
Ada angin segar meniup dada Ghazan, begitu Zalu berlalu membawa Winda kerumah keluarganya.
Sedang Hadi yang sudah terlebih dahulu berada di rumah sakit dalam penanganan dokter.
Roman, Morrin dan Nadira tampak duduk bertiga menunggu keterangan dokter.
Tidak beberapa lama dokter keluar dari ruang perawatan Hadi.
"Dokter, bagaimana keadaan teman kami!" tanya Roman. Mereka serentak berdiri bertiga.
"Siapa keluarga pasien?!" tanya Bu dokter yang menangani luka Hadi.
"Saya adiknya, " timbal Morrin cepat.
"Ada luka dalam di dadanya. Tapi, sudah saya tangani dan sekarang sudah sadar. Untung saja cepat dibawa kemari!" kata Bu dokter menjelaskan Morrin.
"Bu dokter kami bisa melihat pasien!" tanya Nadira.
"Bisa! Tapi jangan terlalu banyak. pasien tidak boleh berbicara, dan biarkan dia lebih banyak istirahat!" kata dokter menasehati mereka bertiga.
Sementara di rumah Roman, tampak Bu Marisa semakin gelisah menunggu putranya yang tidak ada pulang sejak pagi.
Dia tampak keluar-masuk dari dalam rumahnya. Gerbang pintu terbuka. Terlihat Didin sedang membukakan pintu gerbang bosnya yang baru saja pulang.
__ADS_1
Marisa menyambut suaminya, yang pulang tidak seperti biasanya. Dia menahan kegundahan hatinya yang marah, benci, kecewa campur jadi satu.
Tapi, Marisa berusaha tenang menyambut suaminya yang baru datang,
"Malam, pak!" sapa Marisa dengan senyum pahit terasa sesak di dadanya mengambil koper kerja yang di bawa pak Rifky.
"Assalamualaikum!" ucap pak Rifky menyambut tangan Marisa yang mengulurkan tangannya.
"Maafkan aku telah membuatmu kecewa!" kata pak Rifky melangkah menuju sopa merebahkan tubuhnya melepaskan lelah.
"Bapak tidak mengerti perasaanku sebagai ibu!" kata Marisa duduk meletakan koper yang dipegang di atas meja.
"Roman itu sudah dewasa. Dia bisa menentukan jalan hidupnya!" timbal pak Rifky pada bu Marisa.
"Sudahlah ma..., biarkan saja Roman menentukan pilihannya, jangan kau kekang dia dengan kemauanmu!" ucap pak Rifky menasehati bu Marisa.
Bu Marisa bukannya sadar mendengar suaminya, malah tensi darahnya tegang naik memuncak.
"Dimana kita taruh muka kita pak! Roman putra bangsawan, darah biru. Dari seorang pengusaha besar..., bisa memiliki pendamping hidup wanita rendahan!" tolak Bu Marisa menentang ucapan suaminya.
"Ma..., pikiranmu sudah tidak jamannya lagi. Sudahlah! Aku tidak mau berselisih paham dengan kamu!" kata pak Rifky bangkit berdiri meninggalkan Marisa.
Pak Rifky sudah paham betul karakter istrinya yang tidak mungkin bisa diselesaikan dengan cara bantah-bantahan.
__ADS_1
Adiknya saja sudah lama pergi meninggalkannya karena menolak pria yang tidak masuk dalam keinginannya.
Tapi, Lui adiknya Marisa masih kerja di perusahaan Satria corp tanpa sepengetahuan Marisa sampai sekarang.
Dan itu permintaan dari Lui sendiri, dan pak Rifky tidak berani membongkar rahasia ini.
Marisa memandang suaminya dengan degup jantung yang berdetak keras seakan sopa tempat duduknya seperti di telan bumi.
Marisa tidak habis pikir, kenapa suaminya selalu menentangnya. tidak memberikan jalan keluar, agar dirinya dengan putranya tidak berselisih paham.
Ditempat lain Zalu sudah sampai di kediaman orang tua Winda. Dia mengetuk pintu rumah orang tua Winda dengan perasaan hati kurang enak.
"Permisi..., ada orang di dalam!" tanya Zalu sambil mengetuk pintu yang tertutup rapat.
Zalu berdiri menunggu pemilik rumah keluar menemuinya.
Sreeeet....
pintu rumah Winda terbuka. "Malam Bu...!" sapa Zalu dengan sopan terhadap wanita di depannya.
Wanita yang di sapa dengan sopan oleh Zalu ternyata tidak menjawab niat baik Zalu. Malah perempuan itu terkejut kaget melihat seorang laki-laki berbadan tinggi kurus berambut kriting di hadapannya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1