PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE LIMA PULUH DELAPAN: PERGI JAUH MENENANGKAN DIRI.


__ADS_3

"We..., pak Bisri pulang...," sapa Burhan salah seorang supir online yang sedang menunggu penumpang.


Baru beberapa langkah lagi sudah ada yang menyapa, "Wa..., pak Bisri pulang dari Jakarta!" sapa seorang lagi yang bernama Junaidi teman nongkrongnya ketika belum merantau ke Jakarta.


Pak Bisri anggukan kepala dan tersenyum membalas setiap teman yang menyapanya.


"Ternyata pak Bisri disini banyak orang yang mengenalnya," guman Roman dalam hati sambil terus mengikutinya dari jarak yang tidak terlalu jauh di belakangnya.


Diluar bandara pun pak Bisri disapa dengan baik oleh orang-orang yang kebetulan melihatnya. "Hay, pak Bisri sini...," panggil Saipul keluar dari dalam mobilnya.


"Baru pulang dari Jakarta iya..., naik mobilku saja. Mari naikan kopermu!" kata Saipul mengambil koper-koper pak Bisri dimasukan ke dalam mobilnya.


Setelah semua kopernya dimasukkan pak Bisri naik kedalam mobil. Belum Roman naik, Saipul sudah menjalankan mobilnya,


"Tunggu dulu!" kata pak Bisri mencegah Saipul.


"Masih ada yang ketinggalan?!" tanya Saipul memandang pak Bisri.


"Kawanku belum naik!" jawab pak Bisri dengan menggunakan bahasa Lombok.


"Kawanmu mana?" tanya Saipul bersamaan Roman naik masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


"ini kawanmu iya?" kata pak Saipul seperti tidak percaya.


"Na, ini buktinya dia ngikuti aku masuk ke mobilmu!" jawab pak Bisri. Sedang Roman hanya bisa tersenyum karena tidak mengerti bahasa Lombok.


Tampaknya Saipul paham kalau teman pak Bisri ini tidak paham bahasa Lombok. "Asli mana bang!" tanya Saipul.


"Oh, ya..., kenalkan saya Roman dari Jakarta!" jawab Roman langsung memperkenalkan diri kepada Saipul.


"Saipul!" balas Saipul menyalami Roman.


"Pak Bisri, kamu bawa teman seperti ini sama artinya kamu ngundang banyak cewek baik gadis ataupun janda. Malah yang bersuamipun akan ikut antri di rumahmu!" kata Saipul, entah bercanda atau sungguh-sungguh.


"Yang sering begitu kan kamu?!" ejek Saipul tertawa. Roman diam saja tidak paham omongan mereka.


"Tapi kamu yang paling parah!" kata pak Bisri balas bergurau.


"Pak Bisri! Kenapa Maryam tidak ikut pulang!" tanya Saipul menanyakan istri pak Bisri.


Pak Bisri terdiam, tidak menjawab pertanyaan Saipul. Dalam hati dia memikirkan apa yang akan dikatakan apabila nanti ada pertanyaan yang sama.


"Dia sibuk! Nanti dia belakangan pulang!" jawab pak Bisri berbohong merahasiakan kematian istrinya.

__ADS_1


Kepedihan merayapi perasaan pak Bisri yang pulang hari ini. Dulu dia mengkhayal untuk menjadi orang hebat dan terkenal ketika akan berangkat ke Jakarta.


Ternyata khayalan itu merupakan mimpi buruk dengan pulang membawa duka menyimpan rahasia kematian istrinya.


Pak Bisri ingin, sekali lagi minta maaf bersujud didepan Roman yang telah merenggut nyawa kekasih hatinya. Betapa mulia orang yang di belakangnya ini.


Tidak menyimpan dendam, malah kejahatan yang telah dilakukan dibalas dengan kebaikan yang tidak ternilai.


Dalam hati pak Bisri berkata, "Sampai matipun aku tak akan bisa membalas kebaikan orang ini," katanya dalam hati.


"Ya Allah..., tabahkan hati pemuda yang baik hati ini, berikan ganti gadis yang lebih baik dan bahagiakan dia sepanjang hidupnya." tambah pak Bisri lirih dalam hati.


Demikian pula dengan Roman yang telah berada jauh dari kedua orang tuanya serta orang-orang terdekatnya. Matanya membayang kepedihan mereka yang risau mencari keberadaannya.


Terbayang ibunya sedang mencari keberadaannya diberbagai tempat. Roman tidak tahu ibunya sekarang hampir lumpuh dan gila memikirkannya.


Sekiranya Roman tahu keadaan ibunya, pasti dia tidak akan menjauh meninggalkannya. Roman hanya ingin menenangkan hati untuk berpikir dapat mengendalikan semua keadaan yang di hadapi saat ini.


Yang terpenting menyelamatkan pak Bisri untuk dapat meringkus semua kejahatan yang dilakukan Ghazan dan Winda dengan sempurna.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2