PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
MENGUAK TABIR KEBENCIAN


__ADS_3

سَلَمُ اَلَيْكُمْ وَزَحْمَةُ اللّٰه


"Salamualaikum warohmatullah...,"


سَلَمُ اَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللّٰه


"Salamualaikum warohmatullah!"


Haydar mengucapkan salam mengakhiri sholatnya.


Ketika Haydar salam mengakhiri sholatnya, dia mengedarkan pandangannya kebelakang dan didapatkan Morrin berada didekat mbok Tety. Betapa leganya hati Haydar mendapatkan Morrin mau ikut sholat berjamaah bersamanya.


Lalu Haydar melanjutkan dzikir dan do'a. Lagi lagi Morrin tersentuh hatinya mendengar Haydar melapalkan doa yang dipanjatkan kepada Allah.


Bukan hanya Morrin, Pejaspun meraung menangis tak kuasa membendung air matanya mendengar indahnya alunan doa yang dipanjatkan Haydar.


وَ صَلَّي اللٰهُ علَي سَيِِّدِنََا مُحَمَّدِ وَعََلَي اََلِهِ وَصَحْْبِهِ وَ سَلَّمَ


وَالْحَمْدُ اِللَّهِ رَ بِّ الْعَالَمِيْنَ


"wa shallallahu ala sayyidina muhammadin wa ala alihi wa shohbihi wa sallam. walhamdulillahirrobbil aalamiin"


Haydar mengakhiri doanya dan menoleh kearah Pejas yang masih menutup wajahnya.


Haydar terdiam sesaat dan menarik napas dalam dalam sambil melirik kearah Morrin yang juga tampak mukanya basah seperti juga menangis, guman Haydar dalam hati.


Batin kecilnya, Haydar berharap Morrin cepat menyadari pikirannya yang salah dalam menuduh dirinya bagian dari orang yang menculiknya.


"Pejas...!"


perlahan dan sangat hati hati Haydar mencoba meluluhkan Pejas yang masih menutup mukanya.


"Sudah cukup lamakah kamu meninggalkan sholat?" tanya Haydar.


"Iyah!"


Pelan, hampir tidak terdengar Pejas menjawab pertanyaan Haydar.


"Kalau boleh tahu siapa namamu yang sebenarnya?!" tanya Haydar lagi. Sebab dia yakin Pejas bukanlah nama yang sebenarnya.


Pejas mengangkat kepalanya perlahan memandang Haydar lalu menunduk lagi.


"Namaku Muhammad Tabiin!" kata Pejas setelah terdiam cukup lama.

__ADS_1


Haydar memandang Pejas penuh wibawa sedikit sentuhan kearaban. Membuat Morrin jadi yakin kalau Haydar bukanlah kelompok Ghazan dan Winda yang dituduh selama ini.


"Namamu sangat bagus! Aku yakin orang tuamu yang memberimu nama, sangat berharap kalau kamu kelak jadi orang yang bukan hanya pandai membaca al qur'an saja. Akan tetapi dia berharap kamu bisa mengajak umat untuk dekat dengan Allah dengan ilmu agama yang kamu miliki!" kata Haydar.


Kembali Pejas memandang Haydar sambil bercucuran air mata.


"Surat yang kamu baca ketika sholat tadi semuanya aku mengerti isi kandungannya, demikian pula doa usai dzikir tadi!" ucap Pejas menatap Haydar dengan wajah sedih. Tatapannya penuh dengan penyesalan


"Dari TK sampai perguruan tinggi pendidikanku semuanya dipesantrenan. Tapi, Allah memberiku cobaan yang tidak bisa kupikul hingga saat ini," lanjut Pejas berusaha menahan kepedihannya.


"Lalu kamu lampiaskan kekesalanmu?Jadi preman?!" tanya Haydar.


Pejas anggukan kepalanya dengan perlahan.


"Kalau boleh tahu, apa? itu. Ceritalah!" pinta Haydar penuh harap. Padahal Pejas baru dikenal tadi pagi.


"Kedua orang tuaku tewas dalam sebuah perampokan!" jawab Pejas tertunduk lesu.


"Innalillahiwa innailaihi rojiun..., aku minta maaf Pejas!"


Haydar tampak merasa bersalah atas pertanyaannya.


Morrin yang menyimak cerita orang yang belum dikenalnya ini!, semakin menyadarkan dirinya dan berkeyakinan kuat kalau Haydar bukan orang yang seperti disangkakan.


"Morrin...!, Saudara kita ini namanya Pejas! Kami temukan dia tadi pagi diwarung dengan sangat memprihatikan!, dua hari dua malam dia tidak makan, dan baru dikalahkan bertarung dengan anak muda yang cukup tampan! Menurut cerita kelor!" kata Haydar mengalihkan pembicaraannya.


"Pemuda yang mengalahkannya adalah juga seorang preman yang tidak diketahui namanya. Dia hanya tahu nama gengnya! Kalau tidak salah namanya street hooligans." kata Haydar memperkenalkan Pejas kepada Morrin.


Pejas sangat terkejut mendengar Haydar menyebut nama Morrin, Namanya sangat mirip dengan nama yang menyuruhnya menjambret smart phonnya Nadira disupermarket beberapa hari yang lalu.


"Namanya Morrin!" sela Pejas keceplosan tak sadar.


"iya! Kamu mengenalnya?" tanya Haydar.


"Tidak! Namanya mirip dengan orang yang menyuruhku menjambret smart phonenya Nadira!" jawab Pejas.


"Nadira? Siapa dia?" tanya Haydar asal ngomong. Karena dia sebenarnya tidak tertarik.


menanyakan hal hal seperti itu.


"Dia adalah pacar pria yang mengalahkanku bertarung!" jawab Pejas.


Morrin yang mendengar nama Nadira disebut jadi terkejut. Nadira adalah orang yang berjasa besar dalam menjalinkan hubungannya dengan Roman. Dia yang selalu menemaninya ketika Roman sekolah di Amerika, yang menjadi motivasi dalam menyemangatinya disaat saat dia merindukan kekasihnya Roman.

__ADS_1


Siapakah kekasih Nadira? senyum tipis menghiasi bibirnya dan terlihat oleh Haydar. Haydar yang melihat ada senyum pada bibir Morrin girang hatinya luar biasa. Baru kali ini dia melihat Morrin tersenyum selama dia bertemu dengannya.


Betapa bahagia rasa perasaan Morrin yang mendengar Nadira sudah punya pacar. Ingin rasanya cepat cepat pulang dan memberi semangat serta mengucapkan selamat berbahagia kepadanya.


Rasa Rindu kepada kekasihnya Roman perlahan mulai menggetarkan hatinya.


Ibarat dram yang ditabuh dramernya dengan pelan, lalu sedikit demi sedikit dipukul semakin keras, dan tambah keras sesuai irama alunan musiknya.


Semakin lama semakin keras getarannya itulah irama bergatarnya hati Morrin saat ini.


"Seperti pepatah yang mengatakan diatas langit masih ada langit!, jadi sejago jagonya kita pasti ada yang mengalahkan!" ucap Haydar kepada Pejas.


Setelah mendengar kata kata Haidar,


Pejas menceritakan semua kejadian yang dialaminya mulai dari dia ditantang oleh pria muda yang tampan yang mengaku geng street hooligans tanpa memberi tahu siapa namanya.


Pejas juga menceritakan alasan anak muda itu menantangnya karena ibunya diculik oleh orang yang bernama Ghazan dan Winda. Dan Windalah orang yang mengaku bernama Morrin yang namanya sama dengan Morrin yang sekarang ada didepannya.


Cerita Pejas! menggentarkan hati Morrin, dan merubah raut mukanya menjadi ketakutan yang menggiring tubuhnya dalam irama ketakutan.


Cerita Pejas sedikit menggambarkan kalau pria yang menjadi pacar Nadira adalah Roman. Namun dia berusaha tenang dan tegar tak mau berspekulasi dulu.


Aku akan cari tahu siapa pria yang menjadi pacar Nadira diwaktu yang tepat, guman Morrin dalam hatinya.


Haydar yang mendengar cerita Pejas menyebut nama Winda dan Ghazan tersentak terkejut sampai tubuhnya reflek mundur kebelakang.


"Ntar dulu Pejas! Ini menarik ini. Tadi kamu menyebut nama Ghazan dan Winda!" kata Haydar menahan cerita Pejas.


Haydar menarik Napas dalam dalam menenangkan dirinya. Sebab, nama yang disebut Pejas adalah namanya sama dengan nama yang sering dituduhan Morrin kepadanya.


"Coba ceritakan siapa sebenarnya Ghazan dan Winda!" kata Haydar setelah merasa tenang.


Pejaspun menceritakan Ghazan dan Winda sepanjang dia ketahui, kalau Ghazan dan Winda adalah sepasang kekasih yang berkomplotan menculik bu Marisa yang merupakan ibunya pacar Nadira.


"Apa tujuannya mencuri ibu Marisa?" tanya Haydar.


"Aku tidak tahu! Yang jelas kedua orang ini adalah penjahat besar, karena menurut cerita yang kudengar Ghazan ini adalah penjahat kaliber dunia dan menjadi buruan FBI!" kata Pejas menjelaskan Haydar.


******


Bersambung.


Okey, gays ikuti terus ceritanya. Sudah tahukah Morrin? Kalau yang diceritakan pedas adalah Roman?

__ADS_1


__ADS_2