PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
HATI YANG LEMBUT.


__ADS_3

Roman sangat lama menunggu munculnya Ghazan dan Winda ditempat ibunya dan Masturi disekap.


Terlalu menunggu akhirnya Roman melangkahkan kakinya menuju belakang bangunan besar dan luas yang belum jadi itu.


Dibelakang bangunan ada sebuah bangunan tidak terlalu besar. Perlahan Roman nyamperin tempat itu dan didalam terdengar ******* suara seperti mengerang menahan sakit.


Tampak pintu bangunan itu tidak tertutup rapat, Roman mendongakkan kepalanya kedalam dengan perlahan dan hati-hati.


Roman sedikit terkejut melihat puluhan orang menjerit menahan sakit. Semua orang yang sedang mengerang menahan sakit sangat terkejut dengan kemunculan Roman.


"Jangan apa-apakan kami, kami sedang terluka!" kata Zalu memohon kepada Roman.


Roman memperhatikan mereka satu persatu. "Kulihat kalian seperti menahan sakit pada kaki dan tangan kalian!" kata Roman sambil melihat Oleng mengedipkan alis matanya.


"Ya, kaki dan tangan kami rasanya seperti patah dilumpuhkan oleh seorang wanita dan laki-laki semalam!" kata Oleng memainkan sandiwaranya.


"Kalian sudah makan semua!" tanya Roman tidak tega melihat mereka kelihatan lemah dan kesakitan.


Mereka tidak yang bicara entah takut atau gimana. Untung saja ada Oleng yang menjawab.


"Belum pak! Kamu menunggu Ghazan dan Winda membawakan kami makanan!" jawab Oleng.


"Baik, kalau begitu. Kamu keluar beli makanan dan minuman!" suruh Roman sambil menyodorkan uang kepada Oleng.


"Terimakasih pak! Tidak berniat melukai kami, malah peduli kepada kami dengan menyuruhku beli makanan dan minuman!" kata Oleng menerima uang yang diberikan Roman lalu keluar membeli makanan.


Roman melihat orang tidak berdaya hatinya cepat iba dan sangat perasaan sekali. Padahal orang-orang ini pernah membunuh kekasihnya, malah menculik dan menyekap ibunya. Tapi, itulah orang baik yang memiki hati lembut dan ikhlas.


Kemudian orang yang ditunggu-tunggu baru selesai menghimpun dan mengembalikan tenaganya. Setelah merasa segar dan pulih kembali Ghazan dan Winda suap-siap meneruskan perjalanannya.


"Tunggu dulu Ghazan!" pinta Winda saat akan menghidupkan mobilnya.


"Mm, kenapa!" toleh Ghazan.


"Minta tolong pada security tolong pesan nasi dan minum buat mereka disana!" kata Winda.


Mata Ghazan mengitari tempat kafe mencari orang yang bisa dimintai tolong.


"Pak! Sini!" panggil Ghazan kepada security yang meleraikan perkelahiannya.


Sisecurity menghampiri Ghazan, "Bapak! Panggil saya!" tanya sisecurity.


"Pak! Minta tolong pesan nasi dua puluh kotak dan jus rasa apa saja dua puluh bungkus!" kata Ghazan minta tolong pada si security sambil menyodorkan uangnya.


"Kalau kurang uangnya kembali sini!" lanjut Ghazan setelah memberikan uangnya.


Tidak lama kemudian sisecurity datang memberikan pesanannya.


"Taruh dibelakang mobil" kata Ghazan.

__ADS_1


Setelah meletakan pesanan yang diminta Ghazan sisecurity menghampiri Ghazan.


"Ini uangnya lebih!" kata sisecurity menyodorkan kelebihan uang Ghazan.


"Ambilah, itu buat bapak!" kata Ghazan.


"Ini buat saya?" sahut security senang.


"Ya!" timbal Ghazan.


"Terimakasih pak! Sering-sering seperti ini!" kata sisecurity senang.


Masih merasa lemah dan rasa sakit ditubuh Ghazan hati-hati mengemudikan mobilnya.


"Ternyata membebaskan bu Marisa dan Masturi adalah mereka!" kata Winda.


"Dari mana? Dia tahu kita menculik bu Marisa dan Masturi!" kata Ghazan merasa heran.


"Bisa saja Roman dan Nadira yang memberitahu tahu mereka lalu kita tidak menyadari di ikuti!" kata Winda memberi jawaban.


"Bisa jadi! Kita terlalu ceroboh!" sahut Ghazan.


