PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE TUJUH PULUH TIGA: KECEWA.


__ADS_3

Di rumah 🏠 pak Rifky, Hadi dan Nadira segera beranjak meninggalkan rumahnya, setelah minta pamit terlebih dahulu.


Tampak Restu berlari mengejar mereka sebelum meninggalkan rumah pak Rifky. "Di..., Nadira tunggu!" teriak Restu memanggil keduanya di halaman rumah saat akan masuk mobil.


Dengan tergesa-gesa Restu menyampaikan sesuatu kepada mereka berdua, "Besok ku tunggu di apartemen, akan kutunjukkan kediaman Ghazan dan Winda!" ucap Restu menghentikan Hadi dan Nadira.


"Kamu yakin tahu tempat mereka!" tanya Hadi menatap Restu sungguh-sungguh.


"Sebab itulah aku mengejar kalian!" sahut Restu meyakinkan mereka berdua.


"Secepat itu kamu mengetahui tempat mereka!" kata Hadi penasaran.


"Iya Hadi! Tak ada waktu untuk menceritakannya!" timbal Restu berdiri memandang Hadi.


"Besok kan kamu sudah mulai kerja?!" seru Hadi gelisah.


"Aku akan minta pak Rifky menundanya!" kata Restu seraya melangkah menuju mobilnya.


Restu langsung keluar meninggalkan rumah pak Rifky, di susul Hadi dan Nadira.


Nadira dari tadi diam saja di dalam mobil sekalipun dia mendengar Restu akan menunjukkan tempat kediaman Ghazan dan Winda.


Tadinya dia tidak percaya karena Restu tidak mungkin tahu secepat itu. Tetapi, tampaknya Restu berkata serius tidak bercanda.


"Dira..., maafkan aku dong tidak boleh ngambek begitu!" kata Hadi kepada Nadira yang tidak mau bicara.


"Aku sudah minta alasan Restu, Tapi dia bilang buat kejutan. Juga aku sudah bicara jujur sama kamu!" lanjut Hadi yang menyetir mobil disamping Nadira.


"Aku hanya kecewa saja!" timbal Nadira cemberut.


"Jangan-jangan ada rahasia diantara kalian berdua!" tuduh Hadi memancing reaksi Nadira.


"Apa sih! Aku tidak pernah mikirin cowok!" timbal Nadira ketus. Dada Nadira berdebar, Seakan-akan benar. Jangan-jangan Restu menaruh hati padaku, guman Nadira dalam hati.


"Kamu mau kan, seandainya Restu nembak kamu?!" goda Hadi lagi tambah senang.

__ADS_1


"Is..., sudah ah!" sahut Nadira dengan muka merah. Hadi merasa berhasil menggoda Nadira yang tampak mukanya malu.


Pada jalan raya yang lain, didalam mobil yang di kendarainya Restu membayangi wajah Nadira yang kesal. Ada rasa salah pada dirinya, tapi dia ingin membuat kejutan untuk dia.


Saat tenggelam dalam khayalannya dia melihat dari jauh keluarga Morrin sepertinya sedang menunggu taksi di tepi jalan. Restu menghentikan mobilnya pas didepan mereka dan turun nyamperin mereka.


"Sudah dari mana ramai-ramai, rombongan!" seru Restu tersenyum menyapa pak Imran dan menyalami mereka semua.


"Sudah dari kuburan morrin!" timbal pak Imran terkejut melihat Restu sudah di Indonesia.


"Ayo, naik mobil ini saja! Nanti kita cerita-cerita di dalam mobil!" tawar Restu sambil membuka pintu mobil.


Pak Imran menerima tawaran Restu dengan senang hati, sebab Restu sangat baik pada mereka dan mendukung sahabatnya dengan mendiang putrinya.


"Tinggal aku yang belum mendatangi kubur morrin! Aku turut berduka cita yang sedalam-dalamnya!" ucap Restu sambil menjalankan mobil dengan kecepatan normal.


"Terimakasih atas perhatiannya!" seru pak Imran dengan pandangan mata didepan jalan raya yang dilalui banyak sekali mobil lalu lalang.


"Gimana ceritanya tiba-tiba nongol di Jakarta!" tanya pak Imran.


"Aku melihat meninggalnya morrin di media viral sampai Amerika. Aku kaget, hari-hari merasa tidak nyaman. Akhirnya aku nekad mengambil keputusan berhenti kuliah dan pulang ke Indonesia!" tutur Restu menceritakan pak Imran.


Restu memberi semangat dan tabah menerima kenyataan yang di berikan Allah kepada pak Imran dan keluarganya.


Restu mengajak keluarga pak Imran makan bersama di tempat restauran rumah makan elit di Jakarta.


Sementara Kokon dan Ghazan yang sedang dalam perjalanan menuju Lombok, sekarang berada di sebuah rumah kos tempat tinggal sepupunya yang bekerja di Bali.


"Kenapa kamu tidak meneleponku! Biar aku dapat menyiapkan tempat tinggal yang layak buat temanmu?!" kata Rahman, sepupu Kokon yang telah lama tinggal di Bali.


"Awalnya aku tidak ada rencana pulang! ini hanya mendadak saja!" timbal Kokon tanpa menjelaskan alasannya yang pulang mendadak ke Lombok.


"Besok rencanamu ke Lombok jam berapa?" tanya Rahman.


"Aku maunya sampai di sana tengah malam! Biar tak ada orang tahu kepulanganku!" timbal Kokon.

__ADS_1


"Berarti kamu beli tiket sore hari," kata Rahman yang kelihatan gembira bertemu kerabatnya. Sedang Ghazan hanya bisa mendengar percakapan Kokon dengan Rahman, karena tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh mereka, sebab mereka menggunakan bahasa daerah mereka.


Pagi-pagi sebelum Rahman berangkat kerja, istrinya menyiapkan sarapan pagi untuk tamunya. Juga menyiapkan sarapan kedua anaknya yang masih sekolah di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.


Sedang di Jakarta pagi itu, setelah sarapan pagi sekitar pukul sembilan Hadi menuju apartemen tempat Restu tinggal.


Sampai di sana Nadira sudah datang lebih awal dan sedang berbincang- bincang dengan Wandi. Wandi berlari membuka pintu gerbang membukakan Hadi yang baru datang.


"Assalamualaikum!" sapa Hadi menyalami Nadira dan Hadi. Tampak Nadira masih memperlihatkan muka masam.


Hm..., sampai sekarang dia masih ngambek, guman Hadi dalam hati dan mulai menggodanya. "Wandi!" panggil Hadi melototi Wandi.


"Iya, pak!" timbal Wandi berlari mendekat. Wandi menatap Hadi serius, dia berpikir ada sesuatu yang diminta Hadi untuk dilakukan.


"Kamu apain Nadira sampai mukanya masam begini!" ucap Hadi pura-pura menegur Wandi, Nadira dan Wandi serempak menatap Hadi.


"Dia sudah ada yang punya! Jangan coba-coba godain dia!" ancam Hadi menakuti Wandi.


Pada awalnya Wandi terkejut, tapi dia cepat merespon ucapan Hadi karena dia tahu Hadi pasti nyandain Nadira.


"Aduh..., aduh aduh kupikir apa? Yang cocok godain Nadira..., Iya kamu, bukan saya!" timbal Wandi balik candain Hadi.


"Sama-sama jomblo!" ejek Wandi menyindir keduanya. Bibir Wandi menyebut Jomblo, tanpa ragu-ragu. membuat Nadira hampir tertawa mendengar Wandi yang keceplosan jujur tidak dibuat-buat, bicara apa adanya.


"He..., eh siapa jomblo? Aku kan belum ada waktu kesempatan nembak aja...," bantah Hadi.


"Nembak siapa? Nembak Nadira...," ejek Wandi seraya melirik Nadira.


Diam-diam security ini berani juga nyinggung bosnya. guman Nadira dalam hati, pingin tertawa tapi di tahannya.


Hadi terus berpikir, bagaimana caranya agar Nadira mau buka mulut. Wandi belum mengerti hingga dia nyandain Hadi saja.


"Wandi?" seru Hadi pelan.


"Iya, bos!" timbal Wandi tersenyum tidak serius seperti sebelumnya, sebab hari ini dia sedang move on atas peristiwa kejadian yang menimpa bosnya.

__ADS_1


"Kira-kira, kalau aku nembak Nadira keterima iya?" kata Hadi mencari cara lain untuk membuka mulut Nadira. Terlihat Nadira langsung bereaksi, yes..., aku berhasil, guman Hadi dalam hati.


BERSAMBUNG


__ADS_2