadira. semua klien telah beranjak meninggalkan gem.corp. Nadira duduk termenung di ruang kerjanya memikirkan Roman.
Rasanya ingin dia menangis 😠karena belum berhasil menemukan jejak pembunuh kekasih sahabatnya itu.
Roman dengan gesit dan lincah bagai orang yang berpengalaman berdiri didepan Mall Mataram mengatur mobil-mobil yang keluar masuk.
Wajahnya yang tampan selalu dihiasi dengan senyum. Setiap mobil yang datang tak akan percaya tukang parkirnya Roman.
Mansur putra pak Bisri tetap setia menemani Roman mengatur mobil yang datang dan pergi.
Priiit..., Tangan Roman segera mengarahkan mobil yang baru datang, "Ayo terus..., di sini saja non!" kata Roman menunjukan mobil yang baru datang tempat parkirnya.
Empat cewek cantik! keluar dari dalam mobil menatap Roman. "Tukang parkirnya mana mas?!" tanya cewek yang bernama Indah.
__ADS_1
"Saya non!" jawab Roman.
"Hah! Yang benar mas...." tanya Indah kepada Roman tidak percaya.
"Benar mbak! Tukang parkirnya dia!" timbal Mansur meyakinkan Indah. Teman-teman Indah pada tersentak saling pandang.
"Guaaanteng bangeeet...," bisik Nila.
Indah dan kawan-kawan nya melangkah masuk kedalam Mall, sebentar-sebentar menoleh kearah Roman yang berdiri.
"Nanti malam mata ini bakalan tidak akan bisa pejam mikirin si tukang parkir itu!" celetuk Rahayu cengengesan.
"Moga aja dia naksir ama kamu!" ucap Nila, tapi hatinya berdoa dia yang mendapatkan si tukang parkir. Baru kali ini mereka melihat tukang parkir setampan itu.
"Rom, disini kalau panggil cowok mas! dan cewek manggilnya mbak! sebagai mana orang Jawa. Dari manapun asalnya baik Sunda, Batak, Bugis pasti manggilnya mas!" kata Mansur menjelaskan Roman.
"O...," Roman anggukan kepala, sebenar tidak mempedulikan apapun panggilan orang sini.
"Tapi, kadang-kadang orang sini juga sering panggil om untuk pria tua maupun muda padahal om itu kan artinya paman! bagi orang bali!" lanjut Mansur menjelaskan Roman dan Roman hanya anggukan kepala saja merespon keterangan Mansur.
Tak lama sebuah mobil lagi datang memarkirkan mobilnya. Roman dengan gembira mengarahkan mobil itu parkir.
"Tukang parkirnya mana mas?" tanya si pemilik mobil yang bernama pak Herman.
"Saya pak!" sahut Roman.
"Mas yang markir?" tanya Heru putranya pak Herman.
__ADS_1
Roman tersenyum anggukan kepalanya.
BERSAMBUNG.