"Hari ini kita apes! Pertama si brengsek Toni tidak tahu diri itu, ngaku pamannya Pejas hilang gara-gara kita!" kata Winda kelihatah kesal.


"Ya, kita harus buat perhitungan dengan dia!" timbal Ghazan gusar.


...----------------...


"Rasanya aku ingin geret si Winda dan pacarnya, lalu kuperlakukan dia sebagaimana dia memperlakukan kakakku!" kata Lui geram.


"Dikepalanya itu dipikirkan kejahatan sedang kamu dikepalamu Restu!" kata Hadi nyandain Lui mulai bosan melihatnya terus menggerutu.


Mata Lui melotot menatap Hadi yang pokus pada jalan raya sambil tersenyum.


"O? Hebat senyumu itu ngejek dan menyakitkan!" kata Lui.


"Berarti kamu sama dengan kakakmu, tidak sama dengan Roman yang sabar!" kata Hadi menaikan alisnya yang kiri sedikit melirik Lui.


"Sama dong dia kan kakakku! dan aku sabar? Juga seperti Roman!" timbal Lui.


"Kalau aku tidak sabar sudah kuremukan mereka!" lanjut Lui.


"O?" kata Hadi menganggukan kepalanya perlahan.


Lui tambah panas melihat Hadi seperti sengaja membuatnya jengkel. "Jangan buat aku kesal nanti kutarik stang mobil itu biar kita sama-sama kecelakaan!" kata Lui kesal.


"Jangan dong! Nanti Restu panik!"


Lui semakin sesak rasa dadanya dibuat Hadi serta berpikir keras bagaimana caranya membalas agar hadi yang balik kesel.

__ADS_1


"Kamu itu ngeselin ya! Bilang aja kamu suka sama aku!" kata Lui dengan wajah merah menatap mobil yang dijalanan.


Hadi tertawa senang berhasil mengalihkan perhatian Lui yang tadi ngomel melulu gara-gara tidak puas melampiaskan kemarahannya terhadap Winda.


"Enggak mungkin aku jadi tukang tikung!" kata Hadi sampai tidak terasa mereka sudah sampai dirumah.


Didin tampak cepat-cepat keluar dari posnya membukakan pintu gerbang halaman rumah.


Lui masih kelihatan kesal berjalan didepan rumah menuju kedalam. "Apa kamu ketemu dengan Roman!" kata pak Rifky mengagetkan Lui yang baru masuk kedalam.


"Eh, kak Rifky." sahut Lui kaget.


"Romannya tidak ketemu kak! Tapi, kami berhasil membebaskan kak Marisa bersama seorang gadis dari sekapan Winda dan pacarnya!" lanjut Lui.


Pak Rifky langsung tersentak kaget mendengar Lui.


"Kakakmu mana? ada dimobil?" kata pak Rifky berlari keluar.


Lui yang tadinya kesal sedikit terhibur berhasil ngerjai Hadi yang terkejut diberondong pertanyaan oleh pak Rifky.


"Bu Marisa mana? Di. kenapa kamu tidak bantu turun!" kata pak Rifky kelihatan panik.


Waduh! Lui pasti balas ngerjai gua, kata Hadi dalam Hati.


"Bu Marisa tidak ada dimobil pak!" timbal Hadi tampak bengong.


"Loh, Lui bilang kalian berhasil membebas Marisa dari sekapan Winda!" tanya pak Rifky.


"Ya, pak! Tapi, bu Marisa dibawa Roman dan Nadira!" timbal Hadi.


"Berarti Roman sekarang telah bersama mamanya?" tanya pak Rifky.


"Ya, pak!" jawab Hadi.


"Alhamdulillah!"


Pak Rifky sangat bersukur mendengar putranya telah bersama ibunya, yang berarti harapannya untuk berkumpul kembali dengan anak dan istrinya akan jadi kenyataan.


"Kak ini surat undangan pernikahan dari siapa?" tanya Lui pada pak Rifky yang menemui ada surat undangan diatas meja.


"Aku juga tidak tahu! Sebelum kalian datang ada orang mengantar surat undangan itu barusan!" timbal pak Rifky.


"Di, sekarang ceritakan bagaimana ceritanya kalian bisa tahu mama disekap oleh Winda dan pacarnya!" kata pak Rifky pingin tahu.


Bagaimanapun juga pak Rifky sangat terkejut mendengar kabar istrinya disekap oleh Winda.


Lalu Hadi menceritakan semua kejadiannya sampai dia dibebaskan dari kantor polisi oleh pak Rifky dan Restu hingga dia menemukan tempat bu Marisa disekap.


💜💜💜💜💜

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2