PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE LIMA PULUH TIGA: MEMBURU SAKSI


__ADS_3

"Kalau masalah Bros kita bisa tuduh mereka yang merekayasa!" ucap Winda tidak takut.


"Tergantung kemampuan kita berargumentasi didepan penegak hukum!" Ghazan memperingati Winda agar jangan meremehkan masalah ini.


Ghazan sebenarnya sangat khawatir sekali dengan ditemukannya Bros yang ditemukan dan kecewa dengan kecerobohan Winda.


Lalu Ghazan menanyakan pak Bisri kepada Barra, Zalu dan Kokon. "Kamu apa kendala mu dalam mencari pak Bisri!" ucap Ghazan kepada Barra.


"Aku baru saja di keluarkan dari kantor polisi!" timbal Barra berkelit yang baru saja dibebaskan bersama Yayan.


"Kalian gimana!" tatap Ghazan anggukan kepala kepada Zalu dan Kokon.


"Kendala sih tidak ada bos, cuman pak Bisri tidak banyak orang yang kenal dan kami sudah susuri semua tempat. Tetapi ada satu pemulung yang tahu yang kebetulan lewat dan melihat pak Bisri sedang bertarung dengan seseorang." kata Zalu menjelaskan Ghazan.


"Dimana dia temukan pak Bisri bertarung!" tanya Ghazan.


"Tidak jauh dari Mall Ambassador!" jawab Zalu.

__ADS_1


"Tempat itu kan ramai!" timbal Winda.


"Orang banyak menyaksikan tetapi mereka cuek tak mau ambil resiko." kata Zalu merespon Winda.


"Dengar..., Kalian semua dengar..., dan camkan ini baik-baik. Pak Bisri adalah ancaman besar dalam hidup kita, karena dia satu-satunya orang yang masih hidup dan berperan penting dalam kasus ini. Karenanya kalau kita biarkan dia masih hidup maka kita semua akan celaka!" kata Ghazan dengan mata menyala-nyala dan sangat ketakutan.


"Kami berharap, ada arahan dan solusi dari bos. Arahan yang terbaik!" kata Kokon kepada Ghazan.


"Arahan Ku..., temukan dia sampai dapat, dan kalian lebih tahu dari pada saya. Karena kalian adalah temannya!" kata Ghazan membentak mereka semua.


Dingin sudah mulai merayapi tubuh, pertanda malam sudah mulai larut. Yang memiliki kesibukan esok sudah mendengkur ngorok dalam tidurnya. Dan yang menganggur tidak memiliki pekerjaan lebih memilih begadang keluyuran kesana-kemari.


Ghazan meninggalkan anak buahnya, yang tampak sudah mulai mengantuk. Ada yang menguap saking ngantuk nya dan tertidur ditempat. Namun, masih ada yang pergi membeli makanan dan minuman pada tengah malam seperti ini.


Sedangkan pak Rifky baru saja pamit dari rumah pak Imran dengan kisah yang memilukan karena Roman menghilang.


Di apartemennya Roman pak Bisri berdzikir dan berdoa, mendoakan arwah Maryam istrinya. Tak ada satupun keluarganya dan keluarga almarhumah yang mengetahui kepergian Maryam.

__ADS_1


Termasuk anak kandung mereka, yang tinggal jauh di ujung timur Indonesia sana. Yakni pulau Lombok di mana dia dan almarhumah istrinya di lahirkan.


Saking khusuknya berdoa. Diapun sampai hanyut dalam kesedihan dan penyesalan yang tak ada ujungnya. Hingga dia tertidur.


Sebuah pergerakan yang sangat sempurna, sampai tak terdengar oleh pak Bisri bahwa ada yang bergerak ringan mendekati tempat tidurnya.


Pintu kamar yang ditempati pak Bisri bergerak terbuka pelan. Seseorang berjalan dengan tenang dan berdiri memandang pak Bisri yang tertidur pulas.


Pak Bisri tak sempat mematikan lampu kamar tidurnya, Saking lelahnya dia membiarkan lampu menyala. Tampak pak Bisri menggerakkan tubuhnya berusaha bangun dari tidurnya dan duduk lemah dengan mata masih terpejam.


Pak Bisri tidak menyadari disampingnya seseorang duduk santai memperhatikan nya. Dengan lemah pak Bisri memaksakan dirinya bangun dan berjalan untuk mematikan lampu.


Pak Bisri sedikit tersentak kaget sepertinya dia mendengar ada suara napas didekatnya. Dia membuka matanya dan, tanpa sadar tubuh terdorong kebelakang beberapa langkah.


Sesosok manusia yang sangat dikenali dan dia sakiti saat ini, duduk dengan tenang di samping tempat tidur kamar tersebut. Pak Bisri bersimpuh lemah dan pasrah kalau malam ini malam terakhirnya.


BERSAMBUNG,

__ADS_1


__ADS_2