
Bagaimanapun juga virus itu sangat cepat menular, lambat laun pasti akan menjalar juga. "Assalamualaikum!" sapa Maryam pagi sekali masuk membawa sarapan pagi untuk Morrin..
"Wa'alaikum Salam!" jawab Morrin acuh tidak mau memandang Maryam. Adapun Morrin menyahut dikarenakan Maryam masuk memberi salam dan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk menjawabnya.
"Bos meminta kamu untuk sarapan!" kata Maryam meletakkan makanan dan minuman diatas meja kamar Morrin. Para pelayan itu tampak bersih dan rapi, kedua tangannya menggunakan sarung tangan agar virus di tubuh mereka tidak menular ke tubuh Morrin.
Morrin tetap acuh, tampak raut mukanya mencerminkan tidak suka pada semua pelayan yang melayaninya,
"Katakan sama bosmu! Aku tak akan sarapan sebelum dia memberi alasan kenapa aku di culik!" bentak Morrin sinis.
Maryam sangat terkejut mendengar ucapan Morrin. Ternyata Morrin di culik juga sama seperti dirinya.
"Dalam hal ini, kami tidak berani ikut campur. maafkan aku!" jawab Maryam ketakutan.
"Sekarang dimana bosmu!" tatap morrin tajam.
"Sampai sekarang aku tidak pernah melihat wajah mereka!" tutur Maryam.
"Apa?" ucap Morrin terperanjat dengan suara pelan.
__ADS_1
"Aku dan dua temanku di culik juga sama seperti nona!" tutur Maryam.
Morrin sangat terkejut dengan penuturan Maryam, bingung dan tidak mengerti apa tujuan mereka menculiknya.
Malahan para pelayan perempuan ini tidak pernah melihat wajahnya. Sebab saat diculik, mereka semua bercadar. Lalu mereka dipekerjakan, di beri gaji dan di tinggal pergi.
Maryam sendiri sampai sekarang tidak diperbolehkan bertemu suaminya walau sedetikpun.
"Tadi kamu bilang aku di suruh makan oleh bos!" kata Morrin.
"Anak buah mereka yang bilang begitu!" timbal Maryam menjelaskan Morrin.
Mulai saat ini dia harus makan dan minum untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Sehingga ketika ada kesempatan kabur, maka dia akan memiliki tenaga untuk melakukannya.
Tiga hari sudah Morrin ada dalam sekapan. Tak ada kesempatan untuk kabur, penjagaan sangat ketat. bayang-bayang ketakutan mulai dirasakan. Dia menangis, degup jantungnya berdetak. Bola matanya mulai bengkak karena menangis. Yang menjadi pikirannya adalah kedua orang tuanya pasti terkejut dengan ketiadaannya.
Sedang Ghazan dan Winda yang menculiknya tampak asyik berdansa di sebuah diskotik, "Kira-kira Morrin sudah tertular belum!" tanya Winda sambil goyang erotis menggairahkan memegang pundak dan pinggul Ghazan.
"Kayaknya sudah, soalnya sudah tiga hari dia kumpul dengan pembawa virus itu!" jawab Ghazan yakin.
__ADS_1
"Virus ini tidak tunggu jam tapi menit apalagi mereka sudah tiga hari kumpul bersama atau mungkin dia sudah jadi mayat!" bisik Winda.
Mereka terus menari mengikuti irama. Bergembira sambil mengkhayal membayangkan kekayaan triliun milik Roman.
Dia membayangkan akan menjadi istri orang kaya, hidup berdampingan dengan pemuda tampan seperti Roman.
Winda juga membayangkan masa indah pernikahan yang meriah. Ketika semua itu sudah di genggamannya Ghazan baru di singkirkan.
Demikian pula dengan Ghazan hatinya merencanakan kalau Roman sudah menikah dengan Winda. Dia akan menyuruh Winda memindahkan seluruh aset kekayaan Roman kepadanya. Kalau semua semuanya terlaksana Roman didepak keluar dari perusahaan miliknya.
Sampai irama musik selesai mereka berdua mengkhayal melamunkan rencana niat jahat mereka.
"Tapi kok tak ada laporan dari mereka!" kata Ghazan menarik Winda untuk duduk istirahat.
"Jangan jangan mereka semuanya kena dan menjadi mayat!" timbal Winda berjalan mengikuti Ghazan dengan berpegangan tangan melewati beberapa orang yang masih dansa.
Sambil bersenang-senang di bar mereka menunggu kabar kematian Morrin dari anak buahnya, tapi masih tak ada kabar itu di dapatkan.
BERSAMBUNG.
__ADS_1