
Hati pak Rifky merasa lega setelah diceritakan oleh Hadi dan Lui. Dia berharap Roman segera membawa ibunya pulang dan berkumpul kembali.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah adanya undangan pernikahan yang tidak diketahui asalnya dari mana karena disurat undangan itu nama yang tidak dikenal.
Karena ini adalah undangan pernikahan maka mereka harus menghadiri pernikahan ini, agar yang sedang berbahagia ini tidak kecewa.
🔥🔥🔥
Roman yang menugaskan pak Saipul untuk mengurusi pernikahannya masih duduk menunggu kedatangan Ghazan dan Winda.
Sampai sekarang orang ditunggu belum juga tiba sampai Oleng datang membawa makanan dan minuman yang disuruh Roman.
Oleng datang dengan membawa seorang tabib untuk mengobati teman-temanya yang sakit. Oleng juga manusia tidak tega melihat mereka kesakitan.
"Rom, ijin aku membawa seorang tabib. Kasihan, kami perlu penanganan pengobatan!" kata Oleng.
"Tidak apa-apa, bagikan makanan dan minuman itu baru pak tabib mengobati," kata Roman.
Oleng membagikan teman-temannya makanan dan minuman yang dibeli dan mereka semua makan dengan lahap.
usai makan satu persatu mereka diurut dan di oleskan obat yang dibawa pak tabib. Oleng dan Roman membantu mengoles dan mengobati Zalu dan teman-temannya.
Pak Ridwan dan pak Aini yang menculik ibunya Roman dari awal Roman masuk mereka sembunyikan wajahnya.
"Kamu sini!" kata Roman memanggil pak Ridwan dan pak Aini.
"Kamu tidak perlu sembunyikan wajahmu! Sampai kiamat wajah kalian berdua tidak akan kulupakan!" kata Roman.
Wajah Pak Ridwan dan pak Aini tampak pucat. "Maafkan aku, aku hanya menjalankan tugas!" kata pak Ridwan.
"Hari ini kamu ku maafkan. Tapi, tidak maaf untuk yang kedua kalinya." kata Roman mengingatkan pak Ridwan dan pak Aini.
Ada perasaan malu bersarang dihati mereka berdua. Orang yang diculik ibunya bukannya menghabisi mereka berdua malah membantunya dari kesulitan. Sekarang tubuh mereka yang sakit dioleskan obat dan diurutkan.
Pada saat Zalu dan teman-temannya menikmati olesan obat ditubuh mereka dan nikmatnya tubuh yang di urut terdengar sebuah mobil datang dan berhenti diluar.
Serentak seluruh teman-teman Zalu dan Barra tegang dan kaget. Oleng yang mau keluar menghindar dicengkram lengan kirinya oleh Roman.
Pertarungan hebat pasti tidak dapat dihindarkan, kata hati mereka. Mereka tidak mungkin bisa membantu sebab mereka masih terluka.
Dengan perlahan Ghazan dan Winda mendorong pintu dan langsung masuk.
Braaak!
Begitu Ghazan dan Winda didalam pintu langsung ditutup Roman.
Kreks!
Buuus!
Kerah baju Ghazan dicengkram kuat oleh Roman dan Winda didorong sampai terduduk.
__ADS_1
"O? Tampaknya kamu juga sedang terluka!" kata Roman.
Buuus!
Roman juga didorong dan terduduk didekat Winda.
"Lihat! seluruh orang-orang ini terluka lemah dan kelaparan, sementara kalian berdua bersenang-senang diluar sana!" kata Roman menatap Ghazan dan Winda Geram.
"Ingat, Winda! kedua orang tuamu sedang ketakutan disana!" kata Roman.
Winda langsung berdiri hendak mencengkram Roman.
Buuus! Winda kembali didorong hingga terduduk kembali.
"Kembalikan kedua orang tuaku!" teriak Winda.
"Apa?" ejek Roman tertawa.
"Jangan libatkan kedua orang tuaku!" teriak Winda dengan mata melotot kaget seperti orang gila.
"Hah!"
Roman tidak mau lagi berbaik hati kepada Wanita yang telah menculik mamanya, makanya matanyapun lebih tajam melotot memandang Winda.
"Betina binal! mamaku sedang terpuruk dirumah sakit, kamu culik! Kamu pikir dirimu siapa?" tatap Roman tampak geram.
"Dia telah membunuh kakakku!" timbal Winda.
"Jaga mulutmu!" bentak Winda tampak tidak takut.
Roman perlahan menggeser kakinya mendekati Ghazan dan Winda.
"Lain kali kalian culik mamaku dan ganggu keluarga, aku tak akan main-main lagi. Aku memiliki uang triliunan rupiah untuk memenjarakanmu seumur hidup atau hukuman mati!" bisik Roman perlahan dengan tatapan mata yang sangat benci.
"Kamu punya apa? untuk melawanku!" sambung Roman.
Winda duduk menunduk lemas mendengar ancaman Roman. Dia mengakui kalau Roman bisa melakukan apa saja karena dia punya materi yang lebih dari pada cukup.
"Kembalikan smart phone Nadira yang kamu culik kalau mau ibumu bebas!" kata Roman.
Winda mendongakkan wajahnya, matanya serius menatap Roman. Semudah itu permintaan Roman untuk menukar kedua orang tuanya untuk dibebaskan.
"Oleng, ambil smart phone nadira dimobil!" perintah Winda menyodorkan kunci mobilnya.
Oleng keluar mengambil smart phone milik Nadira di mobil dan kembali dengan membawa smart phone Nadira, diberikan kepada Roman.
Tampak banyak bicara Roman pergi meninggalkan mereka semua setelah mendapatkan smart phone Nadira.
Winda tidak protes dan banyak tanya kapan kedua orang tuanya dibebaskan karena dia yakin orang tuanya pasti dikembalikan sebab dia tahu Roman bukan penjahat seperti dirinya.
...----------------...
__ADS_1
Di kediaman Nadira bu Marisa sudah mulai berbicara dengan Masturi yang kelihatannya sudah membaik.
"Mama senang lihat kamu makan banyak!" kata bu Marisa mengoles tangan kanan Masturi yang mulai berkurang warna biru ditangannya.
Tampak jari-jari bu Marisa yang duduk disampang bu Adelia mengoles tangan Masturi perlahan.
Sedang pak Sumarto istirahat didalam lebih banyak mengurung diri.
"Mama juga makan yang banyak!" balas Masturi.
Nadira kelihatan sedih melihat bu Marisa yang tidak mengingat dirinya. bu Marisa yang dulu tegas dan sangat dihormati dan ditakuti kini duduk bersama orang biasa.
Nadira tidak bisa membayangkan sekiranya bu Marisa telah ingat kembali siapa dirinya, maukah dia seperti ini duduk dengan orang biasa?.
"Salamu'alaikum!"
Nadira tersentak kaget mendengar salam saat membayangkan bu Marisa teringat siapa dirinya.
"Wa'alaikumsalam! Dari mana saja kamu keluyuran siang-siang begini!" sambut sapa Nadira tampak kesal.
"Jangan cemberut gitu dong!" pinta Roman didepan ibunya, ibu Adelia dan Masturi tanpa Malu-malu.
"Ih, siapa cemberut? Nanya doang!" timbal Nadira.
"Aku carikan kamu baju gaun pengantin! Ada teman ngundang kita untuk menghadiri pernikahannya!" kata Roman.
"Kenapa baju pengantin! Memangnya yang nikah kita?!" tanya Nadira.
"Sipengantin permintaannya baju yang kamu pakai harus sama?" kata Roman.
"Kenapa? Harus sama?!" tanya Nadira.
"Karena kamu salah satunya yang ditunjuk untuk mendapaingi pengantinnya." kata Roman.
"Ya, sudah! bajunya mana?" tanya Nadira.
"Nanti hari rabu diantar kemari!" jawan Roman.
"Lah! Jadi nyari bajunya gimana?, sih! Aku tidak ngerti!" kata Nadira bingung.
"Yang nyarinya aku? Tapi udah ku antar kepengantinnya!" kata Roman.
"Dari tadi pengantin, pengantin melulu. Siapa? sih nama pengantinnya!" tanya Nadira lagi, telinganya seperti ribet mendengar Roman.
"Anu, e..., Dhasa ariani!!" kata Roman asal sebut. Hampir saja ketahuan bohong.
"Kalian kapan nikahnya?" celetuk bu Marisa mendengar dua anak muda didepannya.
Nadira deg-degan mendengar kata yang bakal jadi mertuanya. Dan berhayal kalau dia yang menikah nanti betapa indahnya dunia ini, Nadira melamun membayangkan hari bahagia itu.
💜💜💜💜💜
__ADS_1
BERSAMBUNG.