PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
SINAR REMBULAN MENJADI SAKSI BISU CINTA MEREKA.


__ADS_3

Walau dalam keadaan tegang Nadira merasa malu dirangkul Roman. Namun dia juga tak mau mengecewakan orang yang sangat dicintainya ini.


Pejas, Bisak dan Congol yang mendapat tontonan gratis kemesraan dua pasang muda mudi didepannya hanya bisa menelan air liurnya menyaksikan Roman yang memeluk Nadira.


Roman tersadar kalau Nadira tampak malu, diapun segera mengajaknya keluar dari kamar, tempatnya menyekap Pejas, Bisak dan Congol, orang yang terlibat dalam penculikan ibunya.


"Kamu kenapa terlihat cemas dan pucat!" tanya Roman setelah mengunci pintu kamar tempat penyekapan.


Nadira berusaha menguasai keresahannya atas apa yang didengar dari Pejas tentang Morrin. "Kak! Apa kamu yakin jenazah yang ada dalam kantong jenazah covid itu salah seorang diantaranya adalah jenazah Morrin," ucap Nadira ragu-ragu menatap Roman.


Roman tersentak mendengar pertanyaan Nadira. Dia tidak menduga arah pertanyaan Nadira mengarah ke Morrin.


"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan jenazah almarhum Morrin!" tanya Roman heran.


"Aku takut! Kalau Morrin tidak termasuk didalam tiga jenazah itu!" ucap Nadira.


Roman berusaha berpikir keras, mengapa kekasihnya ini bisa berpikiran seperti itu.


"Dari mana kamu tahu kalau itu bukan mayat Morrin!" tanya Roman dengan hati-hati.


"Kakak tanya sendiri kepada Pejas!" jawab Nadira.


Tanpa pikir panjang disertai rasa heran yang tiada habis Roman meminta Nadira menenangkan diri.


"Kalau begitu, aku akan cari tahu! Dan tenangkan dirimu disini!, ya!" pinta Roman.


"Pak Ipul! Bagikan makanan dan minuman itu kepada mereka!" kata Roman kepada Saipul sebelum mencari tahu perihal Morrin.


"Baik, Rom!" jawab pak Saipul sambil menaruh barang-barang yang dibeli Roman berupa makanan dan minuman serta beberapa selimut.


Itulah Roman! Dia selalu memperhatikan kenyamanan orang, sekalipun orang itu telah jahat kepadanya.


Sementara menunggu Pejas dan anak buahnya selesai makan untuk mengoreksi keterangan darinya mengenai perihal Morrin, Dia mengajak Nadira duduk diluar.


Matahari telah masuk kedalam peraduannya. Mega merah diujung timur sudah tidak tampak lagi. Sementara malam telah menjelma dengan diiringi kerlap kerlip bintang dengan paduan indah suara marga satwa.


Malam ditepi laut pantai tratang sangat gelap karena bulan yang biasa menjaga tidak mengawal.


Dibawah sejuknya lambaian daun kelapa Roman berdiri membekap Nadira yang sedang ketakutan.


"Sayang...! Malam ini rembulan tidak datang menyinari wajahmu yang cantik! Karena dia tahu kamu sedang ketakutan!" ucap Roman perlahan sambil mengangkat dagu Nadira lalu mengec*p bibir tipis miliknya dengan lembut.


"Yang kutakutkan apa yang dikatakan Pejas benar adanya," kata Nadira lirih.


"Memang apa yang dikatakannya?!" tanya Roman.


"Hp milikku yang dicuri mereka ada ditangan Morrin!" jawab Nadira.


Dada Roman bergetar mendengar penuturan Nadira. Namun walaupun begitu Roman masih belum yakin sebelum melihat Morrin dengan matanya sendiri.

__ADS_1


Roman juga tidak yakin kalau yang melakukan penculikan ibunya adalah Morrin.


"Aku tidak yakin Morrin yang melakukan semua ini!" kata Roman memandang Nadira.


Nadira langsung tersadar setelah mendengar perkataan Roman.


"Kak! Aku juga tidak yakin, mari kita tanya lagi untuk mengetahui yang sebenarnya!" ajak Nadira buru-buru.


"Jangan terburu-buru sayang!" cegah Roman.


"Aku kesal kak! Masa dia menyebut Morrin yang pegang hpku!" kata Nadira jengkel dihadapan Roman.


Hati Nadira sekarang sudah mulai lega setelah yakin hpnya tidak ditangan Morrin. Kalau hpnya ditangan Morrin berarti otak penculikannya adalah Morrin. Sedangkan Morrin bukanlah sejahat itu.


Saking leganya, Nadira tidak sadar dua tangannya langsung merangkul leher Roman. bersamaan dengan itu muncul tiba-tiba sinar rembulan menyinari mereka berdua.


"Tuh, kan...! Sinar Rembulan langsung tersenyum menyinari kita berdua!" ucap Roman.


Nadira makin merapatkan rangkulannya.


Desiran iringan irama suara gelombang ombak laut pantai Tratang dengan kerlap kerlip bintang yang disinari rembulan malan itu menjadi saksi bisu cinta mereka.


Roman dan Nadira hanyut menyatu menjadi satu sebelum beranjak mencari kebenaran ucapan Pejas tentang hp yang diculik ada ditangan Morrin.


...----------------...


Kita tinggalkan Roman dan Morrin yang sedang memadu kasih diteoi pantai Tratang menuju Hadi yang sedang dalam perjalanan menuju kediaman ibu Nursiah bersama Restu dan Hadi.


"salamu'alaikum!" sapa Hadi menyalami ibu Nursiah yang menyambutnya.


"Wa'alaikumsalam! Mari masuk!" kata bu Nursiah bersama suami dan Tenny putrinya.


"Pak!" sambut Tenny putri bu Nursiah menyalami mencium tangan mereka bertiga.


"Bu..., Mereka ini bos saya!" ucap Tenny memberi tahu ibunya.


Ibu Nursiah salah tingkah setelah mengetahui kalau mereka bertiga adalah bos putrinya.


Walaupun Tenny bekerja diperusahaan yang dipimpinnya, Restu tidak mengenal semua pegawainya, yang banyak dikenal adalah yang menduduki posisi-posisi penting seperti menejer sedangkan yang cleaning servis ada yang dikenal dan ada juga yang tidak dikenal.


Perusahaan Satria group adalah perusahaan besar yang tidak mungkin dia mengenal ribuan pegawainya.


"Kamu namamu siapa?" tanya Restu.


"Tenny!"


"Diperusahaan, posisimu dimana?"


"Cleaning servis pak!" jawab Tenny.

__ADS_1


"Pendidikan terakhirmu!" tanya Restu lagi.


"S1 sarjana ekonomi!" jawab Tenny.


"Tak apa-apa! Nanti saya rekomendasikan ke yang lebih baik sesuai pendidikanmu!" timbal Hadi.


"Terimakasih pak!" jawab Tenny gembira.


Kedua orang Tenny tidak menyangka orang-orang yang mendatangi rumahnya adalah orang-orang besar.


"Ibu tahu! Siapa pemilik perusahaan tempat Tenny bekerja?!" tanya Hadi.


"Tidak tahu?!" jawab bu Nursiah geleng kepalanya.


"Pemiliknya adalah ibu Marisa yang kata ibu diculik!" jawab Hadi.


"Hah!"


Ibu Nursiah langsung kaget memegang dadanya. Dia tidak menyangka pasien yang bernama ibu Marisa adalah pemilik perusahaan besar.


"Itulah sebabnya saya sangat terkejut ketika ibu bertanya kepada saya, apakah benar ibu Marisa diculik!" ucap Hadi.


"Sekarang ceritakan kami tentang ibu Marisa!" lanjut Hadi.


Ibu Nursiah kemudian mulai bercerita, mulai dari awal ibu Marisa datang kerumah sakit sampai dia menghilang!


Lalu Hadi memperlihatkan photo-photo di hpnya kepada bu Nursiah, dan bu Nursiah menunjuk photo ibu Marisa, Roman, Nadira, pak Saipul dan pak Mansur.


Sedang mengenai hilangnya ibu Marisa ibu Nursiah tidak mengetahuinya, yang ketahui hanya ibu Marisa dibawa kabur oleh dua orang. Kedua orang itu adalah yang mengantar pasien yang bernama Dodo putra bu Asmirah.


"Terimakasih ibu telah menceritakan kami!" ucap Hadi.


"Saya minta maaf, kalau saya tidak mengetahui nama kedua orang yang menculik bu Marisa!" ucap bu Nursiah.


"Tidak mengapa! Nanti akan kami cari tahu di rumah sakit!" jawab Hadi.


"Oh! Ya, bu. Yang sakit siapa?!" tanya Restu.


"Kakaknya Tenny dia telah lama amnesia!" jawab bu Nursiah.


"Sekarang dia dimana?!" tanya Restu.


"Tidur didalam!" jawab suaminya bu Nursiah yang dari tadi terdiam mendengar cerita istrinya.


Lui tidak bisa membendung kesedihannya, air matanya menetes membasahi pipinya. mendengar cerita ibu Nursiah.


"Aku harus tahu siapa dibalik semua ini!" kata Lui sambil menyekap air matanya.


💟💟💟💟💟

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2