PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE DELAPAN PULUH: BEGAL DI BEGAL BEGAL.


__ADS_3

Kedua pembegal itu langsung ingin menghajar Oleng yang mempermainkannya.


"Hay, kamu jangan bermain-main iya! Ku Tembak baru tahu rasa kamu. Cepat..., Berikan tas yang berisi uang, kalau kamu masih pingin selamat!" gertak si pembegal.


"Dasar begal! Sudah berapa tahun kamu berkeliaran di Jakarta ini!" tanya Oleng dengan sombong melipat kedua tangannya di dadanya.


"Bedebah! Berani sekali kamu sombong di hadapan Sabar!" timbal begal berambut gondrong yang bernama Sabar.


"Apa? Di hadapan sabar? O..., ternyata namamu Sabar. Tapi, kok kamu tidak sesabar namamu!" ejek Oleng tersenyum.


Sabar merasa diri diolok-olok dan di rendahkan Oleng, hingga diapun tidak dapat mengendalikan emosinya,


Hyaaat...


Sabar langsung menerjang Oleng dengan mengayunkan tangan kanannya.


Plaaaks!


Oleng menangkis serangan Sabar dengan tangan kanannya juga sambil melepaskan serangan balik dengan menghantam ulu hati Sabar bagian kanan.


Eits,


Hampir saja ulu hati Sabar terkena hantaman tangan kiri Oleng kalau dia tidak segera melompat mundur ke belakang.


Jaki yang melihat Sabar kawannya bertarung dengan Oleng, langsung menerjang Oleng dari belakang menghantam punggung Oleng dengan menggunakan kaki kanannya.


Huuups...,


Oleng yang merasakan ada serangan dari belakangnya segera menggeser kan tubuhnya dengan melekukan badannya ke belakang.


Hyaaat..., iyaaaat...


Sabar terus menghantam kiri kanan tangannya kearah muka dan dada Oleng di susul tendangan dan pukulan Jaki.


Eits..., uuups...,


Oleng tidak memiliki kesulitan menghindari pukulan dan tendangan dua begal yang mengeroyoknya.


Nadira saja yang memiliki bela diri tingkat tinggi tidak mampu melumpuhkan Oleng dengan mudah, apalagi menghadapi


Keronco-keronco kemarin sore di Jakarta.


"Rupanya kalian belum mengenal saya, saya sudah puluhan tahun jadi preman di seluruh wilayah Jakarta ini." seru Oleng pada dua begal yang sedang mengeroyoknya.

__ADS_1


Perkelahian baru berjalan beberapa menit saja, dua orang begal yang mengeroyok Oleng mulai ngos-ngosan.


Oleng yang melihat dua begal yang mengeroyoknya sudah tampak ngos-ngosan tidak membuang-buang waktu. Oleng menghajar mulut Jaki dengan keras,


Hyaaat..., buuuughs...,


Tangan kanan Oleng mendarat dengan telak ke mulut Jaki.


Aaaaghk....


Tubuh Jaki terlempar kebelakang sejauh satu setengah meter. tampak Jaki lunglai menahan diri agar tidak jatuh.


Tapi, Oleng tidak mau memberi Jaki kesempatan pulih. Oleng Pun melepaskan tendangan memutar yang cukup keras dan telak.


Weeest..., Hyaaat..., plaks....


Tendangan kaki kanan Oleng tak ampun lagi bersarang di kepala Jaki hingga dia ambruk.


Melihat kawannya ambruk tidak berdaya, Sabar dengan cepat menyerang Oleng membantu Jaki. Tapi, terlambat.


Weeest...,


Sabar menghantam tengkuk Oleng dari belakang dengan keras menggunakan tangan kanannya,


Oleng tersungkur kedepan berguling-guling jatuh. Begitu dia memutar dia melihat Sabar hendak menerjangnya lagi.


Dengan cepat Oleng berhasil menghindari pijakan kaki Sabar yang menghantam tubuhnya dengan dua tangannya. Kaki Oleng langsung menjepit kaki Sabar dan memutar tubuhnya hingga kaki Sabar terkena kuncian yang sangat menyakitkan lagi.


Sabar menjerit kesakitan tidak kuat menahan kuncian Oleng. Hadi, Nadira dan Restu yang menyaksikan perkelahian tampak tersenyum santai dari tempatnya di dalam mobil.


"Heh! Kalian ini anak kemarin sore di Jakarta ini. Berani sekali kalian begal preman yang sudah lumutan di Jakarta ini!" bentak Oleng kepada Jaki dan Sabar yang sudah tidak berdaya.


-----------------🌟🌟🌟-------------------


Pada sebuah rumah besar dan mewah yang terletak di kawasan Jakarta pusat yakni di sawah besar jalan karang anyar tidak jauh dari perusahaan Satria Corp.


Tampak pak Imran baru saja tiba, mereka pindah dari rumahnya yang di Menteng ke rumah baru yang di berikan pak Rifky.


Pak Imran beserta seluruh keluarga turun dari mobil mewah berwarna merah dengan sopir khusus. Sopir ini di gaji oleh pak Rifky khusus untuk keluarga pak Imran.


Belum memasuki rumah yang akan di tempatnya. Pak Imran dan seluruh keluarganya langsung terpukau melihat interior rumah itu.


Pak Kumin dan istrinya Sarkini yang bertugas menjaga dan merawat rumah itu langsung menyambut dan mempersilahkan pak Imran dan keluarganya masuk.

__ADS_1


Begitu pintu rumah di buka pak Imran beserta semua keluarganya makin terpana melihat pemandangan ruangan depan rumah itu.


Pak Imran merasa bagai mimpi berada di rumah yang indah dan besar tersebut. Sama sekali tak pernah dia memimpikan rumah mewah dan sebesar ini.


Nilam dan Hakim tak henti hentinya berdecak kagum, melihat-lihat rumah yang akan di tempatinya. Mereka merasa bagai sedang mengunjungi rumah pameran.


Setelah keliling dari lantai pertama sampai lantai tiga perasaan antara percaya dan tidak percaya akan memiliki rumah sebesar dan semewah ini.


Merekapun kembali turun kelantai pertama dan melihat ada salah satu ruangan yang mereka rasa belum dilihat.


"Wao...,"


Nilam berdecak kagum melihat pemandangan ruangan yang satu itu. Lantainya berbeda dengan lantai yang lain, lantainya terbuat dari batu pualam yang didesain percis keramik kaca yang sangat indah.


Nilam dan Hakim melangkahkan kakinya masuk kedalam. Kaki mereka bergerak menuju deretan jendela yang terletak di samping kiri. Dari ujung kanan sampai ujung kiri semuanya kaca.


Ini dapat dilihat dari tirai tabir yang menutupi jendela. Tirainya itu seperti terbuat dari kaca, sebab tembus pandang, meskipun warnanya putih padahal kain nya sangatlah tebal.


Nilam tambah terbelalak melihat pemandangan di luar jendela. Tampak kolam renang yang sudah di desain sedemikian rupa.


Ditepi kolam terpasang besi-besi warna silver bulat memanjang, yang di desain keramik naga melingkari bunga sungguh menakjubkan siapapun yang melihat. Pada tepi kolam terdapat kursi mahal tempat santai.


Belum puas Nilam melihat-lihat ruangan yang satu ini, Nilam di panggil ibunya. Masih banyak yang ingin di lihat seperti lampu indah yang menggantung di bawah plafon, bunga dan pernik-pernik indah yang terletak diatas meja. Belum lagi sopa, lemari dan masih banyak lagi yang lainnya.


"Ibu panggil saya!" ucap Nilam yang baru muncul dari balik pintu ruangan kamar yang baru dilihatnya. Sedangkan Hakim sudah duduk di samping ibu Sri.


"Sini nak!" panggil ibu Sri.


Nilam nyamperin mamanya dan duduk di sopa depan ibu Sri mamanya.


"Nilam!" tatap Bu Sri memperhatikan Nilam dalam-dalam.


Nilam memperhatikan mamanya yang menatapnya, seperti menyelidiki dirinya. "Kenapa dengan saya, ma?" tanya Nilam heran.


"Tidak ada apa-apa Nilam? Hanya saja rumah ini tidak cocok dengan kita!" sahut Bu Sri menjelaskan Nilam.


"Hah! Kenapa tidak cocok ma!" mulut Nilam sedikit terbuka heran dengan ucapan mamanya.


"Terlalu mewah untuk kita, kita lebih cocok di rumah kontrakan!" kata Bu Sri menjelaskan Nilam.


"Apa ma?" mata Nilam melotot lebar memandang mamanya.


"Ma..., ini rumah bukan kita beli. Tapi, rumah ini kita dikasih percuma! Tanpa ada embel-embel maksud tertentu, dan yang ngasih kita rumah ini Roman! Bukan pak Rifky. Ta...pi Rooooman!" ucap Nilam tidak mengerti pikiran mamanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2