PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE EMPAT PULUH ENAM: SAKSI KUNCI PEMBUNUHAN.


__ADS_3

Dunia seakan terang begitu Hadi mendengar ucapan pak Bisri yang mengatakan dia satu-satunya saksi kunci terbunuhnya morrin.


"Apa kamu bilang..., kamu satu-satunya kunci terbunuhnya morrin!" mata Hadi terbelalak memandang pak Bisri.


"Betul..., akulah yang diberi tugas untuk menculik wanita-wanita yang terpapar virus covid 19 di wisma atlet tempat mereka di rawat.


Kemudian di satukan dengan tujuan agar Morrin tertular, hingga terhindar dari tuduhan pembunuhan!" tutur pak Bisri menceritakan Hadi dengan jujur.


"Lalu sekarang kamu yang jadi target selanjutnya, untuk menghilangkan bukti kesaksian itu?" tanya Hadi.


"Betul!" jawab pak Bisri masih menahan sakit di dadanya. Hadi berpikir ini orang sangat penting sekali.


"Aku harus mengamankan orang ini. Sebab orang ini penting untuk mengungkap kasus kematian Morrin." pikir Hadi dalam hati.


"Kalau begitu kamu tidak boleh kemana-mana. Aku takut orang-orang Ghazan dan Winda berkeliaran disini mencari mu!" kata Hadi mengingatkan pak Bisri.


"Aku telpon temanku kemari!" lanjut Hadi menelpon Nadira. Lalu Hadi call Nadira datang ketempat nya sekarang ini tanpa cerita apa-apa.


"Pokoknya datang! Penting, ceritanya nanti!" timbal Hadi menjawab pertanyaan Nadira yang di hubungi.


Ketika Hadi sedang call Nadira, Ghazan dan Winda lewat didepan mereka di buntuti oleh Toni di belakangnya. Untung saja pak Bisri tidak dilihat oleh mereka.

__ADS_1


Mobil Ghazan melaju dengan cepat menuju arah Utara. Empat mobil terus bergerak di jalan raya sampai mendekati pantai.


"Win..., lihat di belakang ada dua rombongan mobil mengikuti kita sejak dari tadi!" kata Ghazan memberitahu Winda.


"Saya tahu, itu mobil milik Toni!" sahut Winda tenang.


"Kenapa mereka mengikuti kita!" tanya Ghazan penasaran.


"Mungkin mau beri hadiah, karena kita telah membunuh Morrin!" jawab Winda.


Rombongan mobil Ghazan mengarah menuju pantai Maju Teluk, yang terletak di pantai indah kapuk Jakarta Utara.


Ghazan heran kenapa Toni menghadang mobilnya, Ghazan keluar dari mobilnya. Tidak lama Toni pun keluar dari mobilnya.


"Toni..., kenapa kamu menghadang perjalanan kami!" tanya Ghazan heran penuh tanda tanya.


"Betul Ton, sebaiknya kalau kamu perlu apa-apa kita bicarakan nanti saja setelah kita di pantai!" sambung Winda.


"Aku menghadang kamu bukan karena aku memerlukanmu lagi!" kata Toni menatap Ghazan dengan tidak bersahabat.


"Apa maksudmu Toni!" bentak Ghazan marah.

__ADS_1


"Kalian telah membunuh gadis yang sangat kucintai," teriak Toni marah.


Winda langsung tertawa mendengar ucapan Toni, "Hi hi hi...," ejek Winda.


Mata Toni merah ditertawai Winda. Ingin rasanya Toni menghajar Winda sampai minta ampun kepadanya. "Hay..., kamu malah menertawai ku!" tatap Toni melototi Winda.


"Seharusnya kamu senang dengan meninggalnya Morrin, bukan seharusnya marah?! Jelas-jelas Toni menolakmu mentah-mentah. Jangan mimpi Toni!" ejek Winda menghina Toni.


Toni semakin marah dan tak kuasa menahan diri, "Dengar Winda..., dengan tewasnya morrin kamu telah membuat permusuhan baru denganku!" tunjuk Toni mengancam Winda. Perutnya kembang kempis menahan amarah.


Winda tetap tenang tak ada rasa takut sedikitpun juga.


"Ei..., Toni bukankah ini yang kamu inginkan dan kita ini mitra, bahu membahu membereskan musuh kita satu persatu!" ucap Ghazan mengingatkan Toni.


"Aku membayarmu menyingkirkan orang-orang yang menghalangiku mendapatkan morrin, tapi nyatanya kalian membunuh bukan yang aku suruh! Kalian semua licik tidak profesional dalam bekerja!" ucap Toni kecewa.


"Sekarang kita bukan mitra lagi, tujuan utamaku adalah membereskan orang-orang yang menghalangi keinginanku termasuk kalian!" tunjuk Toni.


"Apa bisa Toni, kamu membereskan kami. Kalau bisa silahkan, it's okey!" tantang Ghazan.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2