PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
AR RAHMAN.


__ADS_3

Pagi itu usai sholat subuh sebelum dia melarikan diri kabur, dia mendengar seorang wanita datang mengetuk pintu dirumah di mana dia disekap.


Morrin kembali teringat jelas waktu itu,


Flash back.


Tok tok tok...!


"Siapa?" sahut Tyla dari dalam.


Tyla tampak lemah, berjalan gontai keluar. Sedang Nyla tampak ambruk tersungkur jatuh. Rupanya bu Maryam istrinya pak Bisri sudah terlebih dahulu meninggal akibat virus covid yang diderita dan baru saja nyla menyusul jatuh ambruk.


Tyla sepertinya tidak peduli dengan dua temannya yang meninggal, karena dia sendiri sudah merasa dirinya lemah dan tak bisa berpikir.


Trreeet....,


Tyla membuka pintu, "Kamu siapa?" tanya Tyla, yang sebenarnya sudah tidak bisa mendengar dan melihat dengan pasti orang yang bicara dengannya.


"Aku diperintah Ghazan untuk membawa Morrin ketempat yang lebih aman!" timbal gadis itu.


"Oh! Tunggu! Silahkan duduk, saya panggilkan!" sahut Tyla menyuruh gadis itu duduk.


"Trimakasih!" jawab gadis masuk, lalu berjalan santai kedalam melihat lihat suasana ruangan yang baru saja dimasukinya.


Sedang Tyla berjalan dengan sempoyongan menuju ruang kamar tempat Morrin, yang dijaga ketat oleh mereka bertiga.


Gadis yang disuruh Ghazan menjemput Morrin melihat tyla berjalan sempoyongan, namun dia pikir Tyla masih sedang mengantuk hingga berjalan seperti itu.


Sesampai didalam Tyla bukannya ngomong sama Morrin melainkan dia merebahkan tubuhnya perlahan kelantai dan diam tidak berkutik.


Awalnya Morrin tidak tahu apa yang terjadi pada tiga orang yang ditugaskan khusus untuk menjaga dan mengawasinya ini, tapi tiba-tiba saja dia berpikir kenapa tiga orang yang ditugaskan untuk menjaga dan mengawasinya semua tertidur.


Terlintas dikepalanya untuk kabur mumpung ada kesempatan. Morrinpun berpikir keras bagaimana caranya dia melarikan diri.


Morrin tahu diluar ada seorang wanita yang didengar dari dalam berbicara dengan Tyla untuk menjemputnya dan dipersilahkan duduk.


Dengan tenang Morrin melangkah berjalan keluar membawa kayu yang ditemukan dibawah dipan tempat tidurnya, sebesar tangan dengan panjang kurang lima puluh centimeter yang diletakan dekat samping lemari luar dekat pintu keluar masuk kamarnya, "Siapa? Ya?" tanya Morrin setenang mungkin menutupi kegugupan.


"Saya disuruh Ghazan untuk menjemput Morrin dipindahkan ketempat yang aman!" sapa gadis itu tersenyum ramah.


Hm...., perempuan ini tidak mengenalku, guman Morrin dalam hati.


Morrin berpikir keras agar gadis yang disuruh menjemputnya ini tidak curiga terhadap dirinya.


"Dia tidak mau keluar! Mungkin kamu bisa memaksanya!" ucap Morrin dengan dada berdebar. Morrin merasa ketakutan sekali seolah olah gadis tahu siapa dirinya.

__ADS_1


"Hm..., baik! Aku tidak punya waktu lama. Pekerjaan seperti ini kita harus cepat dan tegas, bila perlu kita menggunakan pemaksaan! Tunjukan aku mana orangnya!" kata gadis itu terlihat bisa betinanya.


Morrin semakin ketakutan dan khawatir sekali. "Ayok!" timbal Morrin mempersilahkan gadis itu jalan duluan dengan gaya sadis.


Baru saja gadis itu melangkah masuk kedalam kamar ruangannya Morrin dengan sigap mengambil kayu yang sudah dipersiapkan itu dan menghantam kepala gadis itu dengan keras sampai jatuh tersungkur. Cepat-cepat Morrin menutup pintu itu dan menguncinya dari luar.


Morrin berusaha tenang dan mengendalikan dirinya dan berpikir sejernih mungkin agar tidak ketahuan.


Perlahan Morrin menoleh keluar, suasana diluar tampak sepi karena subuh masih terdengar dimasjid orang menyampaikan ceramah.


Terlihat semua anak buah Ghazan tertidur nyenyak sepertinya sudah tidak menyadarkan diri karena mabuk. Didekat mereka berserakan botol botol minuman keras, aneka makanan dan rokok.


Morrin lalu berlari dan berlari meninggalkan tempat penyekapan sejauh jauhnya sampai dia tidak sadar dia jatuh pingsan ditengah jalan.


...----------------...


Morrin ingat betul ketika dia kabur, tapi dia tidak ingat dimana dia tidak sadarkan diri. Dia masih berpikir kalau Haydar adalah komplotan Ghazan dan Winda.


Kalau memang dia betul mau memulangkan aku, berarti Haydar bukan komplotan Ghazan dan Winda. Tapi, bagaimana aku yakin kalau pria tampan yang mengaku menolong dan menyelamatkanku ini bukan komplotan Ghazan dan Winda!, pikir Morrin dalam hati.


Morrin terus berpikir untuk meyakinkan dirinya, apakah dia masih dalam dekapan penculik atau tidak. Diapun berpikir kenapa dia sampai terpapar virus covid sembilan belas.


Dua kali dia dimasukan dirumah sakit dan hampir delapan bulan dia dalam karantina dan dua bulan dia dimasukan kerumah sakit jiwa karena dia sering mengamuk. Setiap dia melihat Haydar, dia benci dan muak karena menyangka Haydar adalah salah satu komplotan yang menculiknya sekalipun berkali-kali Haydar menyangkal dan dengan sabar membuktikan dirinya bukanlah penculik.


Menjelang magrib Haydar beriniasiatip mengajak Morrin dan semua yang tinggal dirumahnya untuk sholat berjamaah.


Haydar berpikir, mungkin dengan cara ini Morrin bisa percaya kalau dirinya bukan salah satu kelompok penculik seperti yang disangkakan.


Haydar selama ini melihat Morrin sangat rajin sekali sholat dan dia termasuk gadis yang solehah.


Haidarpun meminta Kelor menyuruh mbok Tety untuk berbicara kepada Morrin.


Tidak lama kemudian tampak mbok Tety nyamperin kamar Morrin.


"Salamu'alaikum...,"


Mbok Tety sangat hati-hati sekali menyapa Morrin dari luar kamarnya. Sebab barusan dia sempat membentak Morrin, karena Morrin menuduh pak Haydar menculiknya.


Tok tok tok!


Mbok Tety mengetok pintu kamar Morrin lagi setelah tidak ada jawaban dari dalam.


"Nona...?" panggil mbok Tety dengan suara perlahan dan lembut.


Reeeettt...

__ADS_1


Pintu kamar Morrin terbuka perlahan, mata Morrin menatap tempat kosong.


"Maaf nona, bos minta agar kita sholat berjamaah magrib malam ini!" kata mbok Tety sambil memberi hormat.


Morrin tidak memberi jawaban, hanya ekspresi wajahnya masih menggambarkan raut wajah penuh curiga.


Mbok Tety tidak mau berlama lama didepan Morrin, setelah menyampaikan apa yang diperintahkan majikannya dia segera berlalu dari hadapan Morrin. Mbok Tety merasa takut juga.


Morrinpun menerima ajakan Haydar untuk sholat berjamaah. Sudah lama Morrin tidak sholat secara berjamaah.


Haydar dan seisi rumahnya sudah berkumpul untuk segera mengerjakan sholat berjamaah termasuk diantarnya Pejas yang sudah segar kembali.


Haydar terlihat sedikit menghela napas perlahan menahan kegundahan hatinya. Orang yang ditunggu tidak terlihat datang.


Haydar tidak mau menunggu lama, sholatpun segera dimulai. Baru ketika Haydar mengangkat tangannya Allaaahuakbar!. Morrin muncul dan mengambil saf belakang dekat mbok Tety.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ


الرَّ حْمٰنُ


علَّمَ القُرْ اَنَ


خَلَقَ الْاِِ نْسَا نَ


Air mata Morrin berlinang mendengar alunan ayat-ayat suci yang dilantunkan Haydar. Surat itu sering dia baca dan dia tahu artinya, surah yang dilantunkan itu adalah surah ar rahman.


Mulai dari surah pertama yang dilantunkan Haydar, dada Morrin bergetar seakan menyirami perasaan hati dan batinnya.


Kebencian yang terpendam didalam kalbunya terkikis luntur secara perlahan tersirami lantunan indah bibir Haydar.


Air matanya mulai menetes tatkala surat pertama yang dilantukan berbunyi,


"Ar rohman...," (Alloh) yang maha pengasih,


"Allamal qur'an...," Yang telah mengajarkan Al Qur'an.


"khalaqal insan...," Dia menciptakan manusia.


"Allamalhulbayaan..." mengajarnya pandai berbicara.


Ketika sampai pada ayat ke dua belas yang berbunyi, "Fabi ayyi alaa iwa robbikumaa tukadzdzibaan...," Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?.


💜💜💜💜💜


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2