
Lama kelamaan Winda paham dengan cara bertarungnya Ogang yang menyerangnya. Ogang tampak timbul gairah birahinya, maka Winda Pun menawari keinginannya dengan tujuan lebih gampang menghabisinya.
"Kalau kepingin disana yok!" kata Nadira menawari Ogang.
Ogang yang di tawari senangnya luar biasa, "Benner nih...," tanya Ogang terperangah dengan mata genit jelalatan.
"Benner..., yok ikuti saya," ajak Winda menawari Ogang.
"Yok!" timbal Ogang langsung mengikuti Winda yang berjalan menuju arah kebun kelapa milik orang.
Pada saat semua kawan-kawannya bertarung Ogang justru menyudahi pertarungan karena di tawari memenuhi hasrat nafsunya serta Barra dan Yayan saling kejar mengejar.
Satu kilo dari pertarungan mereka, Kokon yang bertugas memantau kedatangan polisi melihat dari jauh ada rombongan polisi menuju arah mereka yang bertarung. Kokon cepat-cepat melapor kepada Ghazan.
Ghazan yang masih berhadapan dengan Tarzan mundur beberapa langkah karena ada telpon dari Kokon. "Halo Kon gimana?" tanya Ghazan sambil tetap siaga memantau serangan Tarzan.
"Gawat bos! Polisi datang menuju arah perkelahian!" lapor Kokon.
Ghazan memerintahkan anak buahnya untuk kabur karena polisi datang, "Kawan-kawan kabur polisi datang!" perintah Ghazan.
Perkelahian terhenti karena polisi datang, mereka semua kabur. Tetapi banyak anak buah Ghazan yang tidak kuat untuk kabur karena mereka terluka parah.
__ADS_1
Pada saat melihat pertarungan terhenti Winda mendengar polisi datang, disanalah Winda menghajar muka Ogang dengan keras hingga terjerembab jatuh lalu pergi meninggalkannya masuk kedalam mobil dan kabur.
"Anjing betina, tunggu pembalasanku. Akan ku goyang milikmu di atas ranjang, sampai kamu ngampun merintih-rintih!" teriak Ogang sumpah serapah Winda dengan muka lebam.
Sedangkan dari anak buah Toni hanya Yayan yang tertangkap karena tidak mengetahui kedatangan polisi. Polisi datang pada saat mereka berdua saling kejar, tak ampun lagi keduanya pun langsung disergap.
Dalam setiap mereka bertarung Ghazan pasti akan menugaskan salah seorang untuk berjaga-jaga agar lolos dari penangkapan polisi.
Sementara di tempat lain, Hadi yang meminta Nadira untuk menjemputnya sudah tiba.
"Di, ada apa? Sih sampai maksa banget. Padahal aku pasti datang setiap kamu memerlukan ku!" tanya Nadira heran sangat penasaran sekali.
"Ada apa sih!" gerutu Nadira yang belum mendapat jawaban jelas dari Hadi.
"Pak Bisri..., masuk!" panggil Hadi mengajak pak Bisri naik kedalam mobil Nadira.
"Di..., apa apa an ini?" seru Nadira tidak mengerti menyuruh seorang pria naik kedalam mobilnya.
"Udah..., nanti ceritanya!" timbal Hadi memapah Pak Bisri masuk kedalam mobilnya, dan Hadi duduk didepan.
"Yok jalan!" ajak Hadi setelah duduk didepan samping Nadira sambil memandang Nadira.
__ADS_1
"Diakan anak buahnya Ghazan?! ketus Nadira tidak suka setelah tahu siapa yang naik masuk kedalam mobilnya.
"Dengar Nadira! Judes banget, dia adalah saksi kunci terbunuhnya Morrin!" kata Hadi memberitahu Nadira.
"Apa? Srreeeet ...," tampak Nadira langsung ngerem mendadak kaget mendengar ucapan Hadi.
"Tenang Nadira, jangan sok! Ayo jalan nanti saya cerita!" pinta Hadi memperbaiki duduknya.
Sambil jalan Hadi menceritakan semua perjalanan ceritanya yang dilengkapi oleh pak Bisri dari awal sampai akhir kepada Nadira.
Nadira Geleng-geleng kan kepala, "Sebegitu encernya kepala Winda memperoleh pemikiran seperti itu, untuk membunuh Morrin agar terhindar dari tuduhan pelaku pembunuhan!" ucap Nadira Kagum.
"Sampai sekarang kita tidak tahu di mana keberadaan Roman!" kata Nadira.
"Nah, itu lagi. Tanpa dia kasus ini akan lamban!" timbal Hadi.
"Mudah-mudahan Roman muncul!" ucap Nadira berharap sangat.
Yang menjadi pemikiran Hadi saat ini juga adalah dimana menempatkan pak Bisri agar tidak terendus oleh Ghazan dan anak buahnya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1