
Morrin minta ikut melihat-lihat apartemen yang mereka tempati.
Tapi karena ini hanya alasan untuk membantu Nadira dan Hadi yang sedang bertarung dengan sekelompok penjahat yang mau membunuh Nadira. Maka Roman mencari alasan agar Morrin tetap didalam tidak boleh keluar kemana-mana
"Tak usah sayang, aku belum mengenal keamanan wilayah ini. Untuk sementara kamu tidak boleh keluar kemana-mana!" larang Roman.
Roman membujuk dan menjelaskan Morrin sampai Morrin bersedia ditinggal sebentar dan berada didalam kamar sampai Roman selesai melihat suasana apartemen.
Roman pergi meninggalkan apartemennya, dengan penjagaan yang ketat. seluruh petugas keamanan di apartemen itu di minta agar menjalankan tugasnya dengan baik.
Roman langsung menuju tempat pertarungan Nadira dan Hadi.
Ghazan dan anak buahnya berusaha melumpuhkan Nadira dan Hadi. Tapi yang membuat hati Ghazan bertanya-tanya adalah mengenai Nadira yang mengetahui perihal dirinya.
Karena kepikiran dengan kata-kata Nadira, Ghazan jadi lengah dan menjadi peluang bagi Hadi melepas pukulan telak ke dadanya.
Buuuks...,
Ghazan terpental tiga meter dari tempat berdirinya akibat Sambaran pukulan tangan Hadi.
"Bajingan, tunggu pembalasanku! Iyaaat...," Ghazan menyerang Hadi tanpa ampun.
Satu, dua pukulan dapat dihindari oleh Hadi. Namun karena serangan datang dari berbagai arah, ditambah serangan mematikan dari Ghazan, membuat Hadi lama kelamaan kewalahan.
__ADS_1
Maka, satu pukulan telak mengenai pipi atas Hadi dari anak buah Ghazan.
Plak...!
Hadi terguling-guling diatas tanah. Melihat suasana menguntungkan, kesempatan itu tak di sia-siakan oleh Ghazan dan anak buahnya.
Akhirnya, Hadi menjadi bulan bulanan Ghazan dan anak buahnya
Beda dengan Nadira yang bertarung dengan Winda. Sepertinya berada diatas angin, karena Winda tak ada apa-apanya bagi Nadira.
Nadira sudah terbiasa bertarung di berbagai tempat di seluruh dunia. Sedangkan Winda adalah perempuan lokal yang hanya memiliki pengalaman disekitaran Jabotabek.
Nadira yang melihat Hadi sedang menjadi bulan- bulanan Ghazan dan anak buahnya. Segera mengakhiri pertarungan dengan Winda.
Uhg..., Winda memuntahkan darah dan terkapar...
Secepat kilat Nadira melompat membantu Hadi.
Hiyaaat.... tendangan beruntun dilepaskan kepada anak buah Ghazan. Dan membuat tiga anak buah Ghazan langsung berjatuhan.
Pada saat seru-serunya Nadira berusaha membantu Hadi. Bu Marisa yang sudah tidak bisa mengendalikan perasaannya menelpon pak Rifky di kantor perusahaan Satria Corp.
"Halo, ma.... Ada apa?" jawab pak Rifky menerima telpon dari Marisa istrinya.
__ADS_1
"Pak! Roman belum pulang sampai sekarang! Gimana ni...," tanya Marisa marah-marah.
"Ma..., aku sedang sibuk. Jangan ganggu aku akh!" timbal pak Rifky sedikit jengkel pada Marisa.
"Hey, pak.... Aku dibikin pusing oleh putramu. Aku ini mamanya, diperlakukan seperti ini dan dia tak mau mendengarkan aku!" teriak Bu Marisa tambah keras.
"Yang bikin pusing itu kamu, bukan anakmu!" jawab pak Rifky langsung mematikan hand phonenya.
Para karyawan yang mendengar oner nya bertengkar dengan istrinya tak dapat berbuat apa-apa. Semua terdiam pura-pura sibuk dengan kerjanya.
Sedang Toni yang dalam perjalanan pulang. di dalam mobilnya tersenyum sendiri membayangkan, kalau Nadira sekarang sedang sekarat dihajar Ghazan.
"Berani menghalangi Toni, tahu sendiri sekarang akibatnya " guman Toni dalam hati.
"Kalau si Nadira sudah beres. tinggal si sopir brengsek itu. Dasar..., miskin. Cari muka, puuu'ah!" lanjut Toni meludah.
Toni tidak tahu kalau Hadi juga sedang sibuk bertarung meladeni Ghazan pembunuh bayaran yang disewa Toni.
Dan, di arena pertarungan Hadi sudah mulai bangkit lagi bertarung membantu Nadira.
Baru saja Ghazan hendak menghajar Nadira dan Hadi.
Tiba-tiba, seorang pria bercadar datang membantu Hadi dan Nadira.
__ADS_1
BERSAMBUNG